Penyair Saut Simorang Dijemput Paksa oleh Polisi Jakarta

Penyair Saut Situmorang dijemput paksa oleh tiga anggota Polres Jakarta Timur di rumahnya di Yogyakarta, Kamis, 26 Maret 2015. Ia akan diperiksa sebagai saksi kasus pencemaran nama baik yang dilaporkan penyair Fatin Hamama.
Tiga polisi itu tiba sekitar pukul 08.00 dan mengajak Saut untuk langsung berangkat ke Jakarta. Namun Saut menolak dan menghubungi pengacara serta teman-temannya yang berada di Jogja.
Lalu belasan pegiat sastra dan budaya di Yogyakarta berkumpul di rumah Saut di Jalan Parangtritis. Mereka memberi dukungan kepada suami kritikus dan akademisi sastra Katrin Bandel itu. “Terimakasih banyak kepada kawan-kawan semua atas dukungan luar biasa ini dalam perjuangan kita membersihkan Sastra Indonesia dari manipulasi dan dusta sejarah! Aku dan Katrin jadi kuat kerna kalian!” tulis Saut di sebuah group sastra di Facebook.
Kasus penjemputan paksa Saut Situmorang ini berawal dari polemik buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” yang dibikin tim delapan. Buku itu mencantumkan nama Denny JA sebagai salah satu tokoh berpengaruh itu. Namun para pegiat sastra bereaksi mengecam pencantumkan pencantuman Denny sebagai tokoh paling berpengaruh itu. Mereka menilai Denny belum berbuat banyak dalam sastra dan melahirkan karya kuat dan layak ditokohkan.
Dalam waktu hampir bersamaan, Denny juga mensponsori penerbitan sejumlah buku antologi puisi esai yang menghimpun karya belasan penyair Indonesia. Adapun yang mengontak penyair dan mengumpulkan puisi itu adalah Fatin Hamama. Sejumlah pegiat sastra kemudian menuding penerbitan buku itu untuk memperkuat posisi puisi esai yang dipopulerkan secara besar-besaran oleh Denny DA. Sehingga, buku itu dianggap untuk mendukung kketokohan Denny.
Keriuhan kemudian tak hanya mengarah ke Denny, penulis buku 33 Tokoh Sasta, juga ke Fatin yang dianggap tidak menjelaskan maksud dan tujuan di balik penrbitan buku antologi puisi esai itu. Dari sanalah kemudian keriuhan memuncak sehingga berujung pelaporan pencemaran nama baik yang dilaporkan Fatin Hamana. Ada dua penyair yang dilaporkan yakni Iwan Soekri Munaf dan Saut Situmorang.
Hasan Basri, Ketua Lesbumi Yogyakarta, yang hadir di rumah Saut menyatakan ada yang jelanggal dalam penjemputan paksa itu. Kejanggalan pertama adalah penjemputan dilakukan tanpa memberitahu pengacara. Kedua, jeda dari pemanggilan terakhir terhitung lama, sejak September 2014 lalu. “Ditakutkan ada politisasi dalam kasus ini,” tutur seperti dikutip Ajik Permana di situs Literasi.co.
Sastrawan pemenang Lomba Novel DKJ 2014, Mahfud Ikhwan, menyayangkan kehadiran polisi dalam pertentangan sastra ini. Menurutnya, jika polisi telah berurusan dengan sastra selalu berakibat buruk bagi sastra, kebudayaan, maupun segenap warga sastra dan kebudayaan. “Seharusnya polisi jauh-jauhlah dari sastra, karena orang yang memakai polisi atau hukum dalam urusan sastra tidak pantas menjadi bagian darinya,” terangnya.
Pada pukul 13.45, Saut Situmorang beranjak dari rumah memenuhi panggilan bersama pengacara. Para pengunjung berdiri dan Puthut Ea memberi orasi ringkas mengenai penjemputan Saut dan memimpin doa. Puthut menyatakan, pasal karet dalam UU ITE seperti pasal 27 ayat 3 lebih sering digunakan dalam penyelidikan ini. Menurutnya perlawanan terhadap penjemputan paksa ini demi kebebasan berekspresi, hak asasi manusia, dan untuk sastra maupun kebudayaan Indonesia. “Semoga ini menjadi momen yang tepat bagi semua yang memperjuangkan hal itu,” jelasnya.
Adapun pengacara Saut, Iwan Pangka, menilai pemanggilan dalam kasus itu tidak jelas juntrungannya. “Ini kan sebenarnya perdebatan sastra, tapi kok masuk ke ranah hukum. Ada tujuan apa?” kata Iwan seperti dikutip Tempo.co. Menurut Iwan, Saut akan diperiksa Jumat, 27 Maret 2015 di Polres Jakarta Timur. [R]
FOTO: Literasi.co | DOK Nanda Aria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *