Membaca Panorama Cerpen Korea

Oleh: Maman S. Mahayana, kritikus sastra dari Universitas Indonesia | Honorable Professor pada Hankuk University of Foreign Studies, Korea Selatan |
Apa yang dikatakan Alexandre Sergevich Pushkin (1799—1837), tokoh pembaharu kesusastraan Rusia, tentang seorang penerjemah? “Penerjemah itu laksana kuda beban. Ia membawa harta kebudayaan sebuah bangsa dari satu negeri ke negeri lain.” Begitulah, berkat peran yang dimainkan seorang penerjemah, bangsa yang berada di negeri lain itu, serta-merta dapat menikmati harta kebudayaan bangsa lain. Terjadi pengenalan dan pemahaman tentang kebudayaan lain yang mungkin sebelumnya begitu asing dan berada nun jauh di sana. Dengan usaha penerjemahan itu, setidak-tidaknya, harta kebudayaan bangsa lain yang sebelumnya seperti berada dalam lorong gelap hutan belantara, tiba-tiba laksana menyembulkan setitik cahaya, membuka jalan terang untuk melangkah mendekati, melihat ceruk-ceruknya, dan coba memahaminya.
Berkenalan dengan kebudayaan asing sesungguhnya tidak sekadar menambah wawasan, membuka cakrawala baru tentang kebudayaan dan tata kehidupan di belahan dunia lain, mengilhami (inspiring) untuk menghasilkan karya yang mirip atau punya kesamaan, tetapi juga melebarkan peluang terjadinya akulturasi, adaptasi, bahkan juga adopsi. Dalam konteks itu, persoalan pengaruh-mempengaruhi jadinya merupakan sesuatu yang lumrah, lazim, dan menggelinding begitu saja sesuai dengan perkembangan zaman. Melalui cara itu pula kebudayaan sebuah bangsa tidak terjerembab pada kondisi yang statis dan stagnan, melainkan dinamis, tidak mandek, dan berkembang penuh vitalitas dengan serangkaian kegelisahan lantaran ada kegairahan mencipta, ada semangat mengumbar kreativitas.
Usaha penerjemahan cerpen Korea (Selatan), tentu saja dimaksudkan tidak hanya untuk memperkenalkan sebagian khazanah kesusastraan negeri ginseng itu, tetapi lebih jauh lagi, membuka cakrawala baru tentang konsep cerpen sebagai representasi kebudayaan masyarakatnya. Sangat kebetulan, ke-12 cerpen yang diterjemahkan dan diterbitkan dalam antologi Kupu-Kupu dan Laut ini boleh dikatakan mewakili perjalanan cerpen Korea sejak perang Korea tahun 1950 hingga tahun 2000-an. Tampak di sini, bahwa cerpen sebagai bagian dari ragam prosa, pada dasarnya merepresentasikan dinamika sosial-budaya masyarakatnya. Dengan demikian, antologi cerpen ini, seperti dikatakan Pushkin, laksana menawarkan harta kebudayaan bangsa lain (Korea) yang justru mengungkapkan sisi paling dalam dari perasaan dan naluri individu manusia.
Mengingat sastra merupakan ekspresi kegelisahan pikiran dan perasaan manusia individu pengarang yang mengungkapkan peri kehidupan masyarakat di sekelilingnya, memantulkan potret zamannya, dan menegaskan harapan-harapan, visi, obsesi, atau bahkan kecemasan tentang masa depan kehidupan masyarakatnya, maka sesungguhnya sastra dapat digunakan sebagai pintu masuk mempelajari dan memahami kebudayaan sebuah bangsa. Dalam konteks itulah, antologi cerpen Kupu-Kupu dan Laut, jadinya seperti salah satu jendela dari sebuah rumah yang bernama kesusastraan dunia. Dan ketika kita berdiri di depan jendela itu, panorama negeri ginseng dengan berbagai problem kemanusiaannya terhampar di depan mata.
***
Berbeda dengan cerpen-cerpen yang mengangkat tema kegetiran akibat perang sebagaimana tampak dalam cerpen “Dua Generasi yang Teraniaya” karya Ha Geun Chan atau cerpen lain yang menggambarkan tema sejenis, cerpen “Seoul Musim Dingin 1964” karya Kim Seung Ok seperti menawarkan aroma pesimisme. Tokoh si Lemah yang bunuh diri lantaran kematian istrinya, tidak sekadar menunjukkan kesetiaan cinta seorang suami (: lelaki), tetapi juga seperti hendak mewartakan suasana kehidupan yang suram. Di belakang itu, tentu saja ada persoalan besar yang melatarbelakanginya. Dan kembali, perang Korea laksana sebuah monumen hitam yang membawa masa depan begitu gelap.
Dalam kesusastraan Indonesia, cerpen-cerpen yang mengangkat tema revolusi fisik, perang melawan Belanda atau gambaran tentang kekejaman tentara pendudukan Jepang, kerap digunakan untuk menyelusupkan nilai-nilai kebangsaan. Musuh bangsa Indonesia dalam perang itu jelas: Belanda, Jepang, atau bangsa asing. Sentimen kebangsaan—bahkan semangat chauvinistic sering kali serta-merta muncul ketika terjadi konflik dengan bangsa asing. Itulah yang justru tidak terjadi pada bangsa Korea. Setidak-tidaknya yang dapat kita tangkap dalam kumpulan cerpen Korea selepas perang. Boleh jadi, persoalannya terletak pada ketidakjelasan posisi mereka dalam menentukan siapa lawannya. Bukankah dalam kasus Perang Korea, mereka berperang melawan bangsa dan saudara sendiri, bahkan mungkin sesama anggota keluarga, kerabat, teman atau tetangga sendiri. Bukan bangsa asing!
Cerpen “Jalan ke Shampo” karya Hwang Seok Youn dan “Bung Kim di Kampung Kami” karya Lee Moon Goo menggambarkan terjadinya perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat pedesaan. Ada nilai-nilai solidaritas yang mulai hilang dan digantikan dengan orientasi pada materi. Tokoh Young Dal yang rindu kampung halaman atau tokoh Baek Hwa yang terbiasa hidup dengan kemewahan di kota, seperti merepresentasikan terjadinya perubahan cepat orientasi masyarakat di pedesaan. Young Dal yang ingin kembali ke desanya harus menghadapi kenyataan, bahwa kini desanya telah digerus arus industri: laut disulap jadi daratan dan jalan membentang di atasnya. Sementara Baek Hwa, perempuan pelacur, adalah representasi perempuan desa yang tak dapat menolak dampak industrialisasi, tetapi ia harus tetap bertahan hidup.
Meskipun ada latar belakang yang berbeda yang dihadapi tokoh Young Dal dan tokoh Baek Hwa, keduanya seperti terjerumus pada muara yang sama: alienasi! Keduanya merasa terasing di kampungnya sendiri. Bahkan di sana digambarkan pula terjadinya erosi atas nilai-nilai solidaritas masyarakat pedesaan serta masuknya gaya hidup masyarakat perkotaan. Kehidupan modernisme mulai menggilas tradisionalisme.
Dalam cerpen “Bung Kim di Kampung Kami” karya Lee Moon Goo pengaruh industri itu digambarkan melalui mesin air untuk pengairan sawah. Dampaknya adalah pudarnya semangat guyub –solidaritas—masyarakat desa.
Cerpen “Dinihari di Garis Depan” karya Bang Hyun Seok mewartakan kisah lain dengan semangat yang lain lagi: aksi demonstrasi dan gerakan perlawanan kaum buruh. Sebuah kisah yang mencekam dan mengharukan tentang aksi mogok para karyawan pabrik. Gambaran tentang hubungan kerja, pemecatan (PHK) atau hidup yang dibekap oleh sistem kerja, juga tampak dalam cerpen “Sungai Dalam Mengalir Jauh” karya Kim Young Hyun dan cerpen “Kerja, Nasi, dan Kebebasan” karya Kim Nal Il. Yang penting dalam ketiga cerpen itu adalah munculnya gambaran tentang kelas pekerja dengan segala ketertindasannya. Kehidupan dunia perburuhan di mana pun agaknya sama saja. Di sana, pemerasan dan penganiayaan terhadap buruh —kelas pekerja—oleh para pemilik modal seperti sudah menjadi pemandangan biasa.
***
Selepas gerakan rakyat dan buruh pekerja yang terjadi pada dasawarsa 1980-an, sebagaimana terungkap dalam ketiga cerpen tadi, style dan gaya penceritaan dalam cerpen Korea tampak mulai bergeser memasuki wilayah yang abstrak. Kekuatan realisme dalam sejumlah besar cerpen Korea dalam kesusastraan Korea sesudah perang, tidak lagi menonjol. Meskipun demikian, kita masih tetap dapat mencermati ciri khas cerpen-cerpen Korea yang sangat mengandalkan cara kisahannya yang mengalir begitu saja, berkelak-kelok dengan akhir cerita yang selalu tidak terduga. Boleh jadi lantaran kisahannya yang mengalir begitu saja dengan tokoh-tokoh ceritanya yang laksana dibiarkan membawa nasibnya sendiri, maka batasan cerpen –cerita pendek—sebagai cerita yang pendek tidak berlaku bagi kesusastraan Korea.
Dalam tiga cerpen yang mewakili generasi sastrawan tahun 1990-an, yaitu “Kisah Singkat tentang Pekarangan,” “Pewarisan” dan “Laut dan Kupu-Kupu,” kisahan yang mengalir dan berkelak-kelok itu tidak lagi menyentuh deskripsi latar alam. Demikian juga, gaya penceritaan dan gambaran tentang latar coba tidak lagi setia pada kekuatan realisme, melainkan pada peristiwa yang melampaui realitas. Monolog interior yang memungkinan si tokoh bercerita sendiri tentang apa pun atau stream of conciousness (arus kesadaran) yang menjalinkelindankan peristiwa lakuan dengan peristiwa pikiran, menjadikan ketiga cerpen itu terkesan hendak mempermainkan latar waktu. Peristiwa masa lalu atau masa yang akan datang, bisa begitu saja bertabrakan dengan peristiwa yang sedang dihadapi si tokoh. Akibatnya, kisahan seperti melompat ke sana ke mari.
Dalam cerpen “Kisah Singkat tentang Pekarangan” misalnya, kita bagai sedang mengikuti kisah tentang roh yang bergentayangan memandangi dan keluar—masuk kamar yang pernah dihuninya. Ada suasana magis dalam cerpen ini, tetapi juga trauma psikologis hubungan antar-anggota keluarga. Pola yang hampir sama kita jumpai pula dalam cerpen “Laut dan Kupu-Kupu” yang bercerita tentang kecemasan dan kerinduan seorang istri kepada suami. Kisahannya mengalir begitu saja, meski mulanya memusat pada tokoh seorang perempuan keturunan Cina. Di sana, kisahannya memang mirip gelombang ombak yang sering tidak terduga. Narator kadangkala beralih peran, gonta-ganti antara suami atau istri dengan segala mitosnya, dengan segala kekacauan pikirannya yang cemas dan rindu. Maka, segala peristiwa itu seperti berkelebatan, pecah menjadi fragmen-fragmen dan mengalir pada satu muara: kekalutan pikiran. Laut mungkin merepresentasikan gelombang kehidupan yang selalu tak terduga, absurd, dan kupu-kupu mewakili generasi baru yang tak lagi merasakan kepedihan akibat perang Korea tahun 1950. Generasi yang sudah jauh meninggalkan trauma dan kisah pedih tentang perang.
Jarak yang jauh dengan peristiwa perang itu, juga tampak dalam cerpen “Menyeberangi Perbatasan” karya Jeon Sung Tae. Perjalanan tokoh Park melewati perbatasan Kamboja—Thailand dinikmatinya sebagai sebuah perjalanan wisata. Padahal, di negerinya ada perbatasan yang pernah meninggalkan begitu banyak kisah pedih, yang membelah Korea menjadi dua wilayah negara dengan ideologi yang berbeda: Korea Utara dan Korea Selatan. Dalam perjalanan wisata itu, Park malah menikmati hubungannya dengan Naoko, perempuan Jepang. Tak ada jejak kepedihan dalam diri Park. Perang saudara yang membelah Korea itu seperti bukan lagi menjadi sejarah masa lalu para leluhurnya, bangsanya sendiri. Bahkan tragedi penindasan bangsa Jepang atas Korea pada Perang Dunia II seperti tidak meninggalkan jejak apa-apa pada diri tokoh Park, padahal di hadapannya ada Naoko, perempuan yang leluhurnya pernah menindas bangsa Korea.
Satu cerpen lagi berjudul “Betulkah? Saya Zarafah” karya Park Min Kyu memperlihatkan kisahan dan style yang berbeda dengan model penulisan cerpen dalam antologi ini. Prof. Dr. Koh Young Hun menyebutnya sebagai gaya penulisan imajinasi baru yang kelahirannya muncul selepas tahun 2000. Meski agak sulit memahami cerpen ini –apalagi melalui karya terjemahan—setidak-tidaknya saya menangkap adanya semangat untuk menghancurkan bangunan cerita sebagai kesatuan yang koheren. Maka, yang segera tampak adalah lompatan-lompatan pikiran yang kadangkala bersambungan, berseliweran, atau bertabrakan.
Sebagai model cerpen mutakhir Korea, gaya penulisan yang seperti itu menunjukkan semacam gerakan eksperimen—pembaruan yang dilakukan sastrawan Korea kontemporer. Dari sana, makin jauh saja kisah masa lalu tentang perang Korea dan tenggelam oleh kemajuan yang dicapai negeri itu dewasa ini.
***
Apa makna antologi cerpen Korea ini bagi kita, pembaca Indonesia. Ada tiga hal yang dapat kita tangkap sebagai awal perkenalan dengan kesusastraan Korea.
Pertama, secara tematis, cerpen-cerpen Korea erat kaitannya dengan kondisi sosial zamannya. Jadi, cerpen-cerpen itu seperti merepresentasikan dinamika perubahan sosial—budaya yang terjadi. Ia laksana potret masyarakat yang mengusung semangat zamannya. Sementara itu, jika mencermati perkembangan gaya penulisannya –dari realisme ke imajinasi baru—maka perkembangannya itu juga tidak terlepas dari kemajuan yang dicapai Korea selama ini. Sangat mungkin di masa mendatang, akan muncul gaya penulisan lain, sebagaimana perkenalan mereka dengan kesusastraan Barat dan kesusastraan lain dari berbagai negara. Dalam konteks itu pula, penerjemahan cerpen Korea bagi kita –pembaca Indonesia— penting artinya sebagai salah satu pintu masuk mengenal Korea lebih dekat.
Di balik kisah-kisah itu, ada pula persoalan lain yang lebih fundamental, yaitu sebagai langkah awal berkenalan dengan manusia Korea berikut kebudayaan yang melingkarinya. Hubungan ayah—anak, sebagaimana tampak dalam cerpen “Pertemuan” karya Kim Tongni atau dalam cerpen “Dua Generasi yang Teraniaya” karya Ha Geun Chan, terasa lebih punya akar psikologis. Begitu pula hubungan suami—istri: pengorbanan istri dan kesetiaan suami, seperti yang digambarkan dalam “Seoul Musim Dingin 1964” karya Kim Seung Ok, apakah itu merepresentasikan suami—istri Korea?
Kedua, secara konseptual, cerpen-cerpen Korea agaknya makin menegaskan kita –pembaca Indonesia—untuk mempertimbangkan kembali sejumlah konsep baku yang selama ini telah menjadi semacam paradigma dalam sistem pengajaran sastra di berbagai institusi pendidikan, terutama yang menyangkut pengertian cerpen dan hakikatnya.
Perlu ditinjau kembali konsep cerpen (cerita pendek) sebagai bagian dari prosa atau cerita rekaan yang ditentukan berdasarkan panjang-pendeknya cerita. Cerpen karena pendeknya cerita yang disampaikan, maka pengungkapan unsur-unsurnya lebih padat, ringkas, dan langsung. Konflik langsung dihadirkan pada tokohnya, dan memaksanya segera berhadapan dengan penyelesaian. Itulah sebabnya, dalam kesusastraan Indonesia, cerita rekaan yang seperti itu disebut cerita pendek (cerpen), karena kononnya, ia lebih pendek, ringkas, dan padat.
Membaca cerpen-cerpen Korea, kita akan segera menyadari, bahwa ukuran untuk menentukan cerpen berdasarkan panjang-pendeknya cerita yang disampaikan, tidaklah berlaku secara ketat atau harus diperlakukan secara fleksibel. Ukuran panjang-pendeknya cerita, bagi cerpen Korea ternyata menjadi begitu relatif. Di sana, kriteria itu tidaklah mesti lantaran cerita yang disampaikannya itu pendek, ringkas, dan padat. Cerpen “Dinihari di Garis Depan” karya Bang Hyun Seok, misalnya, menghabiskan lebih dari 50 halaman, sehingga ia lebih menyerupai novelete. Tetapi tokh, ia tetap dimasukkan sebagai cerpen. Demikian juga sejumlah besar cerpen dalam antologi ini justru seperti mengabaikan ukuran itu. Maka, sebagian besar cerpen dalam buku ini, cenderung lebih mendekati sebagai novelet. Bahwa itu dikatakan cerpen, tentulah ada dasar konseptual yang berlaku dalam kesusastraan Korea.
Patut pula dipertanyakan kembali konsep teoretis berkenaan dengan gagasan tentang karya sastra sebagai satu kesatuan struktur sebagaimana yang dikembangkan strukturalisme. Konsep yang berkaitan dengan unsur intrinsik karya sastra (prosa), misalnya, seperti alur (plot), latar (setting), dan tokoh (character). Konsepsi alur yang selama ini diterima secara baku adalah rangkaian peristiwa yang di dalamnya ada tekanan pada peristiwa yang dibangun berdasarkan hubungan sebab-akibat (kausalitas). E.M. Foster misalnya menyebutkan alur adalah rangkaian peristiwa yang menekankan hubungan sebab-akibat. Foster mengajukan dua contoh sederhana mengenai kasus ini, yaitu dua peristiwa sebagai berikut: (1) “Raja mati ketika permaisuri berada di taman” adalah peristiwa yang tidak membangun sebuah alur cerita, lantaran di sana tidak ada hubungan sebab-akibat. (2) “Raja mati karena diracun permaisuri” adalah sebuah alur cerita. Di sana, kematian raja akibat perbuatan permaisuri. Ada hubungan sebab-akibat. Itulah peristiwa yang memperlihatkan sebuah alur cerita.
Rangkaian peristiwa dalam cerpen-cerpen Korea, ternyata tidak terlalu mementingkan persoalan hubungan sebab-akibat. Artinya, bisa saja cerita itu mengalir begitu saja, tanpa perlu ada keharusan dibangun berdasarkan hubungan sebab-akibat. Sangat mungkin peristiwa yang satu dengan peristiwa lainnya tidak punya hubungan sebab-akibat. Tetapi tokh ia tetap memperlihatkan sebuah rangkaian peristiwa yang berkelindan yang membentuk jalinan cerita. Di sana, dalam sejumlah cerpen Korea dalam buku ini terungkapkan betapa yang dipentingkan dalam cerpen itu adalah rangkaian peristiwa yang membentuk cerita. Akibatnya, cerita mengalir begitu saja, bekelak-kelok tanpa harus memperlihatkan hubungan sebab-akibat. Kemengaliran dengan disertai detail latar fisik yang menyebabkan cerpen-cerpen Korea, begitu mengasyikkan, dan sekaligus juga menuntut kesabaran mengingat alur ceritanya yang bergerak lambat.
Ketiga, menyangkut tokoh dan penokohan. Tokoh sebagai pelaku cerita hadir dan mengembangkan ceritanya jika terjadi konflik dengan tokoh lain. Penokohan dilandasi oleh sejumlah sekuen dan motif yang menggelinding membangun tema cerita. Tetapi bagaimana jika cerita itu sekadar rangkaian peristiwa tanpa harus menciptakan konflik antartokohnya. Dalam hal ini, kehadiran tokoh dalam cerpen Korea, kerap tidak harus dilandasi motif tertentu. Tokoh-tokoh lain yang bermunculan, kehadirannya sebagai pengembang cerita, meskipun tidak harus menciptakan konflik. Di sana tokoh-tokoh itu bisa datang dan pergi begitu saja.
***
Bagaimanapun, penerjemahan cerpen Korea atau karya sastra dari belahan dunia yang lain, penting artinya bukan sekadar untuk perkembangan dunia sastraitu sendiri, melainkan untuk saling memahami, bahwa di balik itu, ada kebudayaan yang melingkarinya, ada pandangan hidup yang dilandasi oleh sejarah masa lalunya yang melatarbelakanginya dan harapan yang melatardepaninya. Melalui (terjemahan) karya sastra, kita dapat memandang panorama kebudayaan dan sikap hidup bangsa lain. Semoga demikian!
———-
Esai ini dikutip dari blog Maman S Mahayana |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *