Pinangan dari Dapur Sastra Jakarta

Oleh Adek Alwi
SEBUAH buku adalah eksistensi. Suatu jejak, atau tanda. Bila ia menghimpun karya banyak penulis itulah tanda kebersamaan. Dan bila banyak penulis itu berada dalam suatu komunitas, buku itu eksistensi komunitas bersangkutan. Bahwa ia memang ada, seperti halnya manusia bernama Chairil Anwar itu ada, pernah hidup dia di alam fana ini –karena meninggalkan jejak berupa karya.
Paling tidak, itu yang mula-mula terbit dalam pikiran ketika menatap kumpulan puisi “Pinangan” ini. Bahwa 32 penyair yang puisinya dihimpun di dalam kumpulan ini ada –atau untuk generasi mendatang, pernah hidup mereka di bumi ini, bagaikan generasi kita menyadari keberadaan manusia-manusia seperti Amir Hamzah, Roestam Effendi, atau STA.
Begitu pula komunitas Dapur Sastra Jakarta, tempat para penyair itu berkiprah dengan puisi, komentar, ulasan, mungkin juga kritik –nyata pula eksistensinya. Baik bagi kita di masa sekarang pun dalam pemahaman generasi akan datang, bagai kita memahami Poedjangga Baroe Takdir Alisjahbana dan kawan-kawan itu, memang ada. Dan, siapa tahu eksistensi Dapur Sastra Jakarta kelak tambah kukuh, sebutlah seperti Poedjangga Baroe meniupkan angin segar di dalam perpuisian kita –yang menurut jurubicaranya, STA, antara lain dengan mengembalikan “puisi kepada asalnja, jaitu djiwa bernjanji”, atau dengan memasukkan apa yang dia sebut “individualisma”.
“Pinangan” sebagai tanda kebersamaan memang belum menampakkan corak berpuisi yang satu –sebagaimana corak berpuisi Sutan Takdir Alisjahbana bersama kawan-kawannya, atau Chairil Anwar juga dengan konco-konconya macam Rivai Apin dan Asrul Sani. Tapi, kebersamaan itu juga bisa dilihat tengah tumbuh, dengan berbaurnya mereka yang telah banyak tahun berada di sastra dan mereka yang dalam pengamatan saya, belum lama benar menghuni dunia yang sedap-menggelisahkan itu.
Sebutlah Uki Bayu Sejati, Remmy Novaris DM, Ayid Suyitno PS, Adri Sandra, Eddy Pranata PNP, juga Yeyen Kiram. Begitupun Nestor Rico Tambunan dan Farick Ziat, yang sebelumnya lebih banyak menulis prosa.
Puisi Yeyen “Catatan – dua” saya baca di “Puisi 1999 Sumatra Barat” –antologi puisi 53 penyair Sumatera Barat, termasuk Adri Sandra dan Eddy Pranata, terbitan Dewan Kesenian Sumatera Barat, tahun 1999. Puisi Adri dan Eddy di berbagai media massa cetak, acap pula saya baca –pun kumpulan puisi Adri dengan Agus Hernawan, Sondri BS “Dimensi Kata Tiga Penyair” terbitan Dewan Kesenian Padang dan Yayasan Citra Budaya Indonesia tahun 2002.
Ayid? Aktif nian dia awal 1980-an di dunia sastra bersama kawan-kawannya, seperti Harianto Gede Panembahan. Tahun 1985, terbit kumpulan puisinya “Penyair Luka”, dan saya tentu kebagian satu. Remmy Novaris apalagi. Sedari rambutnya hitam-legam saat SMA di dekade 1970-an, hingga kini rambut putih semua, tak beringsut ia dari dunia sastra –sungguh dedikasi dan cinta sangat dalam, sehingga bila saya singgah ke rumahnya tempo-tempo melintaslah sajak Chairil Anwar itu: Rumahku dari unggun-timbun sajak/ Kaca jernih dari luar segala nampak…
Bagaimana Uki Bayu Sejati? Hm. Izinkanlah saya tersenyum mengenang tahun-tahun dekade 1970-an yang sudah lenyap, ketika rambut saya pun masih tebal hitam-legam, celana jin melulu plus sepatu kets, lajang (kini sudah punya menantu dan moga-moga lekas pula diberi Tuhan cucu). Masa-masa itu kalau saya ke GR Bulungan jumpa dan ngobrol sastra dengan kawan-kawan di sana (biasanya lanjut dengan minum teh poci di emperan bioskop yang kini jadi Blok M Plaza), Uki sudah dituakan teman-teman di Bulungan. Ramah, low profile, tak berubah sosoknya meski tahun-tahun dekade 1970-an sudah hilang. Juga, masih menulis puisi ia rupanya.
Begitulah, puisi mereka semua bersatu-padu di dalam “Pinangan” bersama puisi Arief Mursidi, Hamdan, Hermansyah, serta banyak nama lagi. Dan juga, June Junaidah dari Malaysia, Frieda Amran di Negeri Balanda yang puisinya sering benar saya lihat hadir di fesbuk, Euis Herni yang beberapa bulan lalu menerbitkan kumpulan puisi, Nunung Noor El Niel yang baru-baru ini juga menerbitkan kumpulan puisi, “Solitude” –bikin saya takjub karena di dalamnya dihimpun 141 puisi, 130 diantaranya bertahun cipta Januari hingga September 2012!
Nah, tidakkah itu bisa dibaca sebagai tanda kebersamaan –sekaligus eksistensi mereka yang puisinya terdapat di antologi ini, juga bagi Dapur Sastra Jakarta yang mewadahi? Kalaupun semangat corak berpuisi yang satu tadi belum nampak, “Pinangan” dengan sendirinya telah hadir dalam wujud bunga rampai –berbagai bunga harum yang tempo dulu dibaur nenek moyang kita dalam daun pisang, harum-wangi tak alang-kepalang.
Dan saya sambut “Pinangan” serupa itu. Selamat kepada penyair yang puisinya ada di kumpulan ini. Selamat pula kepada Dapur Sastra Jakarta. Niscaya, komunitas ini telah bertanda dengan terbitnya “Pinangan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *