Yang Terhormat Tuan Pencuri

Cerpen : Saiful Bahri |
Sungguh, Pencuri itu telah kami pertuankan! Setulusnya, Pencuri itu telah kami pertuankan!
Kala masa kalut menerpa selingkar batas tanah kampung kami, sesungguhnya kami sangat sadar bahwa Pencuri-Pencuri itu adalah sebenar-benarnya pencuri. Kala masa kalut itu kami diperangkapkan untuk selalu mengingkarkan kepercayaan dan keyakinan kami akan jati diri si Pencuri bahwa ia itu memang utuh seorang pencuri. Kala masa kalut itu kami dipaksa untuk tak secuil pun punya anggapan yang berani-beraninya menganggap-anggap Pencuri itu adalah pencuri. Maka, pada masa kalut itu juga tak sezarrah pun kami bernyali untuk menuding-tuding Pencuri adalah pencuri! Demi keselamatan, pada masa kalut itu kami ingkarkan saja hati nurani kami untuk mengikrarkan bahwa Pencuri bukan pencuri!
Sore hari ini, di atas podium kehormatan di tengah alun-alun kampung, Pencuri itu mengumbar seuntai senyum cerah-ceria. Setengah orasi yang telah ia sampaikan pada rapat akbar itu telah melumerkan hati-hati kami yang membatu, yang pernah mengguriskan bahwa Pencuri itu pencuri, kini berubah seketika untuk mencap beliau itu Pencuri yang bukan pencuri. Kami bertepuk, bersorak-sorai, bersungguh-sungguh mencecap dan menelan kata-kata bertuah yang menggulir begitu cepat dari mulut besar beliau Pencuri yang menurut kami bukan lagi pencuri. Seketika itu juga kami yakin dan berketetapan hati untuk mempercayakan keselamatan dan masa depan kampung kami kepada beliau Pencuri yang bukan pencuri.
“Wahai kalian semua penghuni kampung, saya tahu bahwa dalam hati kecil kalian semua pernah terbersit bahwa asal-usul saya ini adalah dari seorang pencuri dari keluarga para pencuri. Ayah dan ibu saya adalah pencuri. Kakek-nenek dan buyut-buyut saya seketurunan adalah pencuri.  Sungguh sangat legam dan kejam nasib yang telah mempernasibkan saya untuk bernasib pencuri. Tetapi, yakinlah, mulai saat ini saya akan mengikis habis pencitraan yang mencitrakan saya ini Pencuri menjadi saya yang bukan lagi pencuri. Percayalah! Percayalah, perubahan akan segera terjadi…..”teriak beliau Pencuri yang konon bukan lagi pencuri.
“Horeee!!!! Horeee!!!”pekik kami, tetua-tetua seisi kampung sambil terkekeh-kekeh.
“Hidup Pencuri! Hidup Pencuri!”jerit bocah-bocah kami kegirangan sambil menari-nari dan  berlari-lari kecil seputar alun-alun.
Kami membayang-bayangkan sekeping nikmat syurga segera terhampar di ambang pintu kampung pelengkap kesejahteraan masa depan kami satu generasi ke lain generasi. Sungguh sukar kami nalar untuk bisa kami percaya-percayai kalau dulunya kami benci Pencuri, kini berbalik cinta sepenuh hati pada Pencuri. Begitu mudah hati kami terbalik-balik ketika berhadapan dengan janji-janji yang sungguh sangat menjanjikan. Begitu mudah kami lupa, melupakan semua buruk diri dan busuk hati si Pencuri, ketika berhadapan dengan kenyataan yang belum nyata dan entah kapan bisa nyata senyatanya!
Selesai sudah hiruk-pikuk sore itu yang berujungkan eforia sepihak bagi beliau sang Pencuri. Kami penduduk kampung, tua-muda, pria-wanita bergembira ria pulang ke rumah sambil mendendangkan lagu “Gelang sipatu gelang, gelang sirama-rama, mari pulang, marilah pulang…marilah pulang bersama-sama…” Segala gundah sepertinya terobati sudah. Kami melangkah sepertinya tak lagi salah.
Malam hitam menangkup kami dalam mimpi-mimpi indah, seindah janji-janji beliau Pencuri sore tadi. Mimpi itu menyeret kami pada ambang sadar tak sadar untuk mentasbihkan rasa hormat kami bagi kehormatan Pencuri, yang sekali lagi menurut beliau bukan lagi pencuri.     Jalinan mimpi itu begitu kusut menjuntai-juntai batas harap kami, yang mengharapkan segala harap yang telah kami pikulkan ke pundak si Pencuri. Sungguh tak sabar kami mengulur-ulur mimpi manis yang menyiksa ini.
Ketika pagi terkuak, huru-hara telah terjadi. Kampung geger. Penghuni kampung kasak-kusuk dan berlarian tak tentu arah. Kami semua telah kecurian. Kampung kini kosong melompong. Semua telah dicuri. Lumbung-lumbung padi kami, tanah-tanah hibah kami, gedung sekolah, seluruh rumah, jalan pergi, jalan pulang, arsip sejarah kampung, masa lalu kampung dan rencana masa depan kampung,  semua telah dicuri. Gilanya lagi, cita-cita, mimpi-mimpi, siang dan malam kami juga ikut dicuri. Dan yang paling celaka, anak-anak gadis kami, pemuda-pemuda kampung kami, suami-suami kami, istri-istri tercinta kami juga turut dicuri! Tak ada yang tersisa! Kampung kami yang kosong terengah-engah melindas sunyi!
Di beranda rumah mewah di kampung lain, si Pencuri yang bukan lagi pencuri, yang pernah kami pertuan-tuankan, sedang sibuk menghitung-hitung harta curian.
Sabang, 12 Desember 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *