Panggung Sastra Terapung Kalimalang Digelar Selasa

Oleh Irman Syah | Acara: Selasa, 15 Januari 2013 pagi hingga pukol 23.59 | Tempat: samping Unisma Bekasi, Jalan Cut Mutia 83 Bekasi. |
SESUATU YANG BARU akan selalu membius kenyataan dan tatanan, sementara kebaruan itu tidak akan pernah bertahan lama, selalu berkembang dan akan terus melaju pada kebaruan berikutnya. Begitulah, kebaruan itu tidak akan pernah berhenti selagi dunia terkembang dan langit menaungi kesehajaan matahari atau bulan yang ganti-berganti menjinakkan siang dan malam lewat sinar dan cahaya-Nya.
Kemajuan teknologi, komunikasi dan ilmu pengetahuan telah menyeragamkan pola berpikir, kebutuhan, akhlak (tingkah laku), menipiskan budipekerti dalam ukuran nilai kebangsaan. Hal ini mesti dilawan melalui perilaku hidup yang sesuai dengan kodrat alam semesta. Maka, kesenianlah corong yang tepat untuk membahasakan kebudayaan dan seluk-beluk persoalan atas nilai kerakyatan.
Merespon kenyataan itu, Sastra Kalimalang menyiapkan program gerakan kebudayaan yang bertajuk Pentas Musik Rakyat. Pertunjukan ini akan dirangkum ke dalam event spektakuler, PANGGUNG TERAPUNG. Dengan begitu, Komunitas Sastra Kalimalang tetap setia memantapkan sikapnya untuk mewujudkan Ruang Publik menjadi Ruang Kultur: ya, sebuah impian peradaban yang mengangkat harkat hidup orang banyak.
Panggung Terapung yang diapungkan tiap tiga bulan sekali ini akan membahasakan kerohanian lewat kacamata kebudayaan. Pentas Musik Rakyat ini menurut rencana akan dihadiri oleh beberapa tokoh yang bakal mempersembahkan karya, gagasan, atau pokok pikiran lainnya. Tokoh tersebut, antara lain adalah Anto Baret, Sutardji Calzoum Bachri, Irman Syah dan KONG Gontur El Mogas. Acara ini dimaksudkan untuk membangun kesadaran rakyat dalam menumbuhkan nilai kerohanian dan pemahaman serta sumbangsih pikiran tentang Situs Buni di Babelan.
Melalui Panggung Terapung, rakyat diharapkan mampu membangun kesadaran akan persoalan lewat cara pandang yang lebih mengakar. Ketidaktepatan pola pikir tentu akan mengakibatkan perselisihan, lama kelamaan tentu akan menumbuhkan pertikaian. Berdirinya Mall, Square dan Plaza, atau Pembangunan Pembangkit Listrik tenaga Batubara akan berubah magnit yang menyulut gerak hidup rakyat, dan prilaku seakan begitu saja bergeser ke arah yang tak menentu.
Ikut serta dalam memeriahkan acara ini antara lain, Deavis Sanggar Matahari, KPJ Bekasi, KSGJ (Komunitas Seniman Gedung Juang) Tambun, De Kassyaf, Paduan Suara Mahasiswa “Soeara Serajoe” Unisma Bekasi, Teater Korek UNISMA dan tentu pula tak ketinggalan Tuan Rumah Sastra Kalimalang Akustik. Diharapkan pula kehadiran dan prtisipasi dari Komunitas Musik, Sastra, Teater dan Seniman beserta Warga masyrakat kalimalang Bekasi. Dengan begitu, seni menjadi milik bagi semua kalangan. Acara berlangsung dari pukul 09.00 – 23.59 dimulai dengan bersih-bersih sepanjang Kalimalang dan Penanaman Pohon.
Dengan adanya komunikasi lewat media kesenian masyarakat tentu akan mulai paham, kemudian berangsur kembali ke tapakan awal lewat pijakan budaya. Mereka nanti juga akan bosan sendiri dengan mall, plaza dan segala macam tempat yang serupa. Kerinduan akan kembali mengajarkan mereka untuk memilih tempat yang berkesesuaian dengan detak hati: laiknya fungsi taman, tepian mandi, pinggir kali, atau teluk dan pantai di ujung tanjung. Tari, musik, dan sentuhan pertunjukan lainnya akan memarakkan kepulangan mereka dan tetap setia mencintai Bumi Pertiwi dengan penuh ketulusan. [R]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *