Musim Makan Angin

Cerita Mini   :   Saiful Bahri  |
Petuah tua telah merekatkan hikmah akan awal mula semesta musim yang berpusing ganti berganti di kampung kami. Sesungguhnya itu semua telah terbuhul pada sejumput tanah, setetes air, sepercik api dan seraup angin yang melambai-lambai dan menjuntai-juntai disepanjang hidup leluhur kami dari satu zaman ke lain zaman. Bercerminkan musim, kami bagi-bagi sekenanya edaran masa boleh dan masa tak boleh untuk kesini dan kesitu, untuk bisa begini dan jangan begitu.
Akan tetapi berguru pada petuah tua itu juga ternyata tak selamanya berbuahkan suka. Seperti hari ini, kami para penghuni kampung dengan terpaksa harus rela, merela-relakan diri seutuhnya untuk menyambut Musim Makan Angin.
Ya, Musim Makan Angin! Ini dia musim janggal yang tiba-tiba saja tak sungkan-sungkan menggelinding keluar masuk lorong-lorong kampung kami yang pengap, sempit dan kusut masai. Sungguh cepat musim ini berkelebat. Dengan berbekalkan taringnya yang sempurna meruncing, ia bersuka ria menggerus-gerus benteng-benteng pertahanan kampung yang kian merapuh.
Lalu, kami orang-orang kampung, sambil tak berkedip nonton aneka sinetron, sambil baca-baca halaman depan dan iklan-iklan di surat kabar, sambil mengulur-ulur waktu di warung-warung kopi, sambil menandatangani MoU-MoU, sambil somasi ini-itu, sambil memuntahkan kritik protes tak benar ini tak betul itu, sambil menyanyi lagu sunyi, sambil menari gerakan mati, sambil-sambilan dan selamanya selalu sambil-sambilan, serentak bersama-sama kami kutuk, kami anti, kami tolak, kami benci, kami tak sepicingpun suka padamu Musim Makan Angin!
“Enyahlah engkau wahai Musim Makan Angin dari tanah persada kampung kami! Enyahlah engkau! Enyahlah engkau! Enyahlah engkau!”begitu-begitulah selalu kami       sumpah serapah Musim Makan Angin itu  sambil-sambil mengunyah kuaci atau sambil-sambil menghirup nikmat secangkir kopi.
Di lain cerita, seumpama orang yang ketakutan ketahuan tak berpuasa di bulan puasa, diam-diam aku membuang diri ke belakang Meunasah Tuha. Pura-pura cari inspirasi, supaya dapat merangkai-rangkai imajinasi. Padahal di balik rimbun pepohonan yang menggelapkan itu, diam-diam kujumput sesuap demi sesuap angin. Kusuap demi sesuap angin. Kulahap selahap-lahap hingga kenyang sekenyang-kenyangnya perutku berisikan angin. Seumpama….
Ah, ini Musim Makan Angin! Mengapa harus malu memakan Angin? Mengapa ogah-ogah Makan Angin? Mengapa takut Makan Angin? Janganlah selalu suka bermunafik dan memunafikkan dirimu. Aku tahu betul kalau orang-orang kampungku kini semuanya sudah kecanduan makan angin. Cuma saja mereka, sepertinya aku juga, tak akan pernah berani terang-terangan memakan angin. Aneh, juga. Padahal ini musimnya Musim Makan Angin. Kok, tak berani senyatanya makan angin, ya?  Lucu, ya….
“Musim durian, musim rambutan! Musim Angin, jangan angin-anginan, ya!”ujar seorang pelawak muda pada pelawak tua di sebuah warung kopi yang tak pernah sepi.
Di ujung kampung di kaki gunung ini, sungguh sepi kulewati sendiri. Sesepi menanti musim berganti! Sesepi janji-janji yang tak tunai tertepati…
Gue Gajah – Aceh Besar, 16 Januari 2010
 
Catatan :
Meunasah adalah nama tempat beribadah umat Islam di Aceh. Meunasah sama arti dan fungsinya dengan Surau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *