Ketika Wulan Menulis Bulan

Telaah Ringan atas Kumpulan Puisi “Menulis Bulan” karya Wulan Suminarsih
| Oleh : Dedy Tri Riyadi |
Sebuah puisi menurut Wulan Suminarsih adalah sebuah gerak alam bawah sadar yang mengemuka ketika waktunya tiba lalu menjadi suatu sajian dari penciptanya untuk siapa saja. Sajian yang dimaksud lebih luas dari sekedar kata-kata, dari makna yang dikandung oleh kata-kata tersebut, bahkan lebih dari suatu rasa yang didapat ketika pembaca telah selesai membaca puisi itu. Hal ini saya rangkum dari puisi-puisi Wulan di dalam buku Kumpulan Puisinya yang berjudul Menulis Bulan.
Pernyataan mengenai gerak alam bawah sadar itu bisa kita lihat pada puisi yang sekaligus menjadi judul buku ini yaitu Menulis Bulan;
Menulis Bulan
udara yang sepi
gerimis
dan cahaya malam
adalah istana
tempat ketika alam bawah sadar yang bernama
kejujuran bergugusan
di sinilah aku mulai menulis bulan.
Di sini jelas bahwa puisi-puisi yang dituliskan oleh Wulan merupakan respon di dalam dirinya terhadap dunia di luar dirinya. Respon yang kemudian muncul lewat 46 puisi di dalam buku Menulis Bulan ini ternyata adalah sebuah pernyataan perasaan diri Wulan itu sendiri. Contoh di dalam puisi Kau yang berkisah tentang Sang Pencipta, di sini pernyataan perasaan Wulan adalah selalu ingin Tuhan itu dekat. Dalam frasa yang tertulis di dalam puisi itu berbunyi “dekatkan kasih-Mu / sedekat / tarikan nafas dan denyut nadi.” Contoh lain di dalam puisi Sepucuk Surat, pernyataan perasaan Wulan adalah sebuah kegalauan akan sesuatu yang di dalam puisi itu ditulis sebagai “aku tak tahu / ke mana surat ‘kan kukirim”. Pernyataan perasaan lainnya adalah penyesalan, seperti di dalam puisi Semusim Cinta yang disebutkan di dalam puisi itu “andai kamu tak pergi dan juga aku / maka nirwana cinta / pasti milik kita.”
Selain pernyataan perasaan, respon lainnya adalah sebuah keputusan. Keputusan Wulan untuk melakukan sesuatu di dalam hidupnya. Contohnya pada puisi Cahaya di Matamu yang berkisah tentang seorang anak, Wulan menuliskan di bait terakhirnya begini; “sayang, / janganlah terlelap / biar ku bisa menangkap / cahaya di matamu / sepanjang waktu.” Keputusan itu memang terasa membujuk pihak lain. Tapi inilah Wulan. Dia juga sedikit menggurui di dalam mengejawantahkan keputusan dirinya itu, seperti yang ditunjukkan pada puisi Perempuan itu Bunga. Kalimat “Jadilah kembang yang berdiri kokoh pada / tangkai yang tipis,”bisa diartikan sebagai perintah atau amaran.
Artinya keputusan dalam diri penyair sudah meluber keluar sehingga seolah mendiktekan keputusannya itu kepada para pembaca. Hal yang agak mirip bisa ditemukan pada puisi Darah dan Kasih Bunda, di mana pada bait akhirnya dikatakan “karena bunda dan kau / satu darah / satu hati” Kenapa harus kau dan bukan aku yang dipertentangkan di dalam puisi itu. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan penyair telah keluar melebihi dirinya sehingga dia merasa harus mengajak orang lain (dalam hal ini pembaca) untuk masuk ke dalam konflik batinnya.
Hal yang mirip meskipun tidak sama adalah bahwa Wulan mengajak pembaca masuk ke dalam puisinya lalu membiarkan pembaca berada di dalam sajaknya, seperti yang dilakukannya pada puisi Katarsis dengan kalimat “Lalu, nikmatilah kesunyian itu.” Atau pada puisi Hati yang Membaca, dengan mengatakan, “namun abjadnya menyimpan jutaan makna / makin kautahu / karena kau punya mata hati.” Pembaca diminta mencari sesuatu di dalam puisi-puisi tersebut tanpa diberi petunjuk yang komprehensif dalam menikmati puisi-puisi itu. Tidak ada suasana yang dibangun di sana. Tidak cukup gambaran (imajeri) yang diberikan.
Sementara pada puisi-puisi yang lain, Wulan justru gigih membangun daya magis sebuah gambaran yang kuat agar pesannya bisa diambil sendiri oleh pembacanya. Seperti dalam puisi Bulan di Atas Sampan yang menceritakan ibu beranak yang kebingungan dengan hari depannya. Sajak yang diakhiri dengan sebuah kalimat sederhana “di atas sampan / ibu dan bayi / menangis pilu.” Sebuah gambaran yang menyedihkan muncul. Gambaran yang audiovisual bagi pembaca.
Gambaran yang jelas juga bisa dilihat pada puisi Gadis di Lampu Merah yang mengisahkan pengamen belia, atau Bukan Fatamorgana yang seperti fragmen bocah-bocah pemberi jasa menunggu sandal atau sepatu di depan mesjid. Dengan gambaran yang jelas seperti itu, pernyataan perasaan Wulan justru tidak mendominasi isi puisi. Pembaca bisa keluar masuk dan mengambil makna dari puisi itu dengan leluasa.
Agaknya, Buku Menulis Bulan memberikan suatu gambaran komprehensif di dalam kepenyairan Wulan Suminarsih, di mana yang dia inginkan adalah puisi sebagai pernyataan perasaannya, dan puisi-puisi di dalam buku ini berkembang dari puisi yang merupakan pernyataan perasaan Wulan secara tertulis sampai pada puisi yang sama sekali hanya memberikan sebuah gambaran yang jelas sehingga pembaca bisa menarik sendiri sebuah respon atau pemikirannya sendiri akan gambaran yang diberikan itu, dan pernyataan perasaan penulisnya tidak ada sama sekali pada puisi itu.
Jakarta, 25 Desember 2012
———-
Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal, Jawa Tengah. Ia bergiat di Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *