Gerakan Menulis dan Membaca Sastra YCS

JAKARTA – Yayasan Cinta Sastra meluncurkan Gerakan Indonesia Menulis dan Membaca Sastra. “Program ini dimaksudkan untuk lebih mendekatkan kegiatan menulis dan membaca sastra kepada masyarakat luas,” kata Ketua Umum Yayasan Cinta Sastra, Ahmadun Yosi Herfanda, dalam keterangan pers yang diterima infosastra.
Menurut Ahmadun, gerakan ini terbagi dalam sejumlah kegiatan seperti apresiasi sastra di sekolah yang melibatkan para sastrawan, workshop penulisan sastra, pelatihan musikalisasi puisi, penerbitan buku, hingga mendirikan Rumah Singgah Sastra. “Rumah Singgah Sastra tidak hanya menjadi ruang persinggahan para pencinta dan penggiat sastra, juga ruang untuk mengobarkan kreativitas sastra dan budaya,” ujar Ahmadun.
Ia mengatakan kegiatan ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat, segala usia, dan ragam latar belakangnya. “Tujuannya memang menggelorakan sastra di berbagai kalangan. Yayasan ini ingin mempermaklumkan bahwa sastra itu bisa dipahami dan menjadi santapan lezat siapa saja, bukan milik sastrawan atau orang melek sastra.”
Direncanakan, pada tahun ini Yayasan Cinta Sastra juga akan memberi penghargaan kesetiaan berkarya kepada seorang sastrawan terpilih. “Tim kurator sedang menyeleksi dan menggodok sejumlah nama yang diunggulkan,“ ia melanjutkan. Namun, menurut dia, demi objektivitas dalam memilih, pihaknya belum mau memublikasikan siapa saja anggota tim kurator itu.
Mustafa Ismail, Sekretaris Yayasan Cinta Sastra, menambahkan dalam waktu dekat pihaknya juga akan meluncurkan jurnal sastra online. Selain sebagai tempat berekspresi para sastrawan, media ini dicita-citakan menjadi salah satu barometer perkembangan sastra Indonesia. “Kita harapkan bisa diluncurkan bertepatan dengan peringatan hari Chairil Anwar pada akhir April 2013.”
Jurnal ini juga direncanakan dibuat dalam versi cetak setiap tiga bulan sekali. “Karya-karya terbaik akan dimuat dalam jurnal versi cetak,” kata Remmy Novaris DM, pengurus yayasan yang mengepalai jurnal ini. Langkah ini diambil, ia menambahkan, karena tidak semua orang familiar dengan membaca karya sastra di internet.
Sementara itu, pada September 2013, yayasan mengadakan Festival Dramatisasi Cerpen Pelajar Tingkat Nasional. “Festival ini mengangkat naskah cerpen ke panggung teater,” ujar Nia Samsihono, pengurus yayasan yang menjadi penanggung jawab festival itu. Peserta akan diberikan 10 cerpen pengarang terkemuka untuk dipilih salah satu menjadi naskah yang didramatisasikan di panggung. [RILIS]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *