Seniman Aceh Gelar "Malam Baca Maskirbi"

Sejumlah seniman menggelar acara bertajuk “Malam Baca Maskirbi” di Banda Aceh pada 10 Oktober 2013. Ini sebagai salah satu bentuk apresiasi kepada sastrawan dan dramawan terkemuka Aceh yang menjadi korban tsunami pada Desember 2004. “Sebuah bentuk apresiasi bagi guru, sahabat, rekan, saudara dan masyarakat,” tulis Teuku Afifuddin, salah seorang penggagas acara itu.
Penggagas lain, Sulaiman Juned, mengatakan menandai peringatan itu, panitia membukukan tulisan berisi kenangan tentang Maskirbi dalam tajuk “Maskirbi dalam Kenangan Keluarga, Sahabat dan Murid”. “Buku itu akan diluncurkan pada saat acara,” kata sastrawan dan dramawaan asal Aceh yang menjadi dosen teater di ISI Padangpanjang, Sumatera Barat itu, kepada Infosastra, Kamis, 27 Juni 2013.
Menurut Sulaiman, tulisan bisa datang dari siapa saja yang pernah mengenal dan bersentuhan secara kreatif dengan Maskirbi. Tidak hanya dari seniman, sastrawan atau penggiat kebudayaan. Panjang tulisan sekitar empat halaman (ketikan 2 spasi) dan kirim ke email: t.afifuddin@gmail.com, sjdoesy@gmail.com, kuflet@gmail.com, atjeher@gmail.com. Tulisan itu akan diseleksi oleh tim editor.
Maskirbi lahir dengan nama Mazhar di Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 9 Oktober 1952. Ketika ia tinggal di Sumatera Utara, putra Aceh Selatan itu banyak mengirimkan puisi dan cerpennya ke berbagai harian yang terbit di Medan. Ia lalu tinggal dan berkesenian di Banda Aceh sambil menjadi pegawai di Taman Budaya Aceh. Maskirbi juga pernah menjadi dosen tamu di di Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Buku kumpulan puisi tunggal “Mataharikah Matanya” terbit pada 1990. Puisi-puisinya tersebar dalam berbagai antologi puisi, antara lain, Antologi Riak (1972), Kami Koma Kamu (1977), Kande (1982), Ranub (1982), Antologi Penyair Aceh (1986), Puisi Indonesia (1987), Sosok I (1993), Sosok II (1994), dan Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995).
Dalam organisasi kesenian, ia pernah menjadi Sekretaris Umum Dewan Kesenian Aceh (1995-2000). Kala itu, Ketua Umum DKA Sjamsul Kahar. Selain itu, bersama Hasyim KS (alm), Nurgani Asyik (alm), Nani HS dan Doel CP Allisah, ia memprakarsai lahirnya Lembaga Penyair Aceh (LEMPA).
Maskirbi adalah pendiri dan pemimpin Teater Mata, Banda Aceh. Salah satu dramanya yang terkenal adalah “Poma” (Luka Ibu Kita), yang kemudian dibukukan dan menjadi bahan kajian mahasiswa. “Satu yang tak bisa dilupakan dari Maskirbi adalah kesederhanaannya, sikapnya yang sangat bersahabat terhadap siapa saja dan sangat akomodatif terhadap pendapat temannya,”
kata Teuku Afifuddin. [R]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *