Lebaran Masih Jauh

Cerpen Mustafa Ismail | Cerpen ini dikutip dari Suara Karya, Sabtu, 20 September 2008

Baru beberapa hari puasa, isteriku sudah banyak menerima SMS dari adik-adiknya di kampung agar mudik. Bahkan, ibunya sengaja menelpon meminta agar kami sekeluarga pulang. Tapi, isteriku cuek saja. “Lebih baik ibu ke Jakarta saja. Nanti aku kirim uang untuk ongkos,” kata isteriku pada ibunya.
Aku tidak tahu bagaimana perasaan orang tua itu ketika mendengar ucapan anak tertuanya itu. Kata-kata isteriku, entah setan apa yang merasukinya, kala berbicara tampak sangat emosional. Aku yang duduk tak jauh dari tempat ia duduk menerima telepon sempat mencubit lengannya dia agar lebih lembut berbicara dengan ibu.

Memang, ia tidak marah kepada ibu. Ia marah kepada adik-adiknya yang ia rasa bersikap tidak sopan padanya. Lebaran lalu, Mita, salah satu adiknya yang perempuan, mengirim SMS yang membuat kemarahannya meledak. “Mbak, kalau pulang, jangan lupa bawa uang yang banyak. Jangan seperti lebaran-lebaran lalu. Jangan pelit. Ini pesan ibu.”

Jangankan isteriku, aku pun ikut tersinggung dengan SMS itu. Akhirnya, kami memang memutuskan tidak pulang pada Lebaran lalu. Sebetulnya, bukan cuma gara-gara SMS itu. Hal utama tentulah karena isteriku baru beberapa hari melahirkan, jadi sangat tidak mungkin untuk membawa bayi baru berumur beberapa hari untuk perjalanan jauh.

Tadinya, aku dan kedua anakku yang akan pulang, untuk sekedar menengok ibu mertuaku yang memang tinggal sendiri setelah bapak meninggal beberapa tahun lalu. Isteriku sudah setuju. Rencananya, aku akan berangkat naik kereta pada hari kedua Lebaran. Tapi, SMS yang masuk tiga hari sebelum Lebaran itu membuyarkan semuanya.
“Jangan pulang. Kalau kangen cucunya, biar ibu saja yang kesini,” tutur isteriku.

Sore itu, ia segera menelpon ibu dan mengeluh soal SMS dari Mita. Ibu mengaku tidak tahu soal SMS itu. Ibu juga tidak pernah merasa meminta Mita untuk mengirim SMS seperti itu. “Itu kerjaan Mita saja. Iseng kali dia,” kata ibu.
“Masa iseng seperti itu…”
“Mboh, aku enggak tahu.”

Waktu itu, isteriku ingin bicara dengan Mita, tapi menurut ibu ia lagi tidak ada. Isteriku akhirnya menutup telepon dengan perasaan tidak karuan. Ia tahu, ibu tidak mau ia bicara dengan Mita. Sebab, pastilah akan terjadi pertengkaran hebat. Isteriku menghargai sikap ibu yang ingin meredakan ketegangan.

Tapi isteriku tidak puas. Ia tetap berusaha untuk berbicara langsung dengan Mita, dengan menghubungi nomor telepon genggamnya, namun tidak berhasil. Aku berusaha menenangkan isteriku agar ia tenang dan tidak perlu larut dalam kemarahan. “Mungkin Mita mau minta duit sama kamu, tapi nggak berani. Makanya dia bawa-bawa nama ibu. Kalau ibu minta, kamu kan pasti kasih,” kataku.
“Apa pun alasannya, cara seperti itu sangat sulit untuk dimaafkan.”

Aku tidak menanggapi lagi dan diam saja. Aku khawatir kalau ditanggapi, kemarahannya makin memuncak. Kala itu, aku sangat yakin pelan-pelan kemarahan dia terhadap Mita akan pupus seiring perjalanan waktu. Rupanya tidak. Berbulan-bulan kemudian, ia masih tetap mengungkit-ungkit SMS itu.

Maka itu, ketika liburan sekolah anakku Desember lalu, isteriku tetap tidak mau pulang ke kampung. Padahal, anakku yang tertua, Fira, sudah merengek-rengek mau berlibur di rumah neneknya di Jawa. Akhirnya, liburan kami justru ke kampungku di ujung barat Sumatera. Anakku yang kedua, Rizki, memang ingin berlibur ke sana.
“Lebaran nanti kita giliran liburan ke tempat Mbah Putri,” kataku pada mereka.
Isteriku diam saja.

* * *

Sebetulnya, SMS itu adalah puncak kemarahan isteriku terhadap Mita. Sebelumnya, ia kecewa pada Mita yang setelah kuliah lebih senang menganggur. Ia dinilai isteriku tidak gigih untuk mencari kerja. “Padahal dulu bapak pontang-panting menyekolahkan dia sampai sarjana,” kata isteriku.

Mita memang terlalu manja. Dulu, kata isteriku, apa pun permintaannya selalu dipenuh oleh bapak. Minta dibelikan sepeda motor, dipenuhi. Minta dibelikan ini-itu, tak satu pun yang ditolak. “Itu membuat Mita menjadi anak yang cengeng dan penuntut. Aku juga heran mengapa bapak bersikap berlebihan padanya dulu.”
“Kalau memang punya duit apa salahnya,” kataku.
“Tidak salah memang. Tapi kalau terlalu berlebihan jadi ngelunjak. Ya, seperti sekarang ini.”

Kemarahannya juga ditujukan pada adiknya yang lain, Dewi, yang masih kuliah di sebuah universitas di Semarang. Ia kecewa ketika pacarnya Dewi, Heru, mengajak nikah. Isteriku paling keras menentangnya. Sebab, isteriku ingin adik-adiknya berpendidikan tinggi dan kemudian mendapat pekerjaan yang layak serta punya karir yang bagus.

“Heru memang sudah mapan, punya usaha yang cukup maju. Tapi perempuan jangan hanya menjadi teman tidur doang, juga harus berprestasi. Nggak jamannya lagi perempuan hanya sebagai pendamping suami.”

Pernikahan itu memang tidak jadi. Tapi, Heru tetap menghendaki Dewi terikat dengannya lewat pertunangan. Itu juga ditentang isteriku. “Kamu jangan mau diikat-ikat begitu. Jalanmu masih panjang. Kalau seandainya nanti setelah kuliah kamu dapat beasiswa ke luar negeri, bagaimana jka Heru tidak mengizinkan dan justru mengajak buru-buru kawin.”
“Aku tidak akan menikah buru-buru Mbak. Aku akan menamatkan kuliah dan kerja dulu seperti Mbak.”
“Itu katamu. Belum tentu Heru setuju.”
“Heru telah berjanji tidak akan memaksaku menikah buru-buru.”
“Pokoknya Mbak tetap enggak setuju acara tunang-tunangan segala.”

Habis berkata begitu, isteriku langsung membanting telepon. “Heran, kecil-kecil mau tunangan. Dewi kan baru kuliah satu setengah tahun. Ini pasti taktiknya Heru, tunangan dulu, nanti dipengaruhi agar segera nikah,” katanya mengomel padaku.

“Dewi itu cantik, primadona di kampus. Mungkin ia takut disabet orang lain,” kataku.
“Kalau memang jodoh, tidak akan kemana. Kalau tidak jodoh, meskipun diikat bagaimana pun juga, juga akan lepas.”

“Kalau begitu, ngapain dipikirin. Biar saja mereka tunangan. Kalau memang jodoh, pertunangan itu akan langgeng. Kalau tidak jodoh, ya akan lepas di tengah jalan. Terpenting adalah mengawasi Dewi agar kuliah yang benar. Jangan melakukan hal aneh-aneh. Jangan sampai Heru memperdaya Dewi untuk menyerahkan kehormatannya sebagai taktik untuk bisa segera kawin.”
“Itu dia yang kutakutkan. Heru memperdaya Dewi…”
“Percaya saja pada Dewi ia bisa menjaga diri dengan baik. Yang penting kamu sering-sering mengingatkan dia.”

* * *

Belum pupus benar kekecewaan isteriku pada dua adiknya yang perempuan, tiga bulan lalu, adiknya yang laki-laki bikin ulah. Tengah malam, Rustam, sang adiknya yang tengah, itu mengirim SMS. “Mbak, aku mau menikah bulan depan. Aku mohon dibantu biayanya.”

SMS serupa masuk ke telepon genggamku. Jadi, ponselku dan istriku berbunyi berbarengan. Aku dan isteriku terkaget-kaget dari tidur, mengira ada pesan penting apa tengah malam begitu. Isteriku yang duluan menyambar, terdiam ketika membacanya. Ia hanya berkomentar singkat: “Ada-ada saja Rustam.”
“Orang mau kawin kan wajar toh?”
“Abang juga menerima SMS yang sama?”
Aku mengangguk.

“Memang, kawin itu hak siapa pun. Tapi Abang kan tahu, Rustam itu umurnya belum genap 20 tahun. Penganggur pula. Mau dikasih makan apa anak orang nanti. Dulu disuruh kuliah sama Bapak nggak mau. Dikasih modal untuk usaha, malah dihabiskan entah kemana.”

“Kalau aku masalahnya bukan itu. Masalahnya, mengapa SMS itu dikirim tengah malam begini, apa tidak ada siang. Ini jam satu dini hari lho.”
“Iya sih…”
“Sekarang gini aja, besok pagi kamu telpon dia, tanyakan persoalan yang sebenarnya.”

“Iya. Jangan-jangan dia sudah ngapa-ngapain anak orang lagi. Nggak ada hujan, nggak ada angin, tiba-tiba mau kawin. Ibu tidak pernah ngomong apa pun padaku. Atau jangan-jangan ia lagi butuh uang, lalu nyari-nyari alasan untuk bisa minta uang sama aku. Kalau memang iya begitu, duh, itu keterlaluan sekali.”

Kami kembali tidur. Aku langsung pulas kembali. Aku tidak tahu apakah isteriku juga langsung tertidur. Ketika aku memejamkan mata, kulihat ia masih menerawang. Aku tidak memperdulikan, langsung menutup tubuhku dengan selimut. Aku baru terbangun ketika aku mendengar suara isteriku sedang berbicara di telepon di luar kamar.

Tak lama, ia masuk. Ketika melihatku sudah membuka mata, ia lalu berujar. “Ibu malah nggak tahu kalau Rustam mau kawin.”
“Apa?”
“Iya. Ibu sama sekali nggak tahu.”

“Jangan-jangan benar dugaanmu, ia lagi cari-cari cara untuk minta duit padamu. Kamu tidak ngomong langsung sama Rustam?”
“Orangnya nggak ada. Ia kan jarang tidur di rumah.”
“Ya sudah, lupakan saja.”

Kami pun melupakan peristiwa itu. Tapi beberapa hari kemudian, giliran ibu yang menelpon istriku dan mengabarkan bahwa benar Rustam mau kawin. Rustam baru saja membawa calon isterinya kerumah bersama orang tuanya. “Gila juga itu anak. Masa membawa calon isteri dan calon mertua ke rumah tidak bilang-bilang dulu sama ibu.”
“Oh ya?”
“Ibu kaget bukan main. Dipikirnya siapa yang datang, ramai-ramai, dua mobil pribadi.”
“Wah, keterlaluan tuh Rustam,” kataku. “Terus, tanggapan ibu bagaimana?”

“Ibu tidak mengatakan ‘ya’ dan tidak mengatakan ‘tidak’. Terserah Rustam. Kalau mau kawin, kawinlah. Ibu tidak punya duit, karena tidak punya persiapan untuk itu. Kawin kok kayak mau beli rokok saja.”
“Nah, pasti Rustam akan gerilya pada saudara dan kerabatmu.”
“Aku juga tidak punya duit.”
“Dia pasti tidak percaya. Bayangan keluargamu kita kan berkecukupan. Punya mobil, rumah, sepeda motor. Mereka pasti gak tahu kalau semua itu kita peroleh dengan kredit. Mereka pasti enggak tahu kalau gajiku sebulan habis untuk membayar kredit-kredit itu, juga untuk bensin ke kantor. Untuk kredit mobil aja hampir tiga juta sebulan.”

“Begini saja, soal Rustam, aku yang ngurus dan bantu sebisanya saja. Kita memang tidak bisa membantu seperti yang dia minta.”
“Terserahmu sajalah.”

Belakangan kutahu, Rustam ngambek karena hanya dibantu beberapa ratus ribu rupiah. Ia mengirim SMS yang nada-nadanya marah ke telepon genggam isteriku, bahkan beberapa kali masuk ke telepon genggamku. Salah satu SMS Rustam berbunyi: “Orang lain bantu lebih. Masa saudara sendiri cuma membantu segitu.”

Aku mau menjawab SMS itu, tapi dilarang oleh isteriku. “Tidak usah didengar. Lupakan saja.”

* * *

Malam-malam, aku menerima SMS dari Rustam. SMS itu meminta agar kami pulang Lebaran. SMS serupa juga masuk ke telepon genggam isteriku saat kami sedang menikmati sahur. Pengirimnya Mita. “Ia minta maaf dengan SMS dulu dan minta kita pulang. Ibu kangen,” kata isteriku.
“Sudah dibalas?”
“Nggak. Biarin aja. Lebaran masih jauh…” ***

* Depok, 8 September 2008

——-
Mustafa Ismail, sehari-hari bekerja sebagai jurnalis di sebuah media nasional di Jakarta. Info lebih lengkap tentang penulis ini bisa dilihat di blognya www.musismail.com atau twitternya @musismail.

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>