Mahasiswa IAIN Aceh Deklarasi Hari Sastra

Banda Aceh – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas ( BEMAF) Tarbiyah IAIN Ar-Raniry mendeklarasikan Hari Sastra Aceh dan Launching Sekolah Menulis Tarbiyah (SEMESTA) di Aula Fakultas Tarbiyah, Banda Aceh, Sabtu, 11 Mei 2013.
Deklarasi tersebut juga dikemas dengan bedah Novel “Teuntra Atom” karya seorang mantan Kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Thayeb Loh Angen.
Acara yang dihadiri oleh sastrawan, penulis dan para akademisi dari berbagai daerah ini di buka oleh Pembantu Dekan III Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, Syabuddin Gade. Dalam sambutannya, Syabuddin berharap acara ini jangan hanya sebatas seremonial, namun harus terus diasah agar lahir para penulis-penulis Aceh yang mampu mewarnai dunia Kepenulisan dan sastra Aceh.
Sebagai narasumber dan pembedah, selain Thayeb Loh Angen, acara deklerasi sastra ini menghadirkan Teuku Zulkhairi dari kalangan penulis, Rahmat Banta dari Penerbit CAJP, Herman RN dan Muda Balia yang menunjukkan kebolehannya membaca hikayat Aceh.
Gubernur Mahasiswa Fakultas Tarbiyah, Muhammad Sufri, dalam sambutannya mengatakan hadirnya SEMESTA ini diharapkan menjadi oase dalam kegersangan dunia kepenulisan Mahasiswa. “Ini akan menjadi tonggak kemajuan ke penulisan mahasiswa kedepan, sebagai oase dalam kegersangan dunia kepenulisan mahasiswa saat ini,” imbuh Sufri.
Narasumber lainnya, Teuku Zulkhairi, mengatakankejayaan sastra Aceh di masa silam yang ditulis para ulama sangat identik dengan kepentingan dakwah Islam dan sangat sarat dengan nilai-nilai Islami.
“Maka sastra Aceh yang harus dibangun ke depan arahnya harus memuat kepentingan dakwah Islam,” tegas Zulkhairi yang menulis buku “Catatan Seorang Santri Aceh” ini. Maka, “pendeklerasian Hari Sastra Asia Tenggara ini harus menjadi momentum awal menggapai cita-cita tersebut,” sambungnya.
Sementara Thayeb Loh Angen, inisiator dan pencetus Hari Sastra Asia Tenggara saat membaca Naskah Deklarasi mengatakan bahwa Hamzah Fansuri adalah orang pertama yang menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa literasi dan sastra sehingga ia menjadi tolok ukur yang pantas.
“Hari lahir atau meninggalnya Hamzah Fansuri adalah hari sastra Asia Tenggara,” kata Thayeb yang juga pengurus Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT). [R]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *