Lorong

Cerpen Mustafa Ismail | Cerpen ini pernah dimuat di Kompas, Minggu, 30 Juli 2006 |

Lorong itu sangat sunyi. Tidak ada satu pun yang lewat, sore itu. Bahkan
tiap sore, sangat jarang yang lewat di lorong sepanjang 700 meter itu.
Semua rumah dan gedung di sana membelakangi lorong itu dengan temboknya
yang tinggi. Semua seolah tidak mau membuatnya sebagai jalan untuk
dilewati.

Sebetulnya, lorong itu terlalu besar untuk disebut lorong. Sebab, lorong
itu lebih dari cukup untuk dilewati sebuah truk besar. Tapi karena
dipunggungi oleh rumah-rumah dan sebuah gedung hotel, jalan itu disebut
lorong. Tak ada yang tahu apa nama jalan itu, karena tidak ada lagi
plang nama di sana.

Hanya aku dan Pol yang kerap melewati lorong itu, berjalan kaki, sebagai
jalan memotong menuju ke Taman Budaya. Nyaris tiap sore kami lewati
jalan itu, sesekali dengan suasana sungguh sunyi: seperti berada di
sebuah tempat asing, tanpa orang melintas, suara bercakap-cakap, deru
kendaraan dan desir angin.

Sesekali, bulu kuduk kami pun berdiri melewati salah satu bagiannya,
yakni di belakang sebuah rumah besar peninggalan zaman Belanda yang
menjadi tempat tinggal salah satu pejabat di kota itu. Terkadang,
seperti ada sesuatu yang memperhatikan kami dari balik jendela lantai
dua rumah itu. Tapi kami tidak melihat siapa-siapa di sana.

Rumah itu selalu tampak sunyi, sebagaimana jalan yang dipunggunginya.
Seperti tidak ada berpenghuni. Kalau malam, di belakang rumah itu hanya
menyala tiga buah lampu sepuluh watt, yang dipasang berjejer di bagian
belakang, dan jelas itu tidak bisa memberi cahaya sampai ke lorong.

Lorong itu sendiri tidak punya lampu jalan, hanya mengandalkan cahaya
dari bagian belakang rumah-rumah yang memunggunginya. Juga tidak ada
orang lewat malam-malam di lorong itu, seperti tidak ada kehidupan di
sana. Cahaya temaram yang menerangi aspalnya mengesankan sebuah tempat
yang begitu malas dan diam.

Kami pun memilih tak lewat jalan itu bila kami pulang malam-malam dari
Taman Budaya. Kami lebih memilih jalan yang jauh sedikit. Siang saja ada
perasaan asing, apalagi malam. Tapi aku dan Pol tidak pernah secara
lebih lama membicarakan rasa terasing berada di lorong itu.

“Kayak di film-film horor saja,” kata Pol suatu kali. “Seperti sebuah
jalan di tengah kota tua, yang ditinggal pergi penghuninya, hanya diapit
gedung dan rumah- rumah tua yang berdebu, kusam, dengan sarang laba-laba
di mana-mana. Jalan ini cukup bagus untuk setting film horor, cukup
mencekam, atau film-film yang menampilkan ketegangan,” Pol menambahkan.

“Dasar pengarang. Semua bisa dijadikan setting cerita,” balasku. Kami
lalu tertawa, terus melangkah, dan pembicaraan beralih ke hal-hal lain,
atau melebar ke mana-mana dan melupakan tentang suasana jalan itu.
Begitulah pembicaraan kami sepanjang jalan dengan Pol, penulis novel
yang suka menggunakan nama samaran Micros, yang juga pejabat muda di
sebuah kantor pemerintah di kota itu.

Aku bersahabat baik dengan Pol, salah satunya karena sama- sama menyukai
humor. Segala hal yang kami bicarakan, selalu ada sudut humor yang kami
kedepankan, termasuk soal lorong sepi itu. “Karena tidak ada yang lewat
di jalan itu, bagaimana kalau jalan itu kita beli dan di atasnya kita
bikin kamar kontrakan. Sayang kan kalau ada tanah yang menganggur,”
tuturnya suatu kali saat melintas di sana.

“Boleh juga. Tapi siapa yang mau tinggal di kontrakan itu. Untuk lewat
saja orang enggan. Bisa-bisa kontrakan itu jadi rumah hantu. Mungkin
yang lebih tepat di atas jalan ini tiap malam kita bikin pentas musik.
Pasti jalan ini akan ramai,” kataku.

Kami lalu tertawa lepas. Ha-ha….

Tidak ada yang tahu mengapa lorong itu sepi dan tidak pernah dilewati.
Bahkan, sebagian orang di kota itu tidak pernah tahu ada sebuah lorong
cukup besar, yang menghubungkan dua jalan penting: Jalan Mohammad Jamin
dan Jalan Teuku Umar. Sejumlah orang mengira jalan itu buntu.

Memang, jalan itu tidak terlalu menonjol. Di pinggir kedua ujungnya,
berdiri tegak pohon asam tua yang cukup besar dan rindang. Sehingga,
dari jauh mulut lorong itu tak tampak, tertutup rimbunnya pohon asam.
Boleh jadi jika pohon asam itu ditebang, jalan itu akan tampak dari
jauh. Entah mengapa, wali kota tidak melakukan itu.

Oh ya, soal pohon asam di mulut lorong itu ada ceritanya. Tiga puluh
tahun lalu, pohon asam itu pernah dicoba ditebang dengan menggunakan
mesin pemotong kayu. Tapi batang pohon asam itu tidak mempan ditembus
mesin pemotong. Kulitnya pun tidak terkelupas. Orang yang diupahkan
untuk memotong pohon itu kemudian justru sakit.

Terus, pejabat yang memerintahkan supaya pohon asam itu dipotong dipecat
dari jabatannya. Pohon itu ada penunggunya, kata orang. Penunggunya
seorang gadis Belanda. Konon, gadis Belanda itu dulu gantung diri di
pohon asam itu karena dilarang berhubungan seorang pemuda pribumi.

Cerita itu beredar dari mulut ke mulut. Tapi tak begitu jelas
kebenarannya, karena tidak ada yang bisa ditanyai. Tak jelas, apakah
sepinya lorong itu ada kaitannya dengan pohon asam tersebut. Tak ada
cerita apa pun yang beredar tentang lorong itu, setidaknya dalam sepuluh
tahun terakhir aku tinggal di kota itu.

Pol pun, yang asli penduduk kota itu, tidak pernah menceritakan ada
cerita-cerita tertentu tentang lorong itu. Bahkan, cerita tentang pohon
asam di mulut lorong itu pun Pol hanya tahu berdasarkan cerita “kata
orang”. Anehnya, suasana sunyi senyap justru di sepanjang lorong, bukan
di sekitar pohon asam yang disebut ada penghuninya.

Meski begitu, kami tetap melewatinya untuk mendapatkan jalan tercepat
menuju Taman Budaya, tempat kami nongkrong tiap sore.

Suatu malam, tanpa sadar kami melintasi jalan itu. Perasaan kami aneh
begitu menyadari kami telah berada di sana, tepatnya di belakang rumah
besar peninggalan Belanda yang ditinggali pejabat itu. Aku tiba-tiba
merasa ada seseorang yang sedang mengawasi kami dari balik jendela rumah
yang lampunya menyala temaram itu.

“Mengapa kita lewat sini?” tanyaku kepada Pol, yang tiba-tiba berhenti
berjalan seperti merasa- rasa ada sesuatu yang aneh. “Entah,” katanya.
“Mungkin karena kita keasyikan ngobrol dan tanpa sadar langkah kita
menuju ke sini,” ia melanjutkan. “Tapi tunggu dulu, ada sesuatu di
jendela itu.”

Kami berhenti dan memandang ke jendela itu. Tapi sepi. Lampunya yang
temaram, di balik gorden putih transparan, tidak menampakkan apa-apa.
Kosong. Tapi ketika pandangan kami alihkan dan kami mulai berjalan lagi,
lagi-lagi aku merasa seperti ada sesuatu di jendela rumah itu.

Aku dan Pol serentak berhenti. “Ada yang aneh,” kataku. “Ya, aneh sekali
di jendela itu. Jendela itu seperti hendak bicara sesuatu kepada kita,”
Pol menimpali. Lagi-lagi memandangi lekat-lekat jendela itu.

“Mau ngasih uang ke kita kali,” kataku mencoba bergurau.

“Iya, buat bikin kontrakan di jalan ini,” Pol menambahkan.

Pol tersenyum tipis, mau tertawa tapi ditahan. Aku sendiri tidak bisa
menahan tawa. Tapi tiba-tiba tawaku terhenti melihat ada bayangan putih
melintas di balik gorden transparan jendela rumah itu. Seperti sesosok
tubuh perempuan, berambut panjang perak kemerah-merahan, memakai pakaian
tidur.

“Mungkin putri pejabat yang tinggal di rumah itu,” kataku.

Pol tidak merespon. Ia terus memandang ke jendela itu. Tiba- tiba lampu
mati, dan gelap merayap di dalam kamar itu, lalu jendela kamar itu
dibuka. Cahaya bulan masuk. Tak lama, terdengar sebuah tangis kecil
perempuan. Dalam tangis, terdengar keluh: “Aku tidak mau terus-menerus
dikurung di sini. Aku capek. Kalau Bapak sayang sama aku, kawini saja
aku. Aku tak kuat terus bersembunyi begini.”

Aku dan Pol menahan napas berusaha mendengar apa yang terjadi di kamar
itu. Suara seorang lelaki kemudian terdengar menanggapi keluh perempuan
tadi.

“Sabar. Belum saatnya sekarang. Aku bisa kehilangan segala- galanya,
jabatan dan keluarga yang sangat menyayangiku. Istri dan anak-anakku
pasti akan marah besar kalau aku mengawinimu. Aku sedang mencari cara
untuk memindahkanmu ke sebuah rumah di pinggir kota, agar bisa tenang.”

Pol memandangiku. “Aku hafal suara itu,” katanya.

“Suara siapa?” tanyaku.

“Sabar dulu. Kita dengar dulu,” Pol berbisik.

Suara perempuan kemudian terdengar lagi, kali ini dengan sedikit nada
emosi. “Apa karena aku seorang pembantu, sehingga Bapak tidak berani
menyatakan bahwa aku istri sahmu, meskipun kita kawin tanpa diketahui
orang- orang dan tanpa surat-surat. Kalau cinta padaku, seharusnya Bapak
berani terbuka.”

Tapi lelaki itu tidak menjawab. Sunyi. Juga tidak ada tangis lagi.
Sejenak, kami saling memandang. “Siapa lelaki itu,” aku kembali bertanya.

“Pejabat yang tinggal di rumah itu.”

Aku mengangguk-angguk. Gila juga dia. Padahal pejabat itu dikenal alim
dan santun. “Pasti pembantunya cantik sekali sehingga ia tergoda,” kataku.

“Mungkin.”

Ketika kami melewati lorong itu beberapa hari kemudian, kami kembali
terkesiap sesampai di belakang rumah itu. Ada sosok tubuh di balik kaca
dan gorden jendela seperti mengawasi kami. Aku dan Pol berhenti,
memandang rumah itu. Tiba-tiba gorden terkuak, dan jendela kaca itu
terbuka.

Sesosok perempuan muda, berhidung mancung, berkulit putih, dan berambut
panjang kemerahan memandang ke kami. Tapi senyumnya kecut, wajahnya
pucat. Bibirnya lalu bergerak-gerak, seperti ingin mengatakan sesuatu,
namun tidak ada suara. Tangannya melambai-lambai kepada kami.

Kami hanya terdiam menatap perempuan itu. Kami tidak bisa mendekat,
karena ada tembok setinggi 1,5 meter dengan kawat berduri di atasnya.
Aku dan Pol lalu saling memandang. “Mungkin perempuan itu butuh
pertolongan kita untuk bisa keluar dari rumah itu,” kataku.

“Iya,” Pol menimpali.

Kami kembali memandang ke jendela itu. Tapi jendela itu telah sunyi.
Daun jendela telah tertutup rapat, gorden yang tadi tersibak kembali
rapi. Tidak ada perempuan itu. Seperti tidak terjadi apa-apa barusan.
Aku dan Pol kembali saling memandang. Lalu, kembali melangkah buru-buru
meninggalkan punggung rumah besar itu.

Aku dan Pol tidak pernah lagi melewati lorong sepi itu setelah sehari
kemudian koran lokal memberitakan penemuan sesosok tubuh perempuan muda
tergantung di kamar bagian belakang rumah besar peninggalan Belanda yang
ditempati seorang pejabat kota itu. Kami mencari jalan memotong lain
untuk berjalan kaki ke Taman Budaya.

Lorong itu menjadi sangat-sangat sepi. Belakangan, kalau malam lorong
itu kerap menjadi tempat transaksi narkotika dan sejenisnya. Beberapa
kali kasus pemerkosaan juga terjadi di lorong itu. Bahkan, belum lama
ini, seorang perempuan muda pekerja seks ditemukan mati terbunuh di sana.

Kami merinding membayangkannya….

Depok, 14 Juni 2006

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0607/30/seni/2840006.htm

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>