Tsunami dan Sajak-sajak Penyair Aceh

LK Ara, penyair dan pengamat sastra |
Kata ‘tsunami’ mungkin tidak kita temui dalam puisi penyair klasik Aceh, Hamzah Fansuri. Namun, penyair sufi Aceh yang hidup pada abad ke-17 itu dalam puisi Syair Perahu ada menyebut perahu, riak, karang dan ombak: Ketahuilah olehmu hai anak dagang/riaknya rencam ombaknya karang.
Dengan bahasanya yang khas sang penyair penyebut riak yang kacau dengan riak rencam. Bisa jadi, itu sebuah isyarat, bahwa bencana ombak tsunami bisa mengancam rakyat Aceh setiap saat. Pada bagian lain untuk melukiskan betapa tajamnya karang dan akibatnya bila disentuh perahu diungkapkan dalam baris, karangnya tajam seperti tombak/ke atas pasir kamu tersesak.
Syair Perahu ditulis untuk menggambarkan alam dengan berbagai kemungkinannya. Mempunyai fungsi sebagai puisi nasihat Syair Perahu pada bagian awal sudah menurunkan baris-baris, Wahai muda, kenali dirimu/ialah perahu tamsil tubuhmu/tiadalah berapa lama hidupmu/ke akhirat jua kekal diammu.
Berbeda dengan kemungkinan perobahan alam yang dilukiskan Hamzah Fansuri, penyair modern Aceh yang hidup di abad ke-21 menulis puisi setelah perubahan alam itu terjadi. Mereka menulis puisi setelah bencana tsunami terjadi, meluluh-lantakkan Aceh, dan menelan korban puluhan ribu jiwa. Sejumlah penyair telah mengekpresikan diri dalam persentuhannya dengan gelombang dahsyat itu. Untuk menyebut beberapa nama, misalnya Azhari, Fikar W Eda, Mustafa Ismail, Doel CP Allisyah, Din Saja, Wina SW, dan Deny Pasla.
Bagaimana gelombang datang dan menyergap manusia dilukiskan Fikar W Eda (lahir 1966) dengan bahasa sederhana, namun indah karena mengandung dramatik. Dilukiskan ada bocah-bocah bermain-main dan berlari-larian di pasir pantai. Di belakang anak-anak itu ada menjaga ibu bapa mereka. Anak-anak dan orang tua mereka menangkap ikan yang terdampar di sana, karena air laut sedang surut. Tulis Fikar, bocah bocah polos berlari di pasir di belakangnya ibu dan bapak menangkapi ikan-ikan terdampar ketika laut surut. Lalu lanjut sang penyair,
tapi tiba-tiba
gemuruh menerbangkan pasir
langit gelap
ombak membentuk lipatan
menerjang dari arah belakang
tubuh rapuh tesentak kedepan
membentur beton-beton
terdorong ribuan meter
Pada bagian lain dalam puisi Nyeri Aceh (Republika, 9 Januari 2005) itu dilukiskan betapa bocah-bocah itu bagai kapas terlilit gulungan laut kemudian terdampar. Lalu, lenyaplah tawa/raiblah canda.
Lebih lanjut sebagai akibat terjadinya bencana tsunami digambarkan penyair kota-kota telah tiada. Jangan kalian cari lagi di Meulaboh /jangan kalian tanya di mana Banda Aceh/di mana Calang, Teunom, Lamno, Lhok Seumawe /Bireuen atau Sigli.
Penyair Azhari (lahir 1981) dalam puisinya Ibuku Bersayap Merah menggambarkan pengalaman seseorang yang kembali ke kampung halaman setelah terjadi bencana. Ia ingin melihat orang tua dan adik-adik. Tapi tiba di sana apa yang dilihatnya? Semua sudah tiada. Kampung sudah berubah menjadi lautan. Rumah tiada, ayah dan bunda tiada. Dan adik pun raib dibawa lautan. Tulis Azhari, Ibu, Abah dan Dik Nong /setelah bala aku pulang ingin melihat /kalian dan kampung.
Selanjutnya, baris-baris sajak seperti ditulis dengan rasa seperti menahan tangis,
kukira 26 Desember Cuma mimpi buruk
tapi tak kutemukan kalian disana
juga Arif kecil yang cerewet
seperti kalian, kampung kita ternyata sudah tiada
berubah menjadi laut yang raya
lihat ibu ada bangau putih
berdiri dengan sebelah kaki di bekas kamarmu
bangau itu tak bersayap merah
seperti dulu pernah kau ceritakan padaku
karena aku tahu bangau itu telah memberikan sayap
merahnya buatmu
agar kau peluk Abah dan Dik Nong ke dalamnya.
Agaknya apa yang dilukiskan Azhari merupakan pengalaman pribadi. Penyair yang aktif di Komonitas Tikar Pandan (kelompok kesenian yang bergerak di bidang kebudayaan di Banda Aceh) ini suatu waktu berada di luar rumah. Setelah selesai bencana ia pulang ke kampung dan ia menemui di sana semua sudah tiada.
Tentang kampung yang menjadi laut atau kota menjadi laut ketika bencana tsunami terjadi juga diungkapkan oleh penyair Mustafa Ismail (lahir 1971). Dalam puisinya, Peunayong, dilukiskan kota telah menjadi laut. Mengambil simbolis masa silam, penyair menulis baris, kudengar kau sempat berlari, menumpang Nuh/ketika kota menjadi laut.
Di Peunayong ada Rex — sebuah restoran terbuka tempat orang makan dengan santai. Tempat ini juga sering digunakan oleh para seniman untuk ngobrol sambil minum kopi. Restoran terbuka ini pun diserbu air. Digambarkan penyair dengan singkat, kau ingat, Rex adalah laut/tempat kita menyemburkan sajak.
Pada bagian akhir puisi ini ada hal yang menarik, mungkin sebuah ide yang mengelitik:
Tapi tidak sempatkah kau tanya pada Nuh
Mengapa Tuhan mengirim laut pasang
Dan mengapa Ia tidak mengirim perahu
Atau puncak gunung yang tinggi
Penyair Aceh yang menulis dari jauh adalah Wina SW. Ia kini sedang studi program doktor di Universitas Kyoto, Jepang. Penyair dan pembaca puisi ini menulis puisi Prolog Bulan, Kalau Kau Mau Memaafkanku, Epilog Bulan, Catatan Harian, Peraduan Putih, dan Rindu.
Dalam puisi Catatan Harian, Wina mulai bercerita keadaan pagi di sebuah negeri. Langit dan matahari bertukar sapa. Pada saat itulah angin mulai meliuk lalu bersenda gurau. Kemudian apa yang terjadi? Seketika bumi menggeliat/membelah yang tak tersirat/laut pun menghamburkan diri/gelombang menyentuh langit/buih-buih memutihkan setiap celah/tanah menghamburkan diri/tarian maut pun mulai dipentaskan/sang sakala memecah pagi/pintu-pintu rumahNya dibukakan.
——-
Sumber: Republika, Minggu, 16 Januari 2005
http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=184091&kat_id=364

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *