Soekram Sapardi Djoko Damono Menggugat Pengarang

AGAM TUNGANG | @agamtungang | Tulisan ini dikutip dari situs Puyengan.com |

Menandai ulang tahunnya ke-75, sastrawan terkemuka Indonesia Sapardi Djoko Damono meluncurkan novel Trilogi Soekram di Toko Buku Gramedia Central Park, Jakarta, Minggu, 22 Maret 2015. Peluncuran novel guru besar Universitas Indonesia itu diwarnai dengan Kelas Hujan Bulan Juni bagi pecinta sastra Indonesia.

Novel ini adalah kumpulan tiga novelnya, yakni “Pengarang Telah Mati” (2001), “Pengarang Belum Mati” (2011) dan “Pengarang Tak Pernah Mati” (2012). Bagian pertama novel ini berlatar belakang kerusuhan 1998. Bagian kedua tentang pengarang Soekram yang dikira telah mati namun rupanya masih hidup.

Lalu di buku ketiga, tokoh Soekram memilih mengarang sendiri ceritanya. “Di sini ditulis tentang pertemuan Soekram dengan semua tokoh yang telah dibuat sebelumnya oleh penulis lain,” tutur peraih penghargaan Akademi Jakarta untuk pencapaian bidang kebudayaan pada 2012 itu.

Dalam novel ini, tokoh Soekram melompat dari cerita lalu menggugat sang pengarang: mengapa tidak menyelesaikan tulisannya, mengapa Soekram tak bisa menentukan jalan ceritanya sendiri, tak bisa menjadi pengarang, dan seterusnya. “Tokoh ini melompat dari novel lalu bertemu saya. Kemudian saya diminta menulis lagi tentang Soekram.”

Menurut Sapardi, ketika ia menulis Soekram, muncul banyak pertanyaan dan teori yang selama ini diperdebatkan. “Misalnya saja, Marah Rusli menulis Siti Nurbaya. Marah Rusli kan ciptaan Tuhan dan Siti Nurbaya ciptaan Marah Rusli. Tapi siapa yang masih hidup? Nah, ide itu yang ada di pikiran saya,” tutur Sapardi seperti dikutip detik.com.

Penulis yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan akan mati. Sementara karya yang ditulisnya bisa abadi. “Ciptaan manusia malah tidak mati, tetapi ciptaan Tuhan mati. Itu yang saya pikirkan (saat menulis Soekram),” tutur peraih SEA-Write Award dari Thailand pada 1986 itu

Sapardi lahir di Surakarta, 20 Maret 1940. Ia sudah menulis sejak bersekolah di Surakarta. Aktivitas menulisnya makin menggelora ketika kuliah bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sejak 1974, ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia dan pensiun beberapa tahun lalu. Di FIB, ia pernah pula menjadi dekan.

Sembari menjadi akademisi dan penulis, ia juga pernah menjadi editor di majalah Horison, Basis, dan Kalam. Puisi-puisi penerima Penghargaan Achmad Bakrie pada 2003 itu telah diterjemahkan ke dalam sejumlah bahasa. Salah satu puisinya paling terkenal adalah Hujan Bulan Juni. Buku kumpulan puisinya antara lain, “Duka-Mu Abadi”, Bandung (1969). “Mata Pisau” (1974), “Perahu Kertas” (1983), “Hujan Bulan Juni” (1994), “Ayat-ayat Api” (2000), “Kolam” (2009), “Namaku Sita” ((2012).

Tak hanya menulis puisi dan karya ilmiah sebagai akademisi, ia juga banyak menulis esai dan cerita pendek. Kini, sambil terus menulis, ia juga mengajar di Program Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta.

[R | ANTARANEWS.COM | DETIK.COM |WIKIPEDIA]

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>