Konggres Cerpen Bahas Industri Kreatif

Kongres Cerpen Indonesia VI diadakan di Pinamorongan, Minahasa Selatan, 18-22 November 2012. Selain pemilihan pengurus baru Komunitas Cerpen Indonesia (KCI), Kongres juga diisi Seminar Nasional bertema “Cerpen di Tengah Perkembangan Industri Kreatif”.
Menurut ketua panitia pelaksana Kongres, Kusnan S.Pd, sederet pembicara seperti Ahmad Tohari, Korrie Layun Rampan, Triyanto Triwikromo, Raudal Tanjung Banua, dan Ahmadun Yosi Herfanda, siap membahas tema tersebut. “Acara juga akan dimeriahkan pentas seni tradisi dan baca cerpen oleh Waode Wulan Ratna,” katanya seusai sapat dengan pengurus pusat KCI, di Jakarta, belum lama ini.
Kongres Cerpen Indonesia V telah diadakan di Banjarmasin, 26-28 Oktober 2008. Selain diadakan pemilihan pengurus baru dan penyusunan program, menurut ketua umum KCI, Ahmadun Yosi Herfanda, kongres juga selalu diisi seminar nasional yang membahas kecenderungan atau persoalan terpenting kehidupan cerpen di Indonesia terkini. “Salah satu kecenderungan yang dapat dianggap berdampak langsung terhadap tradisi penulisan cerpen adalah industri kreatif yang diprediksi akan makin mewarnai ekonomi Indonesia di masa yang akan datang,” katanya.
Dari tahun ke tahun, di Indonesia, sumbangan industri kreatif tampak makin besar. Menurut Ketua Forum Grafika Digital David B. Mihardja (2007), industri kreatif di Indonesia tumbuh 15 persen setiap tahunnya. Menurut Marie Pangestu (2007), industri kreatif Indonesia telah menyumbangkan sekitar 5,67 persen dari PDB Indonesia pada tahun 2006, dengan nilai tambah bruto sekitar Rp 105 triliun (Rp 104.787 miliar).
Sumbangan terbesar diberikan oleh industri mode (Rp 46 triliun), disusul kerajinan (Rp 29 triliun), dan periklanan (Rp 7 triliun). Sisanya disumbang oleh sektor-sektor lain, termasuk sumbangan kecil dari penerbitan karya sastra, terutama novel.
Cerpen, tambah Ahmadun, adalah salah satu karya kreatif. Namun, sebagai karya sastra yang sering terperangkap pada idealisme kesastraan yang adiluhung, cerpen tidak begitu saja dapat berkompromi dengan industri kreatif yang cenderung berorientasi pasar. Untuk saat ini dan masa yang akan datang, para penulis cerpen ditantang untuk dapat menyiasati kecenderungan industri kreatif itu, agar karya-karyanya dilirik oleh para pemain industri kreatif, dan diterima oleh publik yang lebih luas.
“Seminar nasional dalam rangka Kongres Cerpen Indonesia VI ini akan ikut mencoba memberikan jawaban-jawaban solutif bagi para cerpenis Indonesia untuk tetap eksis di tengah perkembangan industri kreatif yang makin menguat di Indonesia,” kata Ahmadun. “Diharapkan, sinergi antara sastra dan sinema akan makin meningkat, untuk bersama-sama menghadapi tantangan era industri kreatif itu,” tambahnya.
Menurut Kusnan, Kongres Cerpen Indonesia VI dilaksanakan atas kerja sama antara KCI dengan SMK Kartini Pinamorangan, Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, serta dukungan sejumlah sponsor. Kongres akan diikuti sekitar 40 cerpenis dari berbagai daerah di Indonesia, dan sekitar 200 guru bahasa Indonesia dari Sulawesi Utara akan mengikuti seminar nasionalnya.
Kongres bertujuan untuk ikut mendorong pertumbuhan tradisi penulisan cerpen di Indonesia, khususnya di kawasan Provinsi Sulawesi Utara; serta membuka akses para cerpenis Indonesia ke industri kreatif, khususnya industri sinetron dan film. Selain itu, juga untuk mendorong industri sinema untuk dapat mengakomodasi cerpen sebagai bahan penulisan skenario, guna melahirkan sinema-sinema yang menarik dan sastrawi.
Sedangkan agenda utama kongres adalah memilih pengurus baru Komunitas Cerpen Indonesia; serta menentukan tuan rumah Kongres Cerpen Indonesia VII. Sejauh ini sudah muncul wacana bahwa Kongres Cerpen Indonesia VII akan diadakan di Kalimantan Timur. [R]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *