Gugatan Puitikal Teteng Jumara

|Mustafa Ismail, penggiat kebudayaan | Tulisan ini pengantar diskusi peluncuran buku puisi Teteng Jumara beberapa waktu lalu di Tangerang. |

“hari ini, koran telah memberitakan/
manusia menjual potongan-potongan tubuhnya/
……./
Untuk mendapatkan sebuah perjamuan/
…….” |

Barangkali tidak mudah bagi seseorang, yang berada dalam sebuah lingkaran tertentu, untuk menyikapi realitas menyimpang yang terjadi di lingkaran itu. Ini bukan semata karena ketidakberanian dan keengganan, juga faktor subjektivitas. Unsur subjektif berpotensi lebih besar ketimbang unsur objektif. Dalam sudut pandang inilah terlihat begitu pentingnya orang itu menarik diri atau “keluar” sejenak dari lingkaran itu.

Keluar inilah yang dipilih Teteng Jumara, penulis buku puisi “Surau Kecil Berdinding Bilik”, yang diluncurkan di Gudeg Kota Seni, Cikupa, Tangerang, 13 Oktober lalu, ini. Teteng adalah seorang seniman yang birokrat: Kepala Satpol PP Kabupaten Tangerang. Sebagai birokrat, boleh jadi, ia dibuat terhenyak dengan kondisi birokrasi di negeri ini. Sebagian orang yang mengisi berbagai lini dalam birokrasi itu kerap terjebak pada praktek koruptif.

Petikan puisi di atas, Hari ini, Koran Telah Memberitakan, menunjukkan betapa Teteng berposisi secara objektif dalam melihat persoalan. Ia berteriak tanpa tedeng aling-aling: hari ini, koran telah memberitakan/tentang tikus-tikus berkeliaran di selokan/di tempat orang-orang membuang kotoran… Istilah tikus, selokan, kotoran, tentulah merujuk pada fakta-fakta Indonesia hari ini: negeri makmur dengan indeks korupsi yang bikin sebal.

Setiap jengkal tanah yang kita injak, setiap hirupan nafas, kita selalu dihadapkan pada peristiwa-peristiwa koruptif. Hari ini, koran telah memberitakan ada saja yang terlibat praktek memperkaya diri dan kelompoknya dengan cara haram itu. Dan hari ini yang termaktup dalam puisi bukan saja bisa dibaca sebagai hari ini ketika sang penyair menuliskan puisi itu, tapi hari ini yang diulang-ulang, terus-menerus, hingga hari ini.

Puisi lain, Tikus-tikus Berlarian (halaman 115), makin meneguhkan betapa buruk kondisi ini: tikus-tikus berlarian ke ruang pengadilan sambil mengikat/kepalanya dengan kain hitam. Perilaku menyimpang itu tidak hanya terjadi pada lembaga birokrasi biasa, juga pada lembaga penegak hukum, yang seharusnya adalah benteng pertahanan keadilan. Namun keadilan bisa dinegosiasikan, dibeli, atau ditukar-gulingkan.

Teteng dengan rasa geram kemudian melepaskan kekesalan: sementara orang sedang sibuk adu tawar sebuah perniagaan yang entah apa diperdagangkan/ tapi ada orang masuk penjara tanpa harus diperiksa. Membaca puisi ini, Teteng melempar ingatan kita ke fakta-fakta mengiris: ada nenek Minah di Purwokerto yang dipenjara karena dituduh mencuri tiga biji kakao, siswa di Palu yang dituduh mencuri sendal, dan sebagainya.

Dalam puisi lain, Angkara, halaman 88, Teteng mengatakan begini: keangkuhan telah sempurna/…/di balik topeng kulihat nanah busuk mengalir/dari mulut srigala yang tengah membunuh mangsanya/buas dan jalang mata menatap liat/makluk lemah yang meratapratap/di bawah telapak kakinya. Sang penyair menegaskan, betapa yang lemah memang selalu kalah. Mereka, yang lemah, akan selalu menjadi objek dari sebuah sistem besar, yang kuat dan perkasa.

Kegelisahan itu kemudian dilanjutkan dalam puisi Tak Nampak Sinarnya, Tak Nampak Terangnya, halaman 89. Dalam puisi ini begitu jelas terbaca: realitas menyimpang yang ditemui di berbagai sudut ini, membuat banyak orang menjadi terombang-ambing, kehilangan pegangan, juga kehilangan identitas. Ombak begitu liar, melumat segala yang tersisa/…/di antara rintihan isak tangis nelayan/dan jeritan tertahan orangorang kelaparan.

Meski puisi di atas terlihat seperti keluh-kesah personal terhadap persoalan yang dihadapinya, tapi persoalan universal begitu kuat di sana. Sehingga, puisi ini lebih tepat disebut sebagai pernyataan sikap terhadap fakta universal hari ini. Baris-baris puisi di atas memperlihatkan bahwa fakta-fakta itu begitu akrab dengan keseharian kita. Laut, atau lautan biru, dalam puisi ini adalah sebuah ruang pertarungan, arena kalah-menang. Yang kecil, lemah, pastilah kalah.

Di lain pihak, orang-orang besar, punya kuasa, terus memproduksi jargon-jargon, citra visual, untuk memperkuat atau memperbesar posisi mereka. Tentu saja, semua itu dilakukan demi terus-menerus menjadi pemenang. Lihat baris-baris ini: perang kata-kata/sedang berkecamuk di padang kurusetra/senjatanya huruf-huruf berserakan/di lembaran-lembara koran/dan media elektronik hiburan. (Kata-kata Terbakar Amarahnya Sendirian, hal 111).

Mereka tidak perduli pada: satu-satu berjatuhan di altar merah kehidupan/nyawa-nyawa meregang meninggalkan raga. Itu memang tak penting buat mereka, justru mereka menganggap itu harga yang harus dibayar. Puisi Mulut (hal 114) mempertegas ini: produksi citra dan wacana begitu massif dalam segala lini kehidupan. “Mulut-mulut berloncatan/di mimbar-mimbar perdebatan/…/di gedung-gedung parlemen/di rumah-rumah peribatan…”

Tapi tetap saja, mereka yang punya kuasa untuk memproduksi citra dan wacana adalah mereka yang punya kuasa secara sosial, politik, dan ekonomi. Sementara rakyat, tetap saja, menjadi objek dari pertarungan citra dan wacana itu, hanya bisa mengelus dada, tidak bisa memetik apa pun dari mereka, kecuali menjadi korban. Rakyat selalu berada dalam tarik-menarik berbagai kepentingan para elitnya.

Puisi Pidato, hal 113, adalah gugatan penting untuk realitas ini: pidato berapi-api/janji tak pernah ditepati/mulutnya menyemburkan premium/api menjilat-jilat/melumat pedagang kecil/menghancurkan perkampungan kumuh/petani kecil/pedagang asongan/tukang semir sepatu/tukang baso/tukang soto/tukang gado-gado. Itulah tragedi yang harus dihadapi: rakyat selalu selalu dikibuli, dielus-elus ketika mereka butuh, lalu dicampakkan begitu saja.

Lalu apa artinya reformasi – jika segalanya tak berarti bagi rakyat? Inilah pertanyaan mendasar yang dilontarkan Teteng dalam puisi Bayi Reformasi (hal. 107). Kenyataan ideal reformasi ternyata dalam perjalanannya melenceng. Reformasi yang diharapkan memberikan angin segar dalam politik, ekonomi, juga sosial, jauh dari faktas ideal yang diimpikan. Reformasi pun hanya dinikmati oleh sebagian orang.

Teteng lalu menjerit: “inikah kebebasan yang kita impikan, sementara perut-perut lapar/bergentayangan, manusia-manusia liar berhamburan di/kantor-kantor pemerintahan, gedung dewan perwakilan rakyat…” Namun, apa pun kondisinya,, ia tetap mencintai Indonesia dengan sungguh-sungguh, sebuah sikap patriotik dan nasionalisme yang teguh. “Merah putih di dadaku selalu melambai-lamba seperti pohon/nyiur yang tumbuh di tepi pantai…” (Puisi Merah Putih di Dadaku, hal 116).

Sesungguhnya, ada ragam tema yang tampil dalam puisi-puisi Ketua Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Kabupaten Tangerang ini. Persoalan sosial dan politik, hanya salah satu hal yang begitu kental di sana. Persoalan lain yang juga kuat, dan langsung menggambarkan sosoknya, adalah relegiositas. Puisi-puisi relegius itu termaktub dalam bagian-bagian awal buku ini – sekaligus menegaskan bahwa ia sosok yang relegius.

Surau Kecil Berdinding Bilik (hal 9), yang sekaligus menjadi judul buku ini, salah satu puisi yang begitu kuat mengutarakan relegiusitas itu. Teteng menulis: suara siapakah memanggimanggil/dengan suara pelan tetapi lirih/dari langit paling jauh/seperti menyuruhnya untuk segera berbasuh. ***

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>