Mata yang Menawan

Cerpen Irfan Budiman |
SEJAK pria berbadan tegap itu mengatakan bahwa mata saya begitu indah, hampir semua orang yang bertemu dengan saya selalu memperhatikan kedua bola mata saya. Tak henti-henti. Mereka bilang saya memiliki mata yang menawan. Mereka, tak peduli bapak-bapak, ibu-ibu rumahan atau yang sering pergi ke mal dan kafe, dan teman sejawat, mengatakan mata saya punya pesona yang sulit dilupakan.
Ah, saya tidak mau ambil pusing. Pujian itu (tapi saya tak pernah merasa hal itu sebagai pujian) sekadar melebihkan sesuatu yang, sesungguhnya, bukan apa-apa. Mata yang saya miliki sama dengan mata orang lain. Fungsinya untuk melihat. Selebihnya, tidak ada yang istimewa.
“Mata kamu bagus. Seperti ada sesuatu yang istimewa dari tatapan matamu,” ujar pria berbadan tegap waktu itu. Dialah yang pertama mengatakan hal itu. Katanya, mata saya lebih tajam dibanding tatapan Ayatullah Khomeini, tapi lebih lembut dari Putri Diana. “Pokoknya ada magnet dalam matamu.”
Saya malah takut. Karena saya tidak mengenal pria berbadan tegap itu. Hanya karena tugas dari kantorlah yang mengharuskan saya menemuinya. Apalagi sekarang banyak hal aneh. Jangan-jangan dia sedang melakukan pendekatan pada saya. Bulu kuduk saya berdiri kalau mengingat pertemuan dengannya. Saya anggap itu hanya ocehan tiada gunanya. Meski saya, terus terang, menjadi penasaran.
Terbukti, ucapan pria itu tak sesuai dengan pendapat Uwik, pacar saya. Dia sama sekali tidak melihat sesuatu yang istimewa dari kedua bola mata saya. Apalagi kalau masuk kategori bagus seperti pernah diucapkannya.
Malah, kalau diingat lagi, saya mendapatkan Uwik bukan karena pesona mata saya. Waktu itu, mata saya tengah dibalut perban gara-gara terkena pecahan kaca ketika saya mengantar ibu pergi ke resepsi perkawinan seorang kolega ayah, Om Wasito. Mobil yang saya kemudikan menabrak tiang listrik.
Sebenarnya luka yang saya derita tidaklah berat. Hanya pelipis mata kanan saya mengucurkan darah. Waktu itu, ibu diam tak bersuara, lalu pingsan. Ibu memang selalu pingsan kalau melihat darah. Dia lemah jantung. Mungkin itu pula sebabnya ia memilih tak mau punya anak lagi selain saya.
Saya masuk rumah sakit. Mata saya dibalut. Kemudian dokter menyarankan saya istirahat beberapa hari di rumah. Tidak dirawat di rumah sakit. Rekan-rekan sekantor berdatangan menjenguk. Dari situlah, saya merasa dekat dengan Uwik, rekan kerja saya. Ia rajin menjenguk saya hampir setiap hari. Sampai akhirnya, tumbuh sesuatu yang istimewa di antara kami.
Tapi bukan karena mataku yang menarik perhatiannya. Uwik malah menertawakan saya habis-habisan ketika saya tanyakan hal itu padanya. “Apa yang menarik dari mata kamu. Matamu biasa-biasa saja. Sama saja dengan mata yang lain. Kasihan amat,” kata Uwik.
“Eh, tapi sebenarnya siapa yang harus dikasihani. Aku yang jadi pacar kamu atau kamu yang merasa punya mata yang bagus?” Uwik tak mau meneruskan kata-katanya, ia malah menyembunyikan deretan giginya yang rapi itu di balik kelima jarinya.
“Lo, saya kan cuma bertanya”
“Memangnya kamu merasa kalau mata kamu bagus?”
“Bukan aku. Tapi pria yang pernah aku temui”
“Oh, orang itu?”
Uwik kembali tertawa bahkan kali ini amat keras. Tawanya kali ini terasa menusuk perasaan. Saya diam saja. Mungkin betul pria berbadan tegap itu mengada-ada. Saya amat percaya pada Uwik. Dia tidak pernah berbohong untuk urusan kecil sekalipun.
Aku masuk kantor seperti biasanya. Namun, orang-orang di kantor menatap ke arah saya dengan tatapan yang tak biasa. Mereka berbisik-bisik. Alamak, ternyata mereka tengah membicarakan saya. Kata mereka, mata saya begitu mempesona. Bahkan Susi, perempuan paling judes di kantor, memandang saya dengan mimik wajah takjub. Ia tak mengeluarkan sepatah kata pun ketika saya memandangnya. “Matanya begitu bening,” bisiknya pada teman semejanya.
Ah, ada apa lagi! Dan ketika saya tanyakan pada Uwik sekali lagi, jawabnya masih tetap sama seperti waktu itu. Dia hanya tertawa. Bunyi tawanya dua kali lebih menyakitkan ketimbang tawanya waktu itu.
Orang-orang mengatakan mata saya indah, tapi Uwik tidak. Saya benar-benar bingung, apakah Uwik jaga gengsi untuk tidak mengatakan hal sebenarnya, karena takut kehilangan saya. Barangkali, ia takut saya kan mencari gadis lain yang lebih cantik, yang lebih seksi atau lebih kaya.
Atau, mungkin juga, itu dilakukannya karena saya tidak pernah memuji bibirnya yang seksi. Atau juga mungkin Uwik takut kalau-kalau saya berubah menjadi sombong. Naluri saya lebih percaya pada poin terakhir. Saya percaya hal itu dilakukannya demi kebaikan kami berdua.
Orang-orang masih berbisik-bisik. Mata saya masih menjadi topik pembicaraan yang menarik. Tak hanya di kantor, tapi juga di sepanjang jalan menuju kantor. Orang-orang menatap saya bagai melihat seorang bintang top. Setiap saya hendak berangkat kerja, mereka selalu menyapa saya dengan ramah. Mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu hingga remaja yang baru tumbuh. Mereka, baik perempuan atau laki-laki, menyapa saya dengan manis. Mereka melambaikan tangan dan tersenyum.
“Hai, mata yang menawan!” teriak segerombolan gadis sekolahan histeris. Saya hanya tersenyum. Saya merasa tak perlu mengatakan sesuatu.
“Hei mata yang menawan mampir ke sini barang sebentar!” Kali ini, sekelompok pemuda memanggil saya.
Saya jadi tidak mengerti. Semuanya menjadi aneh. Batin saya tak paham dengan keadaan yang tengah terjadi. Tapi, saya coba menenangkan diri. Mungkin ini sambutan dari warga kompleks menyambut warga baru. “Tapi kenapa orang-orang di kantor juga menjadi berubah,” tutur Uwik suatu kali.
Dan segalanya menjadi tidak jelas ketika pada suatu malam, Wanto, sekretaris Kepala Rukun Tetangga (RT), mengantarkan kartu tanda penduduk (KTP) yang baru saja selesai diproses. Dalam KTP itu nama saya ditambahi kata MYM di belakangnya. Ketika saya tanya, dia menjawab bahwa kata-kata itu merupakan singkatan dari Mata yang Menawan.
“Ya Ampun ….”
Apa yang tengah terjadi, otak saya berputar-putar. Tapi saya tak mendapatkan jawabannya. Ayah pun tak mengerti. Menurutnya, tambahan nama tak lebih merupakan penghinaan baginya. Kata ayah, nama saya cukup ditulis Irfan Budiman saja. Titik. “Tak perlu lagi ditambah-tambah.”
“Tapi sulit Pak. Untuk menggantinya, Bapak harus mengurus kembali proses pembuatan KTP, yang Bapak tahu sangat rumit. Lagi pula tak ada salahnya kalau nama anak bapak ditambah kata-kata itu.”
Ayah cuma bisa diam. Saya juga diam tak mengerti. Persoalan KTP itu keruan saja membuat kami pusing. Ayah pusing. Ibu juga bingung. Apalagi saya. Selanjutnya, ibu bertanya pada tetangga, sebenarnya apa yang tengah terjadi. Bagai sebuah koor, mereka menjawab: “benar kok anak ibu punya mata yang menawan!”
Ibu makin bingung.
***
Setiap menit, siang-malam, telepon di rumah terus berdering. Ketika diangkat, mereka cuma ingin berbicara dengan “mata yang menawan”. Begitu juga di kantor, operator minta berhenti bekerja tak sanggup menerima beribu-ribu telepon. Berbagai bingkisan dan surat memenuhi rumah dan ruang kerja saya. Isinya macam-macam. Ada yang meminta foto, ingin bertemu, ada wanita yang tengah mengidam mengharapkan kehadiran saya.
Mereka juga nekat mendatangi kantor dan rumah saya. Bahkan, wartawan meminta waktu khusus untuk melakukan wawancara. Saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Saya tidak bisa bekerja lagi. Suasana di rumah menjadi tidak nyaman. Ayah, orang pertama yang tak bisa menerima semua itu. “Daripada begini, mendingan kita segera pergi,” kata ayah.
“Sabar dulu, Yah?” timpal ibu.
“Kalau begini, akan terjadi sesuatu yang tak beres. Semua orang sudah sinting.”
“Tak kan lama lagi semua akan beres.”
“Hidup kita jadi berantakan. Aku bisa kehilangan pekerjaan”
“Mari kita pergi.”
Ibu bersikukuh tak mau ikut dengan ayah. Katanya, keadaan ini akan segera berakhir, meskipun tak tahu kapan akan berakhir.
“Sudahlah aku pergi.”
Ayah pergi. Ibu hanya bengong. Tak percaya suaminya meninggalkannya seperti itu. Satu malam, dua malam, tiga malam, seminggu, ayah belum juga pulang.
Sementara orang-orang di luar masih berbisik-bisik. Mereka tak lagi membicarakan tentang mata saya, tapi juga tentang kepergian ayah dan ibu yang bingung. Selama itu pula kami tak bisa keluar dari rumah. Telepon masih berdering-dering, bingkisan kini membubung di depan rumah kami.
Ibu tak tahan lagi. Pikirannya limbung., Katanya, ia mau pergi juga. Ibu ingin menemui ibunya di kampung. Pagi-pagi betul, ibu membangunkan saya. Ia mengajak saya untuk pergi ke rumah nenek. Saya diam saja. Kami berdua bersiap untuk segera meninggalkan rumah yang belum lama kami tempati.
Ketika ibu membuka pintu dan melongokkan kepalanya ke luar, ibu terheran-heran. Mukanya pucat pasi, mulutnya terkatup. Lalu jatuh pingsan. Saya sibuk menahan tubuhnya yang terhuyung-huyung.
Saya penasaran, ikut melihat yang terjadi di luar sana. Ternyata di balik bingkisan yang menggunung itu, ratusan orang bergerombol di sana. Mereka mendirikan tenda. Puluhan gerobak penjual makanan berderet menuai rezeki. Entah sejak kapan mereka hadir di sana.
Beberapa spanduk juga dibentangkan. Aku memandangnya satu persatu. Satu di antaranya, begitu mencolok ditulis dengan tinta warna merah menyala di atas kain putih. “Kami ikut prihati dengan nasib keluargamu tapi kami akan membantumu, mata yang menawan.”
Tangan saya tak kuat lagi menopang tubuh ibu yang ternyata cukup berat. Akhirnya, saya biarkan tubuhnya tergelongsor ke lantai. Yang ada dalam pikiran saya, saya harus segera menelepon untuk memberi kabar pada saudara-saudara tentang peristiwa ini.
Belum sempat saya berlari ke arah pesawat telepon, mereka menyeruak masuk ke pelataran rumah kami. Saya melihat Uwik dan pria berbadan tegap itu amat sibuk di antara kerumunan orang-orang itu. Mereka menyerbu masuk rumah, sambil bertanya: “Apa lagi yang terjadi, hai mata yang menawan?”
Saya benar-benar tak bisa menahan mereka. ***
——
IRFAN BUDIMAN sehari-hari bekerja sebagai wartawan di sebuah media nasional. Biasanya ia menulis seni dan hiburan. Tapi belakangan, ia menjadi redaktur olahraga. Pemilik akun twitter @gwirfan ini sejak lama menulis cerpen, tapi jarang dipublikasikan. Ia juga senang menggambar. Ilustrasi cerpen ini juga karyanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *