Minggu Terakhir

Cerpen : Saiful Bahri |
Pada sangkaku, Minggu akhir Desember hampir tiga tahun yang lalu itu adalah Minggu Terakhir bagiku. Aku yang rebah, lalu terguling-guling di bumi berguncang-berguncang, lalu pitam, takut, kecut dan gemetar, hingga dalam sempurna gamang tiada daya, semestaku tergulung-gulung, tersaruk-saruk, terseret-seret, terhimpit-himpit, luluh-lantak dalam gelora membara air hitam kental hangat yang datang dari laut belakang kampungku, hingga seketika aku bersangka-sangka : ini dia Minggu Terakhir!
Ternyata itu belum berakhir. Itu bukan Minggu Terakhir. Masih ada dan kulalui lagi minggu-minggu yang lain, yang belum juga berakhir-akhir. Juga hari ini, di saat orang-orang hiruk-pikuk berbenah menyambut Minggu Terakhir, aku kembali terkesiap, tergagap dan tergugup dalam lingkar trauma yang belum pupus. Dingin sekujur tubuhku ketika seorang bocah, kawan kecilku sesama pengemis membisikkan dengan suara yang sangat lirih, “Hari inilah Minggu terakhir!”.
Bagai gila, aku berteriak keras sekali. Tetapi sepertinya teriakanku tak bersuara lagi. Yang terdengar hanya desis-desis tak berarti. Teriakanku menghambur percuma. Agaknya desis-desis itu hanya meruak jadi desas-desus pembenaran bahwa benar ini hari Minggu Terakhir.

 ***

Siang sungguh terik membakar persimpangan segala simpang, ketika aku, seorang kakek  pengemis tua, menebar senyum renyah pada semua manusia. Tak lagi terucap kata menghiba dan punah pula uluran tangan meminta-minta pada diriku. Kutegur dan kusapa orang-orang dengan bahasa-bahasa yang sangat manusia. Kuberi segala senyum yang kupunya, agar semua orang ikut berbahagia, sebagaimana bahagianya diriku pada siang terik ini. Aku mau membagi kembali semua belas kasih — baik yang tulus atau yang terpaksa —  yang telah pernah kuterima dari semua manusia, dengan suatu akhir yang indah.

Ya, akhir yang indah. Seindah makan enak dan tidur nyenyak. Seindah janji-janji kala bersemi cinta pada pandangan pertama, yang terbuai-buai, teralun-alun, hingga hinggap di mimpi-mimpi di malam-malam sunyi. Akhir yang indah, seperti akhir kisah-kisah Abu Nawas dan cerita 1001 malam. Sungguh, aku, pengemis tua, kali ini ingin sesuatu yang unik, yang terbalik. Maka, semakin manusialah senyum-senyuman yang kuterbarkan.
Tetapi sepertinya alam tak sepaham lagi denganku. Cuaca terik mendadak mendung. Dari segala ufuk awan hitam bergulung-gulung mengepung dan menggelantung rendah-rendah di langit-langit kampung, langit-langitkota, langit-langit persimpangan segala simpangku. Hembusan angin panas menderu-deru dan berpusing-pusing cepat sekali, menyeruak jalan-jalan protokol, menyisir lorong-lorong sempit, menerbangkan debu-debu dan bau-bau. Hidup jadi begitu sesak. Amarah-amarah memuncak. Gairah-gairah memuak. Tipu-tipu merebak-rebak. Melesat dan bergulir-gulir begitu cepatnya segala wacana, rencana, format, tata laksana tentang kebenaran, kesucian, kesejahteraan, kemakmuran, gratis biaya pendidikan, gratis biaya kesehatan, puja-puji segala sakral, caci-maki segala sakral! Semua bergolak, semua mencoba mencuat-cuat.
Aku hanya termangu-mangu. Pilu. Kesal, terlalu sering kena tipu.

***

“Apa benar ini Minggu Terakhir?” tanyaku pada Kapitan Pattimura, yang gambarnya tertera pada lembaran uang seribuan yang dilempar kemukaku oleh seorang cukong di simpang itu. Lusuh sekali uang itu, selusuh wajah kotaku yang tak pernah lagi cantik. Kotaku berwajah tua, berselaputkan debu dan jelaga asap kenderaan. Kotaku lelah, selelah diriku meyakini konon katanya ini hari Minggu Terakhir.
Kulelapkan lagi diriku untuk kesekian kalinya dalam alunan debu, nyanyian usang deru kenderaan, kelap-kelip lampu merah-kuning-hijau pacak-pacak persimpangan, sambil kutebarkan kembali berlaksa-laksa senyum pada semesta. Lalu, malu-malu kumaknai diri bahwa aku, pengemis tua, juga punya pusaka trauma yang hingga minggu ini masih melilit dan mencucuk-cucuk benakku tentang tragis Minggu kemarin, hampir tiga tahun yang lalu.
Begitu sempurnanya Minggu hampir tiga tahun yang lalu itu, sesempurna kepergian anak-anak dan istriku, sesempurna jerit terakhir cucu-cucu manisku…
Banda Aceh, 7 September 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *