Puisi-Puisi Penyair Aceh

Wiratmadinata
SEBUAH IMPIAN DI LOS PALOS
— Xanana Gusmao
Kau pernah bermimpi
Tentang rumah mungil yang tenang
Di Los Palos yang hijau
Diantara ladang kopi dan jagung
Sambil melukis dedaunan
Dan mengenangkan masa silam
Yang gemuruh dan angkuh.
Namun kau terjaga,
Dan terus saja terjaga
Oleh suara dan bau mesiu
Yang tak pernah mau sirna
Dan kau terus terjaga
Oleh waktu yang merenggut
Tak pernah lagi sempat bermimpi.
Banda Aceh, Oktober 2006.
D Kemalawati
JANJI CAHAYA
Kurentang sayap rindu
Mencari-cari janji cahaya
Di Jingga kanvas angkasa
Di Biru lantai samudra
Ombak menggulung tubuh
Rubuh palung gelora
Rindu serupa magma
Membara di dalam dada
Rindu tumbuh menakar diri
Sua dinanti wajah diteluh
Tapi ruh akankah utuh
Menerbangkan tubuh menjauh
Malam sunyi menebar mimpi
Siang terik berkayuh peluh
Lauh mahfuzh – lauh mahfuzh
Keluh dilabuh takdir kusepuh
Kusimak lagi usapan rindu
Yang jejak di telapak raga
Rona warna dalam kelopak cahaya
Tak mampu berpaling rupa
Banda Aceh, September 2012
Nurdin F. Joes
TETESKAN SEDIKIT SAJA AIRMATA KITA
Teteskan sedikit saja airmata kita
Masih banyak saudara kita, pedih menderita
Ada yang belum makan pagi
Sementara kita sudah selesai mencuci tangan,
menutup makan malam
Teteskan sedikit saja airmata kita
Tetangga kita masih mengurung diri
di rumah yatim, miskin, dan duafa
Sementara kita sudah berkeliling kota
Meniup terompet kegembiraan
Merayakan tahun yang berganti
Teteskan sedikit saja airmata kita
Tubuh jiwa petani terbakar matahari
Tanah ladangnya kering kerontang
Irigasi yang kita bangun tak berfungsi
Dan benih tanaman yang kita salurkan
banyak pula yang palsu
Sementara kita telah banyak mengambil laba
Teteskan sedikit saja airmata kita
Para nelayan mengayuh sampan
Mencari nafkah anak istrinya
Matanya perih menatap sampan sampan bermesin
Bergerak secepat angin
Sementara bantuan yang kita berikan
Sering sering cacat tercela
Teteskan sedikit saja airmata kita
Saudara kita tertatih ke taman taman perobatan
Mencari beberapa butir obat penyembuh sakit
yang sudah menahun mereka derita
Mereka kurang paham berkomunikasi
karena tak bisa bahasa
Mereka juga kurang cakap bersantun santun
dan bertatakrama
karena tinggal di rimba
Sementara kita merasa terganggu
Lalu memandang tajam dengan ekor mata
Teteskan sedikit saja airmata kita
Banyak rakyat belum sembuh dari luka dan trauma
Sementara kita masih belum rela merawat
kedamaian
Lalu mengibarkan selaksa propaganda
Membangun babak baru penderitaan
Lalu rakyatlah yang memikul beban sengsara
Teteskan sedikit saja airmata kita
Betapa bencana terus melanda tanah kita
Tubuh dan harta rakyat jadi korban
Padahal mereka sangat tak berdosa
tidak paham menebang hutan
tapi tiba tiba banjir menerkam mereka
Teteskan sedikit saja airmata kita
Saudara kita masih terisolasi
di tanah tanah pedalaman
Jembatan gantung dan jalan penghubung
yang kita bangun
kurang bermutu dan tak berguna
Sementara kita leluasa memacu mobil
di tengah ibukota
Teteskan sedikit saja airmata kita
Ibu ibu renta menggelar tikar
di kaki kaki lima
Menjual beberapa sisir pisang dan sedikit sayur mayur
Mencari sedikit biaya sekolah dan jajan anak-cucunya
untuk esok pagi
Sementara kita terkadang dengan kasar
dan gagah perkasa mengusirnya
Mereka tak dapat bicara apa apa
Menelan pedih, bersalah mengais rezeki
di atas tanah negara
Teteskan sedikit saja airmata kita
Kita sedang menghitung jumlah gaji
Lalu membeli tanah tanah garapan
Sementara saudara kita masih tertatih
meminta minta
Untuk membeli satu ons beras bagi makan keluarga
Lalu menghitung jumlah butir nasi
Saat bersama makan berbagi
Kepada seluruh umat bumi
Teteskan sedikit saja airmata kita
Bahwa pada tahun yang sudah berganti
Betapa masih banyak saudara kita
pedih menderita
Banda Aceh, 1 Januari 2010
Hasbi Burman
PUISI ORANGKU
Ketika malam menutup pulau weh dan Pulau Rondo..
dikegelapan sang serdadu belanda mendapat ilham.
bahwa pantai kerajaan aceh kian dekat.
bergegaslah mempersiapkan bala tentara.
menjelang subuh yang dingin menutup tulang.
tak terasa dibadan tentara yang kampung indatunya empat musim itu.
yang bibir pantainya seratus tahun kedepan.
dihitung kalender masehi waktu itu.
ditelan habis oleh naga tsunami.
para kalasipun bergegas menurunkan layar.
kapal ratu belanda itu.
kapal kesekian kali menyerang Aceh.
Namun tak menangkan perang.
mereka tahu sifat orang-orangku.
yang rindu fulus dan emas.
yang ditembak tentara Belanda ke Pantai Aceh.
Baiturrahman, 13 April 2008
Wina SW1
SEANDAINYA BOLEH KU TAWAR
Seandainya boleh kutawar
Akan kubeli dunia
Kulukis wajah tanah kelahiran di tiap sudutnya
Di mana suara angin mendo-da-i-di-kan-ku*)
Gunung-gunung perkasa menjaga lelapku
Laut dan pantai berpasir putih menghiasi mimpiku
Seandainya boleh kutawar
Akan ku ubah dunia
Kualirkan krueng Aceh mengitarinya
Kuhadirkan lelaki-lelaki penabuh rapa’i*)
Mengoyak sepi
Kubiarkan anak-anak berkaki telanjang
Berkejaran waktu
Dan perempuan-perempuan berkerudung sarung
Yang tak hentinya bersujud dan mengagungkan Allah
Seandainya boleh kutawar
Akan kupentaskan beribu hikayat
Antara keperkasaan malahayati*), tjoet nyak dien, teuku umar
dan berjuta tubuh yang berbaring menjaga tanah ini
(duniapun terpana)
tapi sebelum sempat kutawar
Tuhan telah menawar hidupku
“cukup sampai di sini!”
duniapun terbahak, semakin erat menghimpitku
Agustus, 1988
*) rapa’I adalah music perkusi tradisional Aceh
*) seorang wanita yang memimpin armada laut kerajaan Aceh tempo dulu, berlevel laksamana
Doel CP Allisah
PULANG
1.
ketika aku tinggalkan tanjungpriok
lembayung senja dan angin dingin segera menyergap mimpiku
teringat ucap terimakasih pak kapten sembiring
saat itu mungkin, menjelang malam juga ketika dalam bayang kami penuh gambaran
perca akan segera menyambut salah satu rohnya
2.
malam kedua di selat karimata
bulan mengembang dalam air membentuk berjuta kilasan
yang berkejaran kebelakang
mengawani aku dalam sunyi waktu
3.
setelah begitu lama menanti
aku ingin pulang kerumah menyusupkan wajah dalam dekapmu
dimana bisa kurasakan detak dada dengan seluruh pengertian yang mengalir
KM Rinjani, 1990
Maskirbi
TARIAN SUNYI
Ada yang menari di kesunyian malam
ketika kutanyakan, tarian apa itu
“tarian sunyi,”
katanya
“mari ikut menari,”
ajaknya
lalu kami menari dengan irama degup jantung
kami berputar-putar melingkari angin, semakin
cepat putaran kami, semakin kecil lingkaran kami
lenguh nafas, ketip jari, hentak kaki; hempas lengan,
degup jantung menjadi nyanyian.
ketika kutanyakan nyanyian apa itu
“nyanyian dzikri”
ucapnya
“ayo erus menari, ayo nyanyian dzikir
ajaknya
ia peluk tubuhku dan mempercepat tarian kami
sampai tak ada suara, kecuali angin, kecuali sunyi
kami menjadi angin terapung di lautan udara, lain
menjadi sunyi. Aku tak bertanya lagi, kecuali terus
Menari sampai telanjang di dalam sunyi?
Fikar W.Eda
BIARKAN KAMI
— untuk Aceh dan suku lainnya di negeri ini
biarkan kami tegak di sini
menahan gigil angin
yang meniupkan aroma maksiat
biarkan kami tegak di sini
menahan dingin hujan
sambil menghitung hari-hari lewat
biarkan kami tegak di sini
memaku tanah merah, tanah moyang kami
lalu menggalinya agar tetap selamat
biarkan kami tegak di sini
berdoa bagi kelangsungan hidup kami
mengharap ampunan dan taubat
biarkan kami di sini
bersama anak dan istri
memandangi rembulan pucat
biarkan kami di sini
menunggu kezaliman berlalu
jangan paksa kami minum anggur
yang memabukkan ruh dan raga kami
jangan paksa kami membangun tenda
di tepi-tepi jurang menganga
yang siap menelan kami lumat
kami bukan batu keramat
kami bukan lumut laknat
kami bukan bau busuk khianat
kami bukan ranting rapuh
yang lekat pada beringin angkuh
kami bukan apa-apa
karena itu biarkan kami
menghirup aroma tanah
tanpa syak wasangka
menjadi tangkai sekaligus bunga
memintal kasih sayang dan cinta
Jakarta, April 1998
AA Manggeng
DINIHARI DI TAMAN KAMBOJA
Bunga kamboja berguguran di sebuah pedalaman
padahal angin sangat bersahabat malam itu
di jalan-jalan mencekam
isyarat kedukaan tanpa terduga
Bunga kamboja berguguran di sebuah pedalaman
aromanya ditiup angin ke seluruh penjuru
siapa yang sanggup menutup rahasia duka
atas kebiadaban manusia
Pohon kamboja yang tumbuh di taman kita
penghias kebun-kebun negeri
adalah dia yang lahir dari sejarah
lalu gugur bunganya
luruh daunnya
tercabut akarnya
tumbang batangnya
Kamboja, bunga kamboja
seorang ibu mencari anaknya
yang terkapar di bawah rontokan bunga
dalam gelimangan darah bersama orang-orang
yang tak tahu apa-apa.
Aceh, 3 Pebruari 1999
Budi Arianto
PAMPLET DI HARIAN PAGI II
menyimak berita pagi
negeri ini
adalah air mata
banjiri ladang-ladang kering
hanyutkan mimpi mengusir burung-burung pipit
dan kuncup kembang berserak di hempas angin
Banda Aceh 1993
Din Saja
KEPADA SAUDARAKU ORANG MELARAT
Sekarang katakan pada mereka,
kami penguasa, pemegang amanah kita
katakan bahwa kita, orang-orang pemilik kekuasaan,
memang sedang dimelaratkan oleh sesuap nasi
memang sedang diperdayakan dalam bersikap,
tapi kini, katakan segera kepada mereka,
kami penguasa, pemeras hidup kita,
katakan segera bahwa kita, pemilik kekuasaan,
kami akan menolak setiap pemberian
yang menjatuhkan martabat kemanusiaan
kami nyatakan.
Banda Aceh, 31 Oktober 2002
Sulaiman Juned
TARIAN BULAN
langit menangis
renyah. Galau bulan
mandi di danau. Gerimis menari-nari
angin jalang memekatkan jiwa
rupa hilang dalam kelam waktu.
langit menangis
rinai .Risau bulan
mengeram di danau. Tarian sukma
memabukkan bintang selepas bertarung menempuh
badai, aku sempatkan menjenguk rumah
(Tuhan, senyap-sepi dalam keramaian)
Malalo, 2009
Hasyim KS
PACAR
Kemarin kubisikan di telinganya sebaris puisi
atas ketibaannya bersama angin pagi
yang menapasi malam
lalu sama menelan ludah
ketika burung-burung bercanda di atap rumah
( ketika itu lewat angin pagi mengedipkan mata
pada pengisian yang mendambakan
di pengembaraan ini )
dan hari ini kugarap sebuah puisi
diatas lembaran biru
ketika mega-mega berpacu di detik waktu
lalu daun pintu yang berdentam ditutupkan
kuseka pinggiran mataku
karena debu loteng menggerimis oleh hempasannya
( sepotong rindu membeku di genggaman waktu
awan senjapun bersiap berangkat
ke pembaringannya )
1989
LK Ara
KABAR TANGSE
Seperti menepati janji
Ia datang lagi
Setelah hampir setahun tak singgah
… Lengkap dengansuara gemuruh dan air bah
Deras air tak terkira
Jalanan putus ia dera
Rumah rumah ia bawa hanyut
Isi rumah tak luput
Orang orang tak berdaya
Selain berdoa
Alam marah
Karena hutan sudah dirambah
Ketika kampong runtuh
Dan airbah tak tertahan
Adakah mereka tunduk
Mengingat dengan khusuk
Kepada pencipta alam dan semua mahkluk
Banda Aceh, 29 Februari 2012
Mustafa Ismail
SAJAK PAGI HARI
kalau tiba-tiba nanti kita harus menangis, aku ingin
kau memperdengarkan sebuah tangis yang manis
sehingga rumah kita bukanlah kuburan atau malam yang gelap
tetapi kenyataan yang menggairahkan
seandainya nanti kita harus bertengkar, aku ingin
kita menciptakan pertengkaran yang lembut
sehingga rumah kita bukan kota yang berisik atau bau penggusuran
tetapi hidup yang menentramkan
seandainya nanti kita harus saling diam
karena banyaknya hal yang tak bisa dicapai
aku ingin kita selalu ingat Tuhan.
Jakarta, 15 Agustus 1997.
Deny Pasla
DARI LUKA SETUBUH KITA
mereka sudah lahir dari luka setubuh kita:
katamu lirih melemas, seraya meremas puting
birahiku dari pertapaan beku ini
seharusnya kita berdamai saja dengan hati,
membiarkan birahi dingin sendiri
tak ada yang perlu dirisaukan
karena mereka ada dalam darah kita,
ada dalam nadi kita
menjadi ruh yang leluasa bergerak
seperti udara pada jaring-jaring api sekalipun,
mendamaikan birahi
aku tak percaya persetubuhan itu menjadikan doa-doa
kita tak suci, apalagi kespeian ini menjadikan ita begitu
dekat
kegundahan anak-anak kita yang lahir,
kemudian kehilangan kasih sayang di taman kota
merupakan hal yang biasa
meski selalu menyisakan dendam di belakangnya
mereka memang lahir dari luka setubuh kita.
Isnu Kembara
DEBU DAN PACARKU
Siang berpacu dengan debu-debu di jalanan
Sekawan merpati tujuh
Mendadak terbang jauh
Di bawah sana tak ada suara
Lengang dan sepi
Dan dengus pacarku
Terngiang di ranjang pengantin
Setelah itu aku lelah di pangkuannya
J. Kamal Farza
LAUT
setiap memandangi laut,
selalu ingin menjadi nelayan,
membawamu seekor ikan.
setiap memandangi laut,
selalu ingin menjadi pawang,
menaklukkan buaya, agar kau aman.
setiap memandangi laut,
selalu ingin punya perahu,
membawamu berlayar,
lepas dari belenggu.
ketika memandang laut
menunggu air surut,
menunggumu sampai aku
dan kau pun keriput
Sabang, 17 June 2011

=======
KETERANGAN FOTO:
Foto-foto lama para penyair dan seniman Aceh di atas dikutip dari facebook dan blog Doel CP Allisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *