Puisi-Puisi Nezar Patria

Puisi-puisi Nezar Patria ini dimuat di Kompas, Minggu, 16 Desember 2012. Info Sastra mengutip puisi ini karena sangat menarik. Sajak Malin Kundang, misalnya. Ia mencoba bermain-main dengan tafsir “liar” terhadap mitos Malin Kundang. Puisi ini mencoba menyusun imaji lain dari kisah itu: Malin Kundang tak lagi seorang anak durhaka yang menjadi batu, tapi sebuah metamoforsa “terbalik” yakni kutukan dari kupu-kupu menjadi kepompong batu.
Memang, salah satu kekuatan puisi adalah pada gagasan imajinatif. Sebuah tema yang “lusuh” dan “tua”, jika digarap dengan imaji baru, ia akan hadir dengan kesegaran baru. Kisah Malin Kundang, dalam puisi ini, misalnya, menjadi seorang “gadis cantik” di tangan Nezar. Padahal, “simbol” ini begitu sering diulang-ulang oleh banyak penyair. Dan terbukti, selalu ada yang baru yang bisa diungkapkan.
Begitu pula tema sejarah (Aceh) dalam puisi “Kutaraja, 1874” dan “Cinta dalam Setengah Blues”. Ia mereproduksi dua tema ini menjadi sesuatu yang bernas. Mari kita simak saja sajak-sajak berikut.
Malin Kundang

Bahkan saat dikutuk menjadi kepompong batu, engkau
kalahkan suntuk panjang itu dengan menggambar kembali
dirimu. Titik demi titik, lalu garis, dan sebuah bentuk. ”Ini
bukan metamorfosis yang sulit,” katamu. Mereka tak tahu.
Sebelum menjadi batu, jiwamu adalah kupu-kupu.
2012
Kutaraja, 1874

Di Kuala, ada lagu serdadu kumpeni
”Jayalah Willem, sebelum pagi.”
Pada laras senapan yang ria
Ayat-ayat sembunyi
di arus kali,
Lidah naga menari.
Dari Kuala, ya dari Kuala
Kapal-kapal bergerak,
Dari mulut kanon
bau mesiu merambat.
Di Kutaraja, ada doa bergema
”Tuwanku, kami bersiap mati.
Jiwa merdeka, berkalung kenanga.”
Langit gelap
dalam mimpi yang kedap.
Bulan runcing,
berlari di ujung lembing
Pedang kelewang bersijingkat,
dalam khianat.
Siapa menukar sangkur
dengan dusta sungai anggur?
Di jantung Kutaraja
pada subuh hitam itu,
Kumpeni ria bernyanyi
”Jayalah Willem, sebelum pagi.”
2010
Cinta dalam Setengah Blues
Cinta, katamu, adalah tangga nada
dan kau pun mulai menyusun not buta
Kudengar piano itu berdenting, garing
Ada suara saksofon, monoton
Mungkin kau tak mengerti
Cinta bukan partitur biasa
Tak bisa dimainkan dari la
Lalu berhenti sebelum si
2012
Nezar Patria lahir di Sigli, 5 Oktober 1970. Ia bekerja sebagai wartawan, dan berkumpul di Komunitas Tikar Pandan, Banda Aceh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *