Malam Ini Seniman Aceh Membaca Maskirbi

Para seniman Aceh akan menggelar acara mengenang sastrawan/dramawan Aceh Maskirbi di Taman Budaya Aceh, malam ini 9 Oktober 2013. Acara bertajuk “Malam Membaca Maskirbi” itu akan diisi dengan baca puisi, pertunjukan seni, mengenang rekam jejaknya, pameran dan mengirim doa untuk seniman terkemuka Aceh yang menjadi korban tsunami pada Desember 2004 itu.
Zulfikar, ketua Panitia, mengatakan dengan mengenang Maskirbi, kita sudah pasti akan mengenang juga seniman-seniman seangkatannya seperti Hasyim KS, Nurgani Asyik, Mursalan Ardi dan lain-lain yang pernah bersentuhan dengan Maskirbi. “Semua ini akan terlihat dari foto-foto, buku-buku dan berbagai kegiatan kesenian yang pernah dilakukannya,” ujar Zul seperti dikutip Aceharts.
Anggota panitia lainnya, Muammar Makruf menambahkan bahwa acara itu merupakan kerinduan para seniman kepada Maskirbi yang divisualkan untuk para seniman yang masih berkiprah pada masa kini. Menurut dia, banyak seniman seangkatan dengan Maskirbi sangat mengapresiasi acara ini. “Mereka terharu dan antusias ikut serta sekaligus ingin ikut andil.”
Pihaknya berharap acara ini dapat mengumpulkan semua seniman dalam lintas generasi. “Sehingga keluarga seniman di Aceh dapat saling mengenal dan bertukar ide serta kenangan,” kata mantan Manager artistik Teater Mata, kelompok teater yang didirikan dan dikelola Maskirbi, ini.
Maskirbi lahir dengan nama Mazhar di Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 9 Oktober 1952. Ketika ia tinggal di Sumatera Utara, putra Aceh Selatan itu banyak mengirimkan puisi dan cerpennya ke berbagai harian yang terbit di Medan. Ia lalu tinggal dan berkesenian di Banda Aceh sambil menjadi pegawai di Taman Budaya Aceh. Maskirbi juga pernah menjadi dosen tamu di di Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Buku kumpulan puisi tunggal “Mataharikah Matanya” terbit pada 1990.
Puisi-puisinya tersebar dalam berbagai antologi puisi, antara lain, Antologi Riak (1972), Kami Koma Kamu (1977), Kande (1982), Ranub (1982), Antologi Penyair Aceh (1986), Puisi Indonesia (1987), Sosok I (1993), Sosok II (1994), dan Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Dalam organisasi kesenian, ia pernah menjadi Sekretaris Umum Dewan Kesenian Aceh (1995-2000). Kala itu, Ketua Umum DKA Sjamsul Kahar.
Selain itu, bersama Hasyim KS (alm), Nurgani Asyik (alm), Nani HS dan Doel CP Allisah, ia memprakarsai lahirnya Lembaga Penyair Aceh (LEMPA). Maskirbi adalah pendiri dan pemimpin Teater Mata, Banda Aceh. Salah satu dramanya yang terkenal adalah “Poma” (Luka Ibu Kita), yang kemudian dibukukan dan menjadi bahan kajian mahasiswa.
“Satu yang tak bisa dilupakan dari Maskirbi adalah kesederhanaannya, sikapnya yang sangat bersahabat terhadap siapa saja dan sangat akomodatif terhadap pendapat temannya,” kata Teuku Afifuddin, mantan murid Maskirbi di Teater Mata. [R]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *