Perjalanan "Pulang" Kafilah Kebudayaan

Selama hampir dua pekan, pada 9-18 November, Kafilah Kebudayaan yang terdiri dari penyair, pemusik, penembang Jawa, fotografer, perupa, dan penggiat kebudayaan, bergerak dari satu kota ke kota lain. Memulai perjalanan di Semarang, mereka menuju Jepara, Madiun, Malang, dan berakhir di Surabaya. “Kami ini lebih bonek dari pada bonek,” kata Guspar Wong, pimpinan rombongan, ketika bertandang ke Komunitas Capung alias Indonesia Dragonfly Society (IDS) di Jalan Kediri, Malang, Sabtu siang, 17 November 2012.
Maksudnya, mereka datang tanpa memikirkan uang atau harus menginap di mana. “Kami tidak menginap di hotel, tapi menginap di mana saja, tergantung tuan rumah,” ujar Guspar yang juga motor Surau Kami, sebuah komunitas kebudayaan berbasis pesantren di Semarang, yang juga menjadi insiator/penggerak kafilah ini. “Kegiatan ini melibatkan sejumlah lembaga,” tutur Zubaidah Djohar, penulis buku puisi “Pulang Melawan Lupa”, yang menjadi gagasan utama yang diusung dalam kafilah.
Kegiatan yang mengangkat isu Aceh sebagai tema ini melibatkan beragam latar seniman, mulai dari sastra, perupa, hingga fotografi dan film. Di barisan penyair, Zubaidah, Mustafa Ismail (Aceh), Biyung Amie Williams (Ambarawa), Sulis Bambang, Kurniawan Yulianto, Sandra Palupi (Semarang), Galih Pandu Adhi (Rembang), dan Sashmytha Wulandari (Yogyakarta).
Dari bidang musik, ada Unang Pesantren Bluesy, Eko Gondrong, Elizabeth Putri Cipta, Suhenx, Biasmi Astro, Bogel Darmanto dan Wien Gottic. Dari kalangan perupa, ada Inyoer Surya dan Udin Mayong (Cacing Terbang). Dari bidang fotografi, ikut serta Ahmad Thorik dan Hakam Anjar. Sementara dari kalangan film ada Enggar Adibroto dari Komunitas Teh Senja.
Di Malang, mereka tampil di dua tempat. Sabtu malam, mereka mengisi acara Music Camp Encompas di Wisma Gunung Tabor, Tumpang. Di sana, selain baca dan musikalisasi puisi, juga ada penampilkan kelompok musik Arbanat yang dipimpin Ugik Arbanat, peserta Music Camp dan sejumlah pemusik senior dari kota itu. Selain anggota rombongan, sejumlah peserta Music Camp juga ikut didaulat untuk membaca puisi.
Adapun Minggu siang, mereka berdiskusi dan mengaji puisi bersama mahasiswa dan seniman setempat di Komunitas Capung. Sambil duduk lesehan di teras belakang rumah besar yang menjadi kantor Capung, mereka satu persatu membaca puisi, membaswa musikalisasi, dan berorasi. Direktur IDS Wahyu Sigit, wartawan Tempo di Malang, Abdi Purnomo, dan penggiat Pelangi Sastra Malang Jeng Retno juga ikut didaulat untuk membaca puisi.
Sorenya, mereka bergerak ke Surabaya. Sedianya, mereka akan tampil di Gedung Balai Pemuda, namun karena ada sebuah pentas musik, agenda tampil di sana batal. Lalu, rombongan bertolak ke Kantor Kontras, Surabaya. “Kontras juga punya gagasan yang sama yakni Melawan Lupa,” kata Fatkhul Khoir, pengurus Kontras Surabaya.
Jadilah kantor Kontras malam itu sebagai tempat berdiskusi, yang diawali oleh Mustafa Ismail untuk menyampaikan konteks budaya dari persoalan Aceh, yang menjadi isu yang diangkat dalam perjalanan kafilah itu. Selanjutnya, setelah Guspar Wong menjelaskan apa dan bagaimana misi itu, satu persatu anggota rombongan beraksi. Ada yang membaca puisi, musikalisasi puisi dan melagukan tembang-tembang Jawa.
Tengah malam, mereka beranjak. Menyelesaikan kegiatan kafilah untuk tahap pertama. Tentu, masih ada perjalanan selanjutnya ke kota-kota lain lagi. Dan Aceh akan menjadi kota terakhir dari perjalanan kafilah ini. [R]













CATATAN:
BERITA DAN FOTO di situs ini boleh dikutip untuk kepentingan menyebarkan infomasi sastra, namun wajib menyebukan sumber: infosastra.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *