Puisi Penyair Indonesia tentang Tsunami

Hari ini, delapan tahun lalu, 26 Desember 2004, gempa dahsyat yang diikuti tsunami menghantam Aceh. Ratusan ribu orang menjadi korban. Nah, untuk mengenang mereka yang pergi bersama tsunami, Info Sastra menurunkan serangkaian puisi-puisi tentang tsunami dari sejumlah penyair Indonesia. Puisi-puisi tersebut dikutip dari berbagai sumber, seperti buku Syair Tsunami (Editor LK Ara dan Mustafa Ismail), milis, blog, dan sebagainya. Hak cipta pada penyair masing-masing.

Azhari
IBUKU BERSAYAP MERAH

Ibu, Abah dan Dik Nong
setelah bala aku pulang ingin melihat
kalian dan kampung

kukira 26 desember cuma mimpi buruk
tapi tak kutemukan kalian di sana,
juga Arif kecil yang cerewet

seperti kalian, kampung kita ternyata sudah tiada
berubah menjadi laut yang raya

lihat Ibu ada bangau putih
berdiri dengan sebelah kaki di bekas kamarmu
bangau itu tak bersayap merah
seperti dulu pernah kauceritakan padaku

karena aku tahu bangau itu telah memberikan sayap
merahnya buatmu
agar kau peluk Abah dan Dik Nong ke dalamnya

Banda Aceh 2005

Wiratmadinata
ZIARAH SUNYI

(mengenang sahabat-sahabat di Serambi Indonesia,
yang pergi bersama tsunami, 26 Desember 2004)

Apakah makna sebuah pertemuan?
Sekilas cahaya di langit kelam.
Mengerlip sesaat sebelum gugur waktu.
Kita, seperti sebuah musim berputar.

Sejarah, dimanakah ia bisa bertahan?
Dalam sebaris puisi dan do,a lirih.
Atau sebuah prosa yang tak pernah selesai.
Juga kata, yang tak sempurna dituliskan.

Mengenangkanmu apakah nian maknanya?
bagiku, yang tersisa dari perjalanan masygul
saat ombak-badai membawamu pergi begitu saja.
Lautan, begitu dalam menyimpan rahasia Tuhan.

Di sudut rumah kita yang telah menjelma samudra
kita pernah bergumul dalam hidup yang sengit
sampai sejarah melemparkanku ke negeri asing
sementara engkau bertahan menuntaskan pertarungan.

Kini aku menyapamu lewat bait-bait syair kelu
sebagai do,a bagi ziarahku yang getir dan kelabu
semoga engkau mendengar gumam kalbuku
di atas kota kita yang menyimpan luka lautan.

Tak akan kucari lagi jejak sejarah kita yang indah
di atas puing, potret yang pecah dan reruntuhan kota
atau di atas lumpur yang tak berdaya menyimpan
kenangan.
Tak akan kucari lagi, karena engkau telah abadi dalam
do’a.

Jakarta, 8 Pebruari 2004

Mustafa Ismail
SURAT-SURAT

surat-suratmu telah hanyut
jauh sebelum sabtu pekat itu
menjadi gelombang yang menenggelamkan
huruf-huruf dan jejak tanganmu

aku hanya menemukan kertas kosong
terselip dalam lipatan arloji
menyembul saat malam larut
dan orang-orang nyenyak

cuma sketsa tipis, lamat-lamat
menyeruak lalu senyap
tanganku gemetar untuk menulis kembali
huruf-huruf itu
juga jejak tanganmu

Depok, Desember 2005

Ahmadun Yosi Herfanda
AIR MATA ACEH

Mendengar namamu saja
Sudah menitik air mata
Sebab, sepanjang sejarahmu adalah luka

Pada masa Cut Nya
Peluru Belanda mengharu birumu
Pada masa merdeka
Peluru GAM dan serdadu melukai dadamu
Pada tubuhmu yang lunglai
Orde baru menyedot sumsum tulangmu
Dan kini gempa dan tsunami
Meluluh-lantakkanmu

Mendengar namamu saja
Sudah menitik air mata
Kerena tiap tarikan nafasmu
adalah derita

Pada mayat-mayat yang berserakan
Kutorehkan sajak-sajak pedihku
Namun semilyar kata pun
Tak cukup mencatat tangismu

Jakarta, Januari 2005

D. Kemalawati
SAJAK UNTUK PELUKIS OMBAK
untuk: Virse Venny

apakah artinya sajakku ini
ketika ombak yang kau lukiskan di kanvas biru
tak lagi mendamaikan hatiku
buihnya tak putih lagi membelai tepian
ia telah murka
tubuhnya yang jenjang menyentuh langit
menerkam apa saja

apakah pagi itu engkau masih membedaki
punggung suamimu
yang lelah berbaring seharian
memandikan sikecilmu
sambil mencandai keningnya yang lucu
atau sedang menyisir rambut keriting gadismu

apakah artinya sajakku ini
ketika aku tak bisa menerka
di belantara manakah jasadmu kini
engkaukah yang masih terbaring
diantara tubuh legam, kaku dan kesepian
terjepit diantara puing-puing reruntuhan

engkaukah itu yang dibalut kantong-kantong hitam
ditumpuki dipinggir-pinggir jalan
tanpa air terakhir dan kain kafan
engkaukah itu yang hanya diantar relawan
ke liang-liang panjang pekuburan
tanpa kutemukan batu nisan

kepada siapa lagi kutawarkan sajakku
agar menjadi talenta dalam geliat warna
memaknai langkah kaki telanjang ini
aku lelah menyusuri lorong-lorong hampa
mencari tapak rumahmu
menemukan sisa-sisa lukisan di dindingnya
atau memungut kuas kecil
saat kau lukiskan ombak itu

aku kini hanya bisa memandang ombakku
dalam lukisanmu
dalam ikhlas zikirku ,tahlilku, tahmidku
kumohonkan pada Mu ya Allah
sucikan jasad saudara-saudaraku
yang pulang dalam gemuruh ombak-Mu.

Banda Aceh, 9-10 Januari 05

Deny Pasla
DZIKIR ANAK LAUT

aku dengar semalam suntuk derumu yang pilu menyeru anak laut berdzikir
Kepada daratan, kota-kota di dunia karena mereka tak pernah tidur dan lupa
Tak ubahnya seperti balita terpedaya oleh boneka
Ternyata laut juga punya kuasa

Aku dengar dari lantai empat ratus delapan puluh dua
Kau berteriak pada malam yang tak pernah dijamu kepasrahan tajajjud kota-kota yang angkuh
Sepuh sehingga pagi harus menanggung beban gelombang itu pun teramat santun

Aku dengar datatan kota-kota pagi itu tiba berdzikir
Anak-anak laut berteriak menjemput kematian dalam sujud mereka yang panjang
Menghempang maut dan terseret di pintu-pintu terbuka rahim ibu mereka di daratan
Yang pongah itu tak sanggup menghalangi langkah gaib tsunami kematian sebegitu dekat
Dengan nafas magma larva hitam
Tak ada jalan lain dari kematian yang menyeringai doa-doa
Kehilangan mukjizatnya
Takdir harus dipercaya hari itu karena telah mengunci setiap jiwa
Aroma kematian semakin mesra mendekapnya

Aku melihatmu ketika itu perahu berada tepat di ujung kakiku
Berdiri seperti seekor teri
Jaring-jaring api bergelombang dalam saf-saf maha panjang
Kengerian muncul di barisan belakang

Hasan Aspahani
TUAN NUH

akulah penumpang yang terjun dari kapalmu
terbuai landai pantai yang tiba-tiba surut

akulah penumpang karam pada bandang banjirmu
padahal amuk laut tak pernah minta disambut

Sam Haidy
INDONESIA MENANGIS

Tak akan sempat nisan terpahat;
ribuan nama memesan bersama-sama.
Sementara,
mayat-mayat yang belum berangkat,
terbaring berselimut puing-puing.

O, Tsunami,
airmu bermuara di mata kami!

Aan M Mansyur
KISAH SEORANG PENJUAL KAFAN

tak seperti di kiri dan di kanan
tokonya selalu sepi pelanggan
meski ia juga menjual kain
seperti toko-toko yang lain

kalau ada orang yang mati
apalagi penguasa yang suka korupsi
ia sungguh bersenang hati
sebab kainnya laku terbeli

begitulah dari jaman ke jaman
ia hanya berjualan kain kafan
agar hidupnya bisa terus berjalan
dan anak-istrinya bisa makan

semalam ia lihat dari tv disiarkan
di aceh sebuah musibah datang
di mana-mana mayat berserakan
mengiris hati, sungguh menyedihkan

ia menangis dan berucap pelan,
“sungguh, ini bukan doaku, Tuhan!”

12/2004

Nurdin F. Joes
AKU MASIH PANJANG UMUR

Atas segala kerelaan-Mu, Tuhanku
umurku masih panjang
tidak tenggelam dalam pecah tanah
gempa bumi
tidak juga digulung dalam gelombang raya
tsunami
dan tidak terlalu menderita pengungsi
bergerak ke sana ke mari
menuju tiga kota: Langsa, Lhokseumawe
dan Sigli

Panjang umur itu, Tuhanku
bukan berarti tidak akan mati
mungkin juga tak lama lagi
Engkau sengaja panjangkan umur
untuk menguji ketabahan
seberapa besar tersisa kesabaran
sebesar apa rasa cinta sesama
memahami penderitaan si miskin
merasakan pahit kaum papa
mendengar jerit tangis anak-anak
kehilangan ayah ibunya
mendengar tangis suami kehilangan anak-anak
dan istrinya
mendengar raungan keras ibu yang kehilangan
anak-anak dan suaminya
mendengar gemuruh huru-hara manusia
yang kehilangan harta bendanya
mereka lapar berhari-hari
turun tangisnya berhari-hari
sampai kemudian tangispun tak ada lagi
oleh sebab air mata yang tak ada lagi

Atas segala izin-Mu, Tuhanku
umurku masih panjang
dan bukan berarti tidak akan mati
matiku sudah tercatat di tangan-Mu
ketika benih cinta di tanam ayah-ibuku
Engkau tentu telah menulis
kapan akan mati
di mana rezeki
di mana pertemuan
dan di mana kekasih

Atas maha kasih-Mu, Tuhanku
umurku masih panjang
dan bukan berarti tidak akan mati
tapi dalam maha kasih-Mu itu
betapa aku masih sangat pincang
berjalan tertatih-tatih menuju rumah-Mu
betapa terbata-bata ku baca firman-Mu
betapa aku masih kurang paham
Menghadap kiblat-Mu
itu terlihat dari:
betapa banyak anak-anak manusia lapar
padahal aku adalah ayah-ibunya
betapa banyak kaum hawa menangis
padahal aku adalah pelindungnya
betapa banyak lelaki merintih
padahal aku adalah saudaranya

betapa banyak para miskin papa
padahal nasi yang kumakan adalah makanannya
betapa banyak anak-anak telanjang tak berbaju
padahal pakaianku adalah pakaiannya
betapa banyak bocah-bocah keras menangis
padahal tangis mereka adalah tangisku juga
betapa hanya mengasihi anak-anak sendiri
padahal anak-anak lain adalah juga anak-anakku sendiri

Atas segala maharahim dan maharahman-Mu
umurku masih panjang
telah benarlah Engkau maha pengasih
Engkau telah banyak memberi
terlalu banyak merela
terlalu banyak mengasih
terlalu banyak menjaga
tetapi aku yang terlalu banyak Kau beri
jarang memberi
Engkau yang terlalu banyak merela
terlalu jarang aku merela
Engkau yang terlalu banyak mengasih
terlalu jarang aku memberi kasih
Engkau yang terlalu banyak menjaga
terkadang aku tidak menjaga diri sendiri

Atas segalamahaakbar-Mu, Tuhanku
umurku masih panjang
dalam panjang umur itu
aku mohon maaf atas khilafku
luruskan jalanku untuk kembali
bila suatu saat Kau tentukan titik henti

Banda Aceh, 08 Februari 2005

Mohd. Harun Al Rasyid
AKU BERTANYA PADA-MU
(Bagi korban tsunami)

Tuhan
Kami adalah titik zarrah
Bertaburan di bumi-Mu
Yang berhiaskan kasih dan cinta
Kini menunduk dalam sunyi jiwa
Dengan wajah tanpa cahaya ruh
Setelah kasih dan cinta-Mu tercabut
Meski hanya sekejap

Wahai Tuhan Yang Maha Kudus
Aku bertanya pada-Mu
Mangapa kasih-Mu Kau cabut
Pada pagi ahad 26 Desember 2004
Kala surya melambai dalam damai
Kala bayiku sedang bercanda dengan ibunya
Kala putri kecilku sedang sarapan di beranda
Mengapa gempa dan tsunami
Menenggelamkan tangis puluhan ribu bayi
Menggoyang jantung puluhan ribu anak-anak
Menyirnakan ratapan pilu puluhan ribu ibu hamil
Dan menyusui, serta puluhan ribu orang tua renta

Wahai Khaliqurrahman
Aku bertanya pada-Mu
Mengapa Kau kirim buldozer-Mu
Dari dasar laut yang sunyi dan amis
Buldozer dengan rupa naga
Jemarinya angker meremas-remas alam
Lalu menelan bayi-bayi kami
Anak-anak kami
Istri-istri kami
Suami-suami kami
Ibu-ibu kami
Ayah-ayah kami
Adik-adik kami
Kakak-kakak kami
Saudara-saudara kami
Tanpa memilih dan memilah mangsa?

Tuhan
Sebagai ayah aku hanya ingin bertanya
Karena kutahu anakku yang belia
Belum tahu apa-apa dengan kemunafikan
Belum kenal aneka kemusyrikan
Belum tahu mengenai bibit-bibit dendam
Apalagi dengan nafsu angkara murka

O Tuhan Yang Maha Menjaga
Sebagai hamba aku sadar dalam iman
Aku adalah ciptaan-Mu
Sebagaimana anak-anak dan istriku
Yang telah kau panggil
Bersama lebih dua ratus lima puluh ribu jiwa

Di bawah singgasana-Mu
Perkenan aku memohon
Berilah mereka payung cinta-Mu
Abadi dalam rahmat
Dan aku yang masih bernafas

Sadarkanlah
Sadarkanlah
Sadarkanlah
Agar selalu mampu merangkai rasa sedih
Menjadi untaian tasbih
Merangkai gelisah menjadi sajadah

Tuhan Yang Maha Perencana
Aku bertanya pada-Mu
Karena aku sadar memiliki-Mu

Desember 2004 – Januari 2005

Sulaiman Tripa
ADA KHANDURI DI GAMPONG KAMI

ada khanduri di gampong kami
karena ada orang yang telah mati

tapi sebenarnya bukan khanduri
orang gampong harus mengingat Rabbi

banyak tamu yang datang
dari berbagai taman

lalu mereka melaksanakan khanduri
yang jauh dari mengingat Rabbi.

banda aceh, 2005-2006.

Fikar W.Eda
NYERI ACEH

Tanah Aceh, nyeri kami
nyeri daging dan tulang kami
nyeri darah dan tangis kami
nyeri gigil,
nyeri perih
nyeri kami
inilah nyeri kami.

nyeri laut menggulung pantai
lumatlah rumah,
remuklah pohon
dan tubuh kami, tubuh kami
bercecer dihimpitan pohon itu
hanyut bersama papan berlumut
mengapung di jembatan roboh
nyelinap di selokan
terdampar di trotoar basah
tersangkut pada ranting-ranting beku

Tanah Serambi Mekkah, nyeri kami
nyeri daging dan tulang kami
nyeri darah dan tangis kami
nyeri gigil
nyeri perih
nyeri kami
inilah nyeri kami

bocang bocah polos
berlari di pasir.
di belakangnya ibu dan bapak
menangkapi ikan-ikan terdampar
ketika laut surut

tapi tiba-tiba
gemuruh menerbangkan pasir
langit gelap
ombak membentuk lipatan
menerjang dari arah belakang
tubuh rapuh tersentak ke depan
membentur beton-beton
terdorong ribuan meter

bocah bocah itu
bagai kapas terlilit gulungan laut
terdampar di tanah datar
menghapus jejak-jejak di pasir
lenyaplah tawa
raiblah canda

Nestapa Aceh dalam nyeri dan perih kami
jangan kalian cari lagi Meulaboh
jangan kalian tanya di mana Banda Aceh
dimana Calang, Teunom, Lamno, Lhokseumawe,
Bireuen, atau Sigli

peta-peta telah koyak
terlipat dalam gulungan laut

Ya Allah
rebahkanlah mereka
bocah-bocah itu,
orang-orang tua itu
laki-laki dan perempuan itu
di atas permadani-Mu yang harum
tempatkanlah mereka pada
sisi-Mu yang maha mulia

dan kepada kami, ya Allah
berilah kekuatan
menanggungkan perih ini
menjadikannya cermin
tempat kami memungut hikmah.

2004

din saja
TSUNAMI DAN NYANYIAN SUNYI

sudahlah, tsunami ini bukan bencana,
hanya peringatan, bagi kita semua,
yang tak peduli dengan nasib orang-orang miskin

bersyukurlah, tsunami ini berkenan dating,
untuk mengingatkan kita tentang kekuasaan
bukan tujuan, bukan alat
untuk menindas orang-orang tak berdaya

tsunami datang
orang-orang dating
tsunami pergi
orang-orang pergi
tinggallah sepi berteman sunyi
yang pergi pergilah
yang tinggal mampuslah

Banda Aceh, 8 Januari 2005

Wina SW1
AKHIRMU

laut mengantar pinangan
tanpa jeunamee*) dan idang meulapeh*)
maka menikahlah engkau dengan keabadian

Kyoto, 12 Januari 2005

*) jeunamee adalah emas kawin
*) idang meulapeh adalah hidangan (makanan) special (utama) dalam acara perkawinan di Aceh, juga acara maulid nabi Muhammad SAW.

Doel CP Allisah
INGATAN. 2
: bagi yang pergi bersama tsunami

wajah-wajah kalian jelas sekali tergambar
begitu dekat, melekat
begitu manis, menawan
adik-adikku
anak-anakku, para ponakan kecil nakal
aku ingat kediaman dan kepatuhanmu terakhir, (pai) – cut nourah
aku ingat kegilaan nonton bolamu, (nova) – novi – dinda
aku ingat rengkuhan minta gendongmu. (lydia) – razi – abi – khalis
aku ingat ceriwismu, (oliv)
aku ingat semua, berwarna
kalianlah “perusuh abadi“ rumahku yang hening
kalianlah kembang harum di halamanku
yang mengirim tiap wangi ke dasar hati.

wajah-wajah kalian jelas sekali tergambar
dan aku tak ingin menghapusnya sepanjang masa
menjadi kenangan nikmat dalam renungku
menjadi alunan musik dalam nafasku

wajah kalian begitu jelas dalam airmataku
bergandengan tangan menuju surga!

Putra World Trade Centre,
Kuala Lumpur, Malaysia, 25 maret 2006

LK Ara

KAIN KAFAN

Masihkah sempat kain kafan
Yang kami kirimkan
Untuk membungkus tubuhmu saudaraku

Tubuhmu begitu cepat lunglai
Dan tak bernyawa lagi
Oleh badai tsunami

Masihkah sempat kain kafan
Yang kami kirimkan
Untuk membungkus tubuhmu saudaraku
Mengingat tempat kita
Kini berjauhan
Dipisahkan pulau
Dipisahkan lautan

Kain kafan yang kami kirimkan
Kain kafan putih
Bersih
Ingin membungkus tubuhmu
Penghabisan kali
Sebelum tubuhmu dibaringkan
DI rumahmu terakhir

Bila kain kafan
Yang kami kirimkan
Belum juga sampai
Oleh banyak hal
Termasuk kesulitan pengangkutan
Dan pendeknya waktu
Sedang tubuhmu
Harus segera
Mendiami rumah baru
Kami telah mengirim
Alfatihah lebih dahulu
Tenanglah tidur saudaraku
Nikmatilah pertemuan dengan Tuhanmu

Pangkalpinang, 28 Des 2004

====

ILUSTRASI: Lukisan Mahdi Abdullah

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>