Celaka 12

Cerpen: Saiful Bahri |
Di bawah cahaya bulan purnama, di mulut kuala, di hamparan empuk pasir hangat pantai Panteraja, kedua dua manusia tua itu bercengkrama, mengurut-urut penggalan kisah hidup yang hampir luput. Angin asin yang berhembus lurus mengiring asing sebuah biduk kecil yang larut melaut. Riak kecil  laut yang tenang bersitkankan bayang jingga bulan tembaga dari balik hutan bakau yang merisau.
Kek Sawang dan Kek Leman sesekali terkekeh ketika kenangan lucu itu kembali mengharu dan melesak-lesak di hati dan mendenyut-denyut di batok kepala mereka. Sungguh baru kemarin terasa itu semua. Bau lumpur payau yang pahit dan kepiting-kepiting kecil yang berlarian riang keliangnya masih menyisakan ceria usia belia. Lalu, kini kemana berlalu semua itu? Sungguh sangat terlalu waktu yang sungguh cepat berlalu.
Maka, inilah dia celaka 12. Celaka di bawah siraman cahaya bulan kala hari ke 12. Celaka ketika tak bisa mengelak, tak bisa menolak. Celaka yang sungguh mencelakakan. Celaka yang tak main-main ketika semua dianggap permainan. Celaka yang mejerat dan melilit, lalu menyeret, lalu membekap, lalu menggorok putus segala bangga yang membanggakan Kek Sawang dan Kek Leman dikelampauan masa lalu yang telah berlalu.
“Leman, inikah akhir kita?”desah Kek Sawang lirih sambil menerawang tinggi menembus cakrawala, melintasi bintang-bintang.
“Akhir? Belum. Ini belum berakhir. Ini bukan akhir?”jawab Kek Leman serak sambil terus melinting rokok daun nipahnya pelan-pelan.
“Jadi?!”
“Ini baru awal. Ini baru coba-coba…”
“Coba-coba?”
“Ya!”
“Coba apa? Coba Siapa?”
“Celaka!”
“Celaka?”
“Kita dicoba untuk celaka. Celaka yang ke 12!”
“Gila!”
“Hmk!”
Tercekat mereka sejenak. Angin terdepak mati. Bulan meremang. Malam bergetar. Laut menguap. Biduk kecil linglung. Harapan kosong. Pikiran-pikiran membusuk. Angan-angan melepuh. Kota-kota tenggelam satu-satu. Kampung-kampung tergadai satu-satu. Janji-janji basi membasi. Mimpi-mimpi lekang merapuh. Gairah tertindih. Langit tergulung. Bumi terlipat. Celaka 12 itu melindas semesta Kek Sawang dan Kek Leman seutuhnya.
Di kedai kopi yang luput digerus malam, lamat-lamat dari radio tua terdengar sebait lagu Ebit G. Ade : “Ini salah siapa, ini dosa siapa….”
Ketika pagi menjelang, Kek Sawang dan Kek Leman gemetar pulang meniti pematang tambak. Tak dihiraukan lagi bau lumpur payau yang pahit menyengat dan gerak riang kepiting memburu liang. Mereka kecewa karena ternyata pagi masih ada. Mereka berharap malam segera merayap lagi, agar mereka dapat bercengkrama lagi. Agar mereka mereguk celaka 12 lagi.
Di ujung sisa usianya, Kek Sawang dan Kek Leman terus meraba-raba makna segala celaka.
 
Aceh | Treinggadeng, 12 Januari 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *