Musang Berjanggut Lagi

Cerpen : Saiful Bahri |
Perkabungan 1001 purnama mengenang tragedi pembantaian musang berjanggut tunailah sudah di ujung senja hari ini. Konon menurut kisah turun-temurun setelah 1001 purnama berlalu, kutuk serapah musang berjanggut akan tawar hilang sakti. Padahal menjelang nyawa meregang musang berjanggut telah menabur kutuk bahwa pada awal senja masa purnama ke 1001 musang-musang akan ketiban anugerah janggut. Semua bangsa musang akan berjaya dengan janggut-janggut.
Namun hingga tengah malam, hingga purnama utuh sempurna dalam purnama, kutuk itu tak mengutuk. Generasi musang yang berdebar menanti tumbuhnya janggut kesal, sesal dan kecewa.Parapewaris negeri menarik nafas lega, mencoba sedikit tertawa, bersuka ria agak gegap gempita, karena negeri terselamatkan dari ancaman wabah musang berjanggut.
Lena-melena mimpi indah menyaput ubun-ubun anak-anak pewaris negeri yang menghabiskan malamnya dalam tidur yang gerah. Dipojok-pojok negeri, di liang-liang hitam, di selokan dan riol-riol yang tersumbat, di sisa hutan yang mengering, di sela-sela garang batu karang, di loteng-loteng rumah tua, di tumpukan arsip-arsip rahasia, di antara karung-karung beras gudang cadangan, di kolom sempit iklan-iklan surat kabar, di sudut-sudut hati penabir licik berkulum benci; musang-musang tersengat sadar. Sekujur tubuh musang-musang kepanasan. Musang-musang panik. Musang-musang tercekam kecut yang kalut. Panas tubuh musang-musang itu perlahan-lahan mengalir menusuk ke bagian kepala, kemudian mengerucut ke bagian dagu. Hanya sekejap panas itu menyengat. Setelah itu, dagu-dagu mungil itu gatal-gatal enak. Seketika para musang mencoba menggaruk dagunya. Dan alangkah terkejutnya mereka, karena kini di dagunya telah tumbuh janggut.Paramusang terbeliak! Serentak mereka terbahak!
Ketika pagi menyeruak di negeri itu, maka jadilah pagi itu pagi petaka. Anak-anak pewaris negeri termangu-mangu dalam linglung yang lapuk. Ya, lapuk! Lapuklah negeri, setelah musang berjanggut lagi, setelah musang-musang berjanggut lagi! Kejayaan musang berjanggut kini bertengger lagi. Beribu-ribu musang berjanggut membantai ayam, bebek dan biri-biri, mengunyah padi, jagung dan aneka palawija, menghirup darah, minyak dan isi otak, membumihanguskan sisa hutan, kampung kenangan dan kota-kota tua, membawa lari anak-anak dara dan rahasia-rahasia negara, mencabik-cabik sejarah, ambisi dan ilusi. Masa ini masa musang! Musang kini bertahta lagi!
Hari-hari di negeri itu kini selalu berhuru-hara.
Anak-anak pewaris negeri kian termangu.
Linglungnya makin melapuk.
 
Banda Aceh, 7 Juni 2008
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *