Ini Dia Pemenang Khatulistiwa Award 2012

Penghargaan Sastra Khatulistiwa Literary Award 2012 baru saja diumumkan, Kamis malam, 29 November 2012 di Plaza Senayan, Jakarta. Pemenangnya, untuk kategori prosa adalah Okky Madasari dengan novel berjudul “Maryam” dan Zeffry Alkatiri untuk kategori puisi dengan buku berjudul “Post Kolonial & Wisata Sejarah dalam Sajak”.
Mereka terpilih dari lima unggulan dari masing-masing kategori. Untuk kategori prosa, 5 besarnya adalah Ayu Utami (Buku “Cerita Cinta Enrico”), Gitanyali (65), Linda Christanty (Seekor Anjing Mati di Bala Murghab), Okky Madasari (Maryam), dan Ratih Kumala (Gadis Kretek). Sedangkan untuk kategori puisi yakni Aspar Paturusi (dengan buku puisi “Secangkir Harapan”), Eka Budianta (Langit Pilihan), Hana Fransisca (Benih Kayu Dewa Dapur), Hasan Aspahani (Mahna Hauri), dan Zeffry Alkatiri (Postkolonial dan Wisata Sejarah).
Para juri KLA 2012 adalah Ade Kusumaningrum, Fransisca Ria Susanti, Hernadi Tanzil, Hilmar Farid, Lisa Febrianti, Manneke Budiman dan Ronny Agustinus. Menurut juri, Maryam berhasil mengangkat masalah kekerasan terhadap pengikut Ahmadiyah dari hiruk-pikuk berita media dan kontroversi di sekitarnya ke tingkat yang berbeda. “Ia menjadi kritik terhadap penindasan yang dilakukan pihak yang kuat terhadap yang lemah atas nama agama,” tulis Ketua Dewan Juri, Hilmar Farid, di buku acara.
Novel Maryam mengetengahkan persoalan diskriminasi dalam kehidupan beragama. Keluarga Maryam adalah orang yang terusir dari kampungnya karena berbeda paham agama. Keluarga Maryam adalah penganut Ahmadiyah di Lombok. “Novel ini diilhami oleh kejadian nyata yang dialami sahabat saya sendiri,” kata Okky saat peluncuran novel itu Jakarta, Maret 2012 lalu.
Okky Puspa Madasari lahir di Magetan, Jawa Timur, 30 Oktober 1984. ALumnus Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada, ini sempat empat tahun menjadi wartawan. Namun kemudian ia berhenti dari profesi jurnalis dan memilih menjadi penulis novel. Novel pertamanya berjudul “Entrok” (Gramedia, 2010). Novel itu bercerita tentang keberagaman keyakinan dan kesewenang-wenangan militer pada masa Orde Baru. Setahun kemudian, ia meluncurkan novel berjudul “86” yang bertema korupsi. Maryam adalah novel ketiganya.
Adapun “Post Kolonial & Wisata Sejarah dalam Sajak” memuat petualangan puitikal Zeffry pada sejarah. Buku ini terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama, berisi 21 puisi, dan bagian kedua berisi 96 puisi. Menurut juri, buku Jeffry menghadirkan semacam kritik atas kritik dengan mengajukan banyak pertanyaan terhadap kenyataan yang dianggap mapan. “Sebuah intervensi yang khas terhadap upaya menghadirkan sejarah yang lurus dengan pikiran yang logis.”
Namun, menurut juri, satu-satunya masalah dengan buku karya penyair kelahiran Jakarta 30 Agustus 1960 ini adalah judulnya yang bisa membuat orang tergelincir dan mengira sedang menghadapi sebuah tesis ilmiah dan berpotensi mematahkan gairah membaca. [R]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *