Imajinasi yang Melahirkan Sejarah

Oleh: Remmy Novaris DM, penyair |
SENJA HARI. Awan gelap menggantung di langit selatan. Perlahan menutup seluruh langit senja dengan suara guntur. Aku dan Syahnagra tak cemas berada di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. selepas acara peluncuran buku di PDS HB Jassin. Kami menuju ke tenda cafe dan duduk di sana. Syahnagra memesan kopi hitam, aku memesan secangkir cappucino. Kami pun menikmati dengan penuh percakapan.
Pada saat kami mulai saling membual, kami melihat Sutardji Calzoum Bachri menuju ke arah kami. Kami memanggilnya untuk duduk bersama. Sutardji CB pun menghampiri kami dan memesan segelas teh gantung. Percakapan pun kembali berlanjut. Tentang pemberantasan korupsi, peran lembaga KPK vs PKS dan partai lainnya. Kami tertawa-tawa mengisahkan peran para tokoh partai. Juga tentang berapa orang teman yang dulu sering bertandang ke TIM dan menjadi anggota DPR, baik sebagai anggota setia maupun kutu loncat.
Pidato Kesusastraan
Sedang asyik bercerita, Leon Agusta muncul dengan map berisi film negatif hasil ronsens. Ia menghampiri kami. Sekilas ia pun bercerita tentang rencana DKJ dan PKJ TIM, menyelenggarakan Pidato Kesusastraan, memperingati hari Chairil Anwar yang tanggalnya sudah terlewati, tetapi tetap akan dilaksanakan. Pada acara itu Sutardji CB disarankan sebagai pembicara. Sutardji CB yang mendengar, hanya memanggut-manggutkan kepala. Leon mengatakan bukan lagi pidato kebudayaan yang sudah hancur itu, tapi Pidato Kesusastraan.
Sutardji CB kembali manggut-manggut dan menyerput teh manisnya, sambil menselonjorkan kaki pada salah satu kursi plastik. Pembicaraan tentang peran kebudayaan di tengah suasana politik pun berlangsung selintas, karena Leon tidak lama kemudian pamit harus ke dokter.
Selepas Leon Agusta berlalu, senja sudah berganti malam dengan menyalanya seluruh lampu-lampu taman di Pusat Kesenian itu. Dilengkapi dengan hujan deras yang turun membasahi bumi. Sutardji yang duduk di tepi tenda, tekena tampias hujan, terpaksa bergeser agak ke dalam, duduk di antara saya dan Syahnagra.
Penyair dan Sejarah
Hujan semakin deras. Capucinoku tandas. Tapi Syahnagra, seperti biasa, tetap semangat menghangatkan suasana dengan kembali berkisah tentang politik. Ia berharap, dalam situasi kondisi politik seperti sekarang ini, para seniman ikut berperan langsung. Saya dan Sutardji CB sudah sangat memahami pemikiran Syahnagra yang lebih bersifat pragmatis. Sesekali saya menimpali dengan ringan.
Dan Sutardhji CB dan saya yang semula hanya menimpali dengan tawa, ternyata mulai ditengarai Sutardji dengan serius, jika seniman, khususnya para sastrawan, harus memahami persoalan lebih jauh ke depan melalui karya-karyanya. Bukan melalui karya-karya yang reaktif dan bersifat sesaat. Menurutnya, seniman atau budayawan harus berada di depan sejarah. Bukan di belakang sejarah atau anak sejarah. Dan imajinasilah yang menciptakan sejarah! tandasnya.
Sutardji CB pun memberikan contoh peran para sastrawan Rustam Effendi, Amir Hamzah, JE Tatengkeng, jika mereka semua melalui karya-karya mengisahkan tentang keberadaan bahasa Indonesia yang satu, bangsa yang satu dan tanah air yang satu, yang pada saat itu situasi politik hanya melahirkan kelompok-kelpok pemuda seperti Jong Java, Sumatra dan lainnya. Sementara itu para sastrawan dan budayawan sudah menuliskan kesatuan itu di dalam karya-karyanya. Dan Sumpah Pemuda yang kemudian tercetuskan, bukan hanya sebuah deklarasi biasa, tetapi puisi.
Pada saat ini, orang bukan memikirkan isi kepala, tapi memikirkan isi kantong yang tebal, ujar Sutardji CB sambil tertawa berderai. Saya pun sedikit menimpali, bahwa kekosongan pemikiran, gagasan atau ideologi seperti itu yang mengalami kekosongan. Jika generasi sebelumnya dapat melahirkan Sumpah Pemuda, Pancasila, UUD 45, dan kemerdekaan, pada saat ini nyaris tidak memikirkan sebuah rumusan kebangsaan apa pun.
Hujan pun mereda. Saatnya solat Isya. Sutardji CB pamit ke masjid. Aku pamit pulang. Syahnagra tetap bertahan dan akan menuju ke acara pembukaan pameran. Aku menuju keluar pintu gerbang Taman Ismail Marzuki, di bawah gerimis– sisa hujan– dan jalan yang tergenang air, hingga sesekali aku harus melompati genangan.
Dan hup! berjejal di dalam bus kota, kemudian kereta komuterline yang penuh sesak. Aku seperti seluruh karyawan di dalam kereta, tak saling mengenal, tak saling menyapa. Tenggelam dengan pikiran dan persoalan masing-masing.
LA, 17 Mei 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *