Luka Itu Membutuhkan Puisi

Tulisan ini adalah makalah Donny Danardono, Dosen Filsafat UNIKA Soegijapranata, yang disampaikan dalam acara Membaca dan Menelaah “Pulang Melawan Lupa” (buku puisi Zubaidah Djohar) di Teater Thomas Aquinas, Gedung Thomas Aquinas Lantai 3, Unika Soegijapranata, Jl. Pawiyatan Luhur IV/1, Semarang, Selasa, 28 Mei lalu. Pembicara lain adalah Damhuri Muhammad, esais yang juga redaktur sastra Harian Media Indonesia, dan Dewi Candraningroem dari Jurnal Perempuan. Acara ini juga diwarnai dengan pembacaan puisi.
========
Luka tak bisa terungkap secara utuh oleh bahasa konseptual, bahasa yang mengupayakan kepastian hubungan antara kata dan maknanya. Bahasa konseptual hanya bisa mengungkap bentuk dan jenis luka. Rasa nyeri itu sendiri luput dari pemaknaannya.
Tapi puisi, khususnya puisi liris, adalah sebuah strategi berbahasa yang disampaikan dalam bentuk penataan huruf, kata dan kalimat secara sedemikian rupa agar dapat menghasilkan bunyi, rima, ritme dan gerak yang mendeskripsikan suasana tertentu.
Deskripsi berbeda dari definisi. Deskripsi tak berakhir pada kesimpulan atau makna. Karena itu pendeskripsian akan membuat puisi selalu dalam proses menjadi, yakni proses memindahkan pengalaman penyair ke pengalaman pembacanya. Puisi mendeskripsikan atau menghadirkan rasa nyeri itu berdasarkan pengalaman masing-masing penyair dan pembacanya akan rasa nyeri, sebuah pengalaman yang mungkin berbeda.
Sebagai sebuah proses menjadi, puisi akan menunda kepastian hubungan antara kata dan maknanya. Puisi adalah bahasa yang menunda kepastian simboliknya. Sebuah penundaan yang akan melahirkan kebenaran lain yang tak tersampaikan oleh bahasa konseptual. Kebenaran yang lahir lebih karena hubungan antara bahasa dengan tubuh dan berbagai hal inderawi lainnya (bunyi, rima, ritme dan gerak) daripada dengan konsep atau ide.
Julia Kristeva, seorang filsuf Prancis, menyebut kebenaran seperti ini sebagai le semiotique, yakni kebenaran yang ada dalam bahasa kanak-kanak pra-Oedipus Freudian, bahasa feminin, atau bahasa mereka yang tertindas oleh bahasa konseptual. Le semiotique adalah kebenaran yang belum atau yang tak bisa didisiplinkan oleh masyarakat dan kebudayaan. Ia adalah suara lain yang tertindas (sub-altern). Puisi menghadirkan segala bentuk perasaan yang tak tertampung dalam bahasa konseptual. Puisi adalah penghadiran le semiotique, sub-altern atau suara-suara yang dibisukan itu.
Pulang Melawan Lupa sebagai Suara Lain
Saya kira Zubaidah Djohar―penyair, peneliti dan pegiat kemanusiaan di Banda Aceh itu―menulis sebagian besar puisinya di “Pulang Melawan Lupa: Kumpulan Puisi Bisu” (Lapena, 2012)―dengan strategi berbahasa yang saya sebut itu.
Puisi-puisi di buku ini adalah adalah suara para perempuan Aceh yang dibisukan di era DOM (Daerah Operasi Militer), tsunami Desember 2004, dan pasca perjanjian damai Helsinki antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 15 Agustus 2005.
Pembisuan suara perempuan Aceh itu terjadi, karena media massa dan kebijakan pemerintah tak pernah memunculkan dan bahkan mengabaikan berbagai persoalan mereka. Maka, di ketiga era itu, para perempuan Aceh terus menjalani hidupnya sebagai tragedi.
Saat Aceh menjadi DOM, para perempuan Aceh bersama dengan anak-anak dan para orang tua menjaga rumah dan gampong mereka. Mereka juga menjalankan fungsi ekonomi rumahtangga. Para suami dan pria berjuang di hutan-hutan, di bukit-bukit atau sekedar bersembunyi. Pada saat itu tentara kerap datang ke gampong untuk mencari tahu di mana para suami dan pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu. Pada saat itulah mereka menangkap, menyiksa dan memperkosa para perempuan itu.
Dalam puisi “Inikah Damai Itu, Tuan?”, Zubaidah secara liris, yakni melalui permainan repetisi huruf akhir, kata dan penggalan kata menghasilkan suasana tegang saat tentara menyerbu gampong yang hanya dihuni para perempuan, anak-anak dan orang tua. Tak ada permainan metafor di puisi ini. Kata-kata hadir secara lugas, tapi melagu:
Mereka terus memburu
mereka tak berhenti menyapu
hingga jantung gampong kering
dalam punahnya peradaban
Tidak ada lagi yang bersisa
selain dengus panas yang kian gersang
menghanguskan kemanusiaan
Para lelaki lenyap di rimbaraya
kaum perempuan berdiri memeluk luka
sambil menyembunyikan lelaki tercinta
mereka menghadang moncong senjata
Pengulangan akhiran “u” dalam “mereka terus memburu/mereka tak berhenti menyapu” ini menghasilkan sebuah ritme yang menghadirkan suasana mencekam dan menakutkan.
Sementara pengulangan akhiran “a” dalam “Para lelaki lenyap di rimba raya/kaum perempuan berdiri memeluk luka/sambil menyembunyikan lelaki tercinta/mereka menghadang moncong senjata” ini secara sinis menggambarkan bahwa para pria GAM itu bukan satu-satunya pejuang. Para perempuan dan istri juga berjuang dengan cara mereka sendiri.
Maka tampaklah, bahwa para pria GAM itu hanya memperjuangkan sesuatu yang abstrak, yakni ideologi Aceh Merdeka. Tapi pada saat yang sama para perempuan 2
dan istri pria GAM itu memperjuangkan sesuatu yang nyata dan sehari-hari, yakni melindungi gampong dan kehidupan para pria GAM itu sendiri; sebuah perjuangan yang bukan hanya membutuhkan keberanian dalam menghadapi moncong senjata, tapi yang juga sering kali merendahkan harga diri, karena pelecehan seksual dan perkosaan:
Dalam tendanganku yang tak sampai
dalam cakaranku yang tak mengelupas
tubuhku dirampas! Tuhan, aku bagai najis
hingga usia senja, melarut dalam rasa
dosa yang tak selesai
Maka, repetisi kata “tak” dan penggalan kata “pas”dalam “mengelupas” dan “dirampas”, maupun pengulangan huruf “a” di “usia senja”, “dalam rasa” dan “dosa” ini sungguh menghasilkan perasaan putus asa, karena sia-sianya perlawanan para perempuan itu. Repetisi itu juga menghadirkan perasaan perempuan yang direndahkan harga dirinya, karena pelecehan seksual atau perkosaan oleh para tentara itu.
Sementara dalam puisi “Sumur Tua” Zubaidah Djohar, saya kira, berhasil menampil sebuah sumur sebagai penyimpan derita dan duka perempuan Aceh korban perkosaan. Di sumur itu seorang perempuan korban perkosaan tentara Indonesia, karena melindungi suaminya yang pejuang GAM, setiap hari dan berulang kali membasuh tubuhnya agar bersih dari bekas-bekas perkosaan yang sepertinya tak akan pergi dari tubuhnya. Kehadiran berulang kali dan pembersihan diri si perempuan korban perkosaan di sumur itu membentuk imaji tentang sebuah sumur yang berhantu. Sumur tua itu menghantui perjanjian damai antara Pemerintah RI dan GAM di Helsinki pada 15 Agustus 2005 itu: “Sembahlah damai itu/Tuan sembahlah/Sembahlah dalam aroma sumurku/dalam lumut hatimu”.
Keangkeran Sumur Tua itu―karena menjadi saksi sebuah perkosaan― ditampilkan baik melalui pengulangan kata “lihat”, “tak pernah” dan “sembahlah” yang menghasilkan irama kata. Keangkeran itu juga ditampilkan dalam bentuk pemilahan dan sekaligus penjajaran waktu: “berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun”, sebuah strategi pemilahan dan penjajaran waktu yang menggambarkan penantian panjang seorang perempuan korban perkosaan untuk bebas dari jejak-jejak perkosaan itu. Sebuah penantian yang membuatnya putus asa:
Lihat!
lihatlah, Tuan
lihatlah sumur ini
tak pernah kering
membasuh ragaku
tak pernah berhenti
mencium bauku
Berhari-hari 3
berbulan-bulan
bertahun-tahun
jiwaku terdampar di sini
mengikis “dosa” jejakmu
Sembahlah damai itu, Tuan
sembahlah.
Sembahlah dalam aroma
sumurku
dalam lumut
hatimu.
Tapi apakah setelah perjanjian damai di Helsinki itu semua pria pejuang kembali kepada istri-istrinya yang telah melindungi mereka dari Tentara Indonesia? Tampaknya tidak. Ada juga yang kemudian menceraikan istrinya agar bisa menikahi perempuan lain sembari membawa dana bantuan korban tsunami yang menjadi hak istrinya itu.
Tengoklah puisi “Lelaki Itu”. Puisi ini menghadirkan peralihan suasana keangkuhan seorang suami menjadi kegeraman dan ketakberdayaan seorang istri. Suasana lelaki yang angkuh itu diawali dengan “rumah hati” sebagai metafor pernikahan yang penuh cinta. Tapi setelahnya muncul kata-kata dan kalimat lugas tak berperasaan. Sehingga penjajaran metafor dengan kata dan kalimat lugas itu membangkitkan kesan tentang begitu mudahnya lelaki itu berpindah hati tanpa memperdulikan istrinya yang dulu berkorban melindunginya dari tentara Indonesia:
Maaf, sayang
rumah kita kurubuhkan
untuk merumahkan hatiku
diperkawinan biru
Terimakasih, sayang
kau selamatkan nyawaku
kala itu
kala gerombolan mencariku
Kau rela banjir luka
kau rela menghadang senjata
ya, terimakasih saja
sayangku
Kini aku akan berikrar cinta
dengan perempuan baruku
Suasana kemarahan dan ketakberdayaan si istri dihadirkan lewat metafor “suara, telinga dan mata” untuk menyatakan tentang betapa mudah dan tanpa perasaan lelaki itu menyampaikan keinginannya untuk bercerai:
Kata lelaki itu
tanpa suara
tanpa telinga
tanpa mata
Ya, lelaki itu
membawa lari dana bantuan
atas namaku
Mestikahku berkata
badailah, alamatmu
duhai!
Kegetiran perempuan Aceh bertambah ketika, setelah perjanjian Helsinki itu, berbagai pemerintah daerah di Aceh mengatur cara mereka berpakaian agar tak menggoyang syahwat pria. Sebuah pengaturan atas nama agama. Di puisi “Di Negeri Tujuh Ribu Rok” Zubaidah mengisahkan aturan yang memagari cara perempuan berpakaian dan juga berbagai aspek kehidupan mereka. Kalimat “di negeri tujuh ribu rok” selalu ia tampilkan secara repetitif pada setiap baitnya. Saya hanya mengutip salah satu baitnya:
Di negeri tujuh ribu rok, aku terhenti
menebar pandang pada langit yang tak biru lagi
yang bercerita tentang tubuh-tubuh dipagari
konon katanya, agar pandangan liar tidak menggerayangi
agar kerusakan bumi tidak terjadi
tapi tahukah engkau wahai pembuat pagar negeri?
liar ada di kepalamu nan tinggi
kerusakan bumi juga dari tanganmu yang tak berhati
lalu kenapa tubuh-tubuh rentan itu yang kau sekap tiada henti?
kau tertibkan demi pengakuan Islamnya negeri
Puisi adalah Ajakan Pulang
Dalam berbagai puisi yang saya bahas di atas itu tampak bagaimana Zubaidah menggunakan strategi repetisi kata, penggalan kata, akhiran dan kalimat. Ia juga memilah dan menjajarkan waktu. Semua itu demi menghasilkan suasana atau rasa mencekam, takut, pedih dan putus asa. Ia berhasil menjadikan puisi sebagai sebuah strategi bahasa penyampai rasa nyeri dan berbagai persoalan/suara perempuan Aceh yang selalu dibungkam atau dibisukan oleh patriarki budaya, kegembiraan perdamaian Helsinki, dan tafsir patriarkal Syariah Islam. Puisi-puisinya itu telah menampilkan 5
perempuan Aceh sebagai suara lain, sebagai subaltern. Tak heran bila Zubaidah memberi judul bukunya itu sebagai “Kumpulan Puisi Bisu”.
Sebagai suara lain, subaltern, le semiotique atau puisi bisu, puisi-puisi Zubaidah ini menghantar penyair dan pembacanya ke situasi nyata, yakni rasa nyeri dari luka perempuan Aceh. Ia mengundang kepedulian kita. Karena itu puisi-puisinya adalah ajakan untuk pulang ke berbagai persoalan para perempuan Aceh itu.
Walau demikian, di buku ini, sepertinya Zubaidah merasa tak cukup dengan hanya menulis puisi-puisi liris itu yang pada dirinya sendiri merupakan ajakan untuk pulang. Ia juga memilah kumpulan puisinya itu menjadi dua bagian, yakni “Kebenaran Bisu”―yang saya kira tak lain dari kebenaran puitis itu sendiri―dan “Pulang”. Ia bahkan memberi judul “Pulang Melawan Lupa: Kumpulan Puisi Bisu”. Apakah ini tak berlebihan? Saya kira ini lebih merupakan penegasan Zubaidah, bahwa puisi-puisi ini memang ditulis sebagai ajakan untuk pulang kepada persoalan yang selama ini dilupakan. Luka itu membutuhkan puisi:
Selamat datang di pulau duka
pulau tafakkur membaca gelap
yang tak berbalut dusta dan keangkuhan
darinya kita belajar menyayangi dalam sakit
darinya kita belajar bangkit dengan cinta.
Donny Danardono adalah pengajar filsafat di Fakultas Hukum dan PMLP Unika Soegijapranata. 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *