Lomba menulis puisi-esai Hadiah Puisi Esai Denny JA telah diumumkan. Pemenang lomba berhadiah total 50 juta itu adalah “Mata Luka Sengkon Karta” karya Peri Sandi Huizche sebagai juara pertama. Juara kedua jatuh untuk puis berjudul “Interegnum” karya Beni Setia dan juara ketiga adalah “Syair 1001 indonesia” karya Saifur Rohman. Dewan juri final yang terdiri dari Agus R. Sarjono, Acep Zamzam Noor, dan Jamal D. Rahman juga 10 pemenang hiburan berdasarkan mutu karya.

Sepuluh pemenang hiburan, seperti diposting di situs puisi-esai adalah Arief Setiawan dengan karya berjudul “Ngati”, Arif Fitra Kurniawan (Bukan Lagi Rahasia Kita Raisa), Catur Adi Wicaksono (Jejak Cinta Madun Di Kota Sampit), Hanna Fransisca (Singkawang Petang), Jenar Aribowo (Suara Suara Ingatan), Katherine Ahmad (Dalam Belenggu Dua Dunia), Kedung Darma Romansha (Rangin), Rahmad Agus Supartono (Dia, Sangkarib dan Sekarung Kapas), Wendoko (Telepon), dan Yustinus Sapto hardjanto (Ziarah Tanpa Ujung).

Selain itu, juri juga memilih 12 Puisi Esai Menarik yakni karya Alexander Robert, Baiq Ratna Mulyaningsih, Carolina Betty, Chairunnisan, Damhuri Muhammad, Huzer Apriansyah, Nur Faini, Onik Sam Nurmalaya, Sahasra Sahasika, Sifa Amori, Stefanus P. Elu, dan Yudith Rosida. “Keduabelas puisi esai ini dipilih karena daya tarik permasalahan yang diangkatnya sebagai puisi esai, meski karya mereka belum mencapai keutuhan sebagai sebuah karya yang solid,” tulis dewan juri dalam catatan pertanggungjawabannya.

Penjurian lomba ini terdiri dari dua tahap. Juri tahap pertama adalah Ahmad Gaus, Jonminofri, Elza Peldi Taher, dan Fatin Hamama. Mereka memeriksa 429 puisi esai yang masuk dengan kriteria: adanya plot, konflik, catatan kaki, keutuhan sebagai sebuah sajak panjang. Menurut juri, sajak panjang berupa kumpulan beberapa sajak dengan judul berbeda-beda dan tidak memiliki keutuhan sebagai satu puisi esai tidak lolos ke seleksi selanjutnya. Begitu pula puisi yang tema dan panjangnya relatif memenuhi kriteria puisi esai namun tidak disertai catatan kaki, juga tidak lolos ke babak selanjutnya. “Karena beberapa fakta di sana tidak dapat dirujuk pada sumber yang adekuat,” ujarnya.

Hasil seleksi oleh juri tahap awal lalu diserahkan ke juri final. Maka terpilihlah “Mata Luka Sengkon Karta” yang mengangkat permasalahan hukum dan peradilan kasus Sengkon Karta. Menurut juri, puisi esai ini dipilih karena keutuhan, kelincahan bahasa, alur yang kuat, dan riset yang mendalam atas subjek yang ditulisnya. Penggarapannya cukup detil, diksi-diksinya pun segar. “Penulis mampu membuat kasus lama ini hidup kembali untuk diperhadapkan dengan situasi hukum dan peradilan di masa kini.”

Adapun “Interegnum” karya Beni Setia, dengan bersih dan padu, kisah lama yang diambil dari sejarah dan cerita rakyat ini dibangun tahap demi tahap secara hati-hati hingga terbangun gambaran peristiwa di Palangan Mejayan masa silam. Dalam bentuk yang rapi tersebut, plot, konflik dan penokohannya dibiarkan tidak tajam dan digantikan dengan suasana-suasana dalam gambaran yang terkendali. Sementara “Syair 1001 Indonesia” mengangkat kasus hukum dan korupsi yang menjadi berita hangat berbagai media massa belakangan ini. Dalam “Syair 1001 Indonesia” terjadi fiksionalisasi atas fakta, dan terkadang juga faktanisasi atas fiksi. Fakta dan fiksi terus-menerus dipermainkan. [R]