Taman Rindu Tak Sampai

Cerita Mini:   Saiful Bahri   |
Dalam rintik hujan berangin pagi itu, Said yang lelah, lusuh dan tua terperangah di sudut utara taman itu. Jengah, pangling, miris, haru, pilu, ngilu, kecewa, rasa-rasa tak mungkin, rasa-rasa tak percaya bergolak-golak dalam dada, lalu melesat dan mendesing-desing di batok kepala Said.Tamanitu, taman segala rindu, taman pelipur lara, taman sejarah dengan sejumlah situs kenangan Said muda belia, kini tak dijumpainya lagi. 15 menit Said tegak terpaku. 1 menit kemudian tubuh renta Said terguncang. Said menangis. Said terjerembab layu di bawah guyur hujan pagi itu yang perlahan-lahan melebat. Remuklah segala rindu Said akan tamannya.
Padahal, panggilan kerinduan itu selalu mengusik Said berpuluh-puluh tahun kala ia tersekap permainan hidup di negeri-negeri perantauan yang jauh. Sungguh kerinduan itu sengaja Said ulur-ulur, buai-buai, dan sesekali digerusnya halus-halus, lalu dicubitnya gemas-gemas, agar rindu itu tetap berjaya dan terjaga utuh adanya dalam urat-urat darah di sekujur tubuhnya. Berpuluh-puluh tahun Said tertidur dan terjaga dengan membawa satu rindu taman, yang tak cukup kata-kata pengungkap, tak cukup rasa-rasa merasa, akan sendu dan syahdu satu segala rindu pada taman masa lalunya.
Maka, pulang adalah panggilan pemupus rindu. Pulang, pulanglah Said. Disusur kembali jalan-jalan pulang, menguak sekat-sekat pelosok kampung-kampung orang, menapaki batas-batas kota, batas gurun, batas gunung, batas segala batas negeri-negeri seberang, melintasi laut-laut dan samudera raya, menelisik kembali lorong-lorong tua yang lampau, hingga akhirnya, pagi ini, dalam rintik hujan melebat ini, Said yang lelah, lusuh dan tua, tersungkur pilu di atas remuk puing kerinduannya.
Setengah melata Said merangkak menghampiri pohon asam jawa di samping kiri bekas pintu masuk utama taman itu. Pohon itu masih menyimpan secuil kenangannya. Duduk bersandarlah Said di kaki pohon tua itu.  Matanya nanar-liar menggerayangi sekujur taman dari ujung ke ujung. Rasa miris itu mengiris Said tipis-tipis. Pedih! Perih sekali!
Tak ada lagi! Pupus segalanya! Tak dijumpainya lagi papan melintang enjot-enjotan yang merekam pekik riang takut senangnya kala itu. Punah juga plosot-plosotan semen yang licin menyejuk rasa di serat-serat hati ketika tubuh kecilnya meluncur di situ kala itu. Sepi sunyi sudah gerinyit bunyi beradu rantai-rantai besi yang dingin, ketika ayun-ayunan bergerak-gerak mengiringi nyanyian nyaring mulut mungil Said yang melagukan ceria masa kecil. Tak ada lagi rimbun pohon-pohon tua peramu rasa sendu dan syahdu alam taman. Tak ada lagi jalan setapak yang melingkar-lingkar memaniskan riak hidup Said kala berlari-lari kecil wujudkan merdekanya dunia kanak-kanak. Tak ada! Tak ada lagi bukti kenang-kenangan itu. Sepi segala kenangan! Remuklah rindu Said.
Gelegak rindu Said kini perlahan mendingin sudah.Tamanitu, Taman Sari yang berpuluh tahun dielu-elunkanya itu, kini pongah mencibir-cibir kekecewaannya. Said merasa diledek-ledekan oleh sebuah bangunan megah setengah lingkaran yang berdiri di atas bekas situs-situs kenangannya. Gagah dan indah bangunan itu, tapi kering, sekering kenangan Said yang kini tak mengharap kenangan apa-apa lagi pada taman itu. Kering, sekering padatnya lalu lintas kenderaan di simpang sudut taman itu yang hilir mudik tak putus-putusnya, mencabik-cabik kesenduan pagi di bawah siraman rintik hujan yang semakin melebat.
Di bawah pohon asam jawa di samping kiri bekas pintu masuk utama taman itu Said perlahan-lahan terlelap. Dalam lelapnya Said kembali ke masanya dulu. Saat itu, di suatu malam usai Isya, Said dan Abinya tiba di taman itu. Sekeliling bangunan bulat kecil di bawah pohon tua yang rindang itu mulai dipenuhi orang-orang. Sebentar lagi pertunjukan musik klasik oleh perwira-perwira muda tentara Belanda akan dimulai.
Alunan musik klasik yang sendu mendayu-dayu hingga tengah malam telah melelapkan Said kecil dalam gendongan Abinya. Dalam nyenyaknya Said tersenyum damai. Damai sekali, sedamai Taman Sari malam itu yang semarak cahaya lampu di bawah rimbun-rimbunan pepohonan. Hanya sekali Said merengek. Setelah itu Said kembali pulas. Said semakin larut tersuruk dalam mimpi-mimpinya.
Banda Aceh, 11 Agustus 2007
*** Taman Rindu dalam cerpen ini adalah kenangan pada Taman Sari yang ada di tengah Kota Banda Aceh.
————-
SAIFUL BAHRI lahir di Banda Aceh, 29 Juli 1969. Alumnus Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta, Jurusan Politik Pemerintahan, salah seorang cerpenis dan novelis yang berkarakter kuat. Novelnya “Terbuai Mimpi” (menggunakan nama samaran Xenon Micros) diterbitkan Balai Pustaka Jakarta, pada 1991, dan “Hikayat Sang Gila” (2005). Cerpennya tersebar dalam beragam buku antologi puisi bersama dan dimuat di berbagai media cetak. Sehari-hari ia adalah larut dalam aktivitasnya sebagai pejabat humas di Aceh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *