Puisi-Puisi Saut Situmorang

Saut Situmorang lahir 29 Juni 1966 di kota kecil Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Tapi ia besar di Medan. Pada 1989-2000, ia menetap di Selandia Baru. Di sana, ia belajar Sastra Inggris (BA) dan Sastra Indonesia (MA) di Victoria University of Wellington dan University of Auckland. Ia menulis puisi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Karya-karyanya diterbitkan di Indonesia, Selandia Baru dan Australia. Buku kumpulan puisinya adalah “Saut Kecil Bicara Pada Tuhan (2003)” dan “Catatan subversif (2004)”. Berikut ini adalah sejumlah puisinya yang termaktup dalam buku puisi Saut Kecil Bicara Pada Tuhan.

INSOMNIA

hampir. tengah malam. jalan.
jalan. kota sudah sepi. mobil
kadang lewat. mengiris. dingin. malam.
di kamar. sendiri. aku mendengar.
musik. dari tempat. yang jauh.
tentang tempat. yang jauh.
malam. hampir. begitu. sepi.
tak. ada. jangkrik. tak. ada. burung. malam.
darahku. menari. mengikuti. suara. gondang.
tempat. yang jauh. memanggil. manggil.
masa lalu. malam. kota. sepi.
di kamarku. sendiri. angin. sudah lama mati.
jalan. di luar. menggelepar. sekarat. malam.
begitu. kelam. memanggil. manggil.
musik itu. suara itu. dari jauh.
begitu jauh. angin. sudah lama
mati. tapi badanku. menggigil. darah.
darah. menari. mabok. gondang.
tempat. yang begitu. jauh. tak sanggup.
tak terjangkau. sendiri.
di kamar. aku. sendiri. hanya. suara itu.
terus. menyeru. tak henti. tak henti.

PADA UPACARA MENJEMPUT DAUN BERINGIN

– buat Made Wianta

gunung keramat menghembus hujan
turun di ujung kakiku
ke manakah si mati yang dibakar tadi pergi?

gamelan lembut merangkul rambut langit
yang tergerai jatuh dekat kakiku
begitu jauh dariMu
wahai gadis kecil menari di buih putih masa lalu

“white wine lebih nikmat pake es”
kawanku memandang minta aku setuju

ikat kepala hitam aku pakai di kepala
untuk menghormatimu
o perempuan tua yang tak pernah aku kenal –
betapa sunyi kematian tanpa tangis tanpa keturunan

pada upacara kematian perempuan tua tak pernah kukenal
betapa indah terkenang senyumMu yang penuh kehidupan!

karena laut, sungai lupa jalan pulang

di kota kecil itu
gerimis turun
dan kita basah
oleh senyum dan tatapan tatapan curian
yang tiba tiba mekar jadi ciuman ciuman panjang …

karena laut, sungai lupa jalan pulang
dan batu batu hitam
daun daun gugur
danau kecil di lembah jauh
jadi sunyi
kehilangan suara jangkrik suara burung

gerimis yang turun
mengikuti terus
di jalan jalan gunung
pasar hiruk pikuk
bis antar kota
pertunjukan pertunjukan malam yang membosankan
sampai botol botol bir kosong
tempat lampu neon berdustaan dengan bau tembakau

karena laut, sungai lupa jalan pulang
dan di meja-warung basah oleh gerimis
sebuah sajak setengah jadi
mengabur di kertas tissue yang tipis

BOCAH PEMANCING IKAN

– untuk Vasko Popa

seorang bocah kecil memancing di danau
dan mendapatkan bulan
bulan itu lalu dipecahkannya dan keluarlah matahari
karena terlalu panas matahari itu meleleh di dalam solunya

si bocah kecewa dan menangis
menangisi matahari yang meleleh hingga tak ada hasil
untuk dibawa pulang
menangisi bulan yang sudah pecah berkeping keping
hingga tak lagi menyinari
jalan yang membawanya pulang
menangisi danau yang hanya punya satu bulan saja
dalam perutnya
menangisi dirinya yang bocah yang kecil yang hanya bisa
menangis di dalam
solunya di tengah tengah pekatnya lapar malam

SAUT KECIL BICARA DENGAN TUHAN

bocah laki laki itu
duduk sendiri
di tanah kering
di belakang rumah

diangkatnya wajahnya
yang kuning langsat
ke langit
yang kebiru biruan

matanya yang hitam
tak terpejam
asyik mengikuti gumpalan gumpalan awan
yang dihembus angin pelan pelan

dia tahu tuhan tinggal di situ
di langit biru di balik awan awan itu
karena begitulah kata ibu
tiap kali dia bertanya ingin tahu

bocah kecil itu
masih terus memandangi langit biru
matanya yang hitam
masih terus tak terpejam

tapi dia tak mengerti
kenapa kadang kadang turun hujan ke bumi
membuat becek jalan di depan rumah
membuat dia tak boleh main di luar rumah

kalau di atas ada langit
apakah yang ada di bawah tanah ini
bocah kecil itu bertanya tanya dalam hati

mungkin di bawah tanah ini
sama seperti di atas sini, serunya dalam hati
ada pohon ada rumah rumah
ada tanah lapang di mana orang
main layang layang
dan tentu mereka mengira
di atas sini tinggal tuhan mereka!

dia mulai tersenyum
dia tahu sekarang kenapa kadang kadang turun hujan

tentu saja hujan turun dari langit
karena di atas sana tuhan sedang pesta
dan air hujan itu
tentu air yang dipakai mencuci piring gelas
sehabis pesta
sama seperti ibu waktu cuci piring gelas
dan airnya hilang masuk ke dalam tanah

senyumnya makin lebar sekarang
dibayangkanNya anak anak mandi hujan
di bawah sana!

AKU INGIN

aku ingin mencintaiMu dengan membabi buta –
dengan sebotol racun yang diteguk romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi

aku ingin kau mencintaiKu dengan membabi buta –
dengan sebilah belati yang ditikamkan juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi

1999

DISEBABKAN OLEH RENDRA 3

rambut gugur
di baju di handuk dan di bantal di kasur
gugurlah semua ketombe dan kutu kepala bersamanya

kekasihku

rambutku gugur
di atas sprei di mana kau dulu tertidur
gugurlah segala mimpi yang pernah menyatukan kepala kita

baiklah kita ikhlaskan saja
tiada janji ‘kan jumpa di eropa atau indonesia
karena asmara bisa jadi asma kalau pindah pindah budaya

asmara cuma lahir di gelas bir atau whisky
(di mana segala berujung di kasur dan kamar mandi)
ia mengikuti warna rambut kita
dan kalau rambut sendiri telah gugur
gugur pula ia bersama sama

ada tertinggal serambut kenangan
tapi semata tiada lebih dari hangover minuman
atau semacam pencegah masturbasi

mungkin ada pula kesedihan
itu baginya semacam inspirasi bagi puisi
yang sebentar akan pula berontokan

kekasihku

gugur, ya, gugur
semua gugur
rambut, ketombe dan kutu kutu di kepala
yang kita perlu cuma shampoo lidah buaya!

SPRING SUDAH TIBA

spring sudah tiba dan jarum kompas
jadi liar dalam gelasnya
waktu perahu kertas yang kulayarkan
ke utara terbalik menabrak
pelangi tiga warna

wajahku mengeras di cermin kamar mandi
karena jejak kakimu
wahai camar berbulu putih
disembunyikan ombak laut dari
sepasang mataku yang letih

spring sudah tiba dan pohon pohon
di puncak bukit mengibas ngibaskan
debu salju dari alis mereka sementara
dua ekor anak domba
melompat terperanjat melihat
sekuntum mawar
mekar di sela sela pagar

perahu kertasku yang malang…
tapi lihatlah! tiga orang bidadari

turun

dari

pelangi

mereka angkat perahu kertasku
yang hampir tenggelam itu
dan salju yang mulai mencair
membawa mereka berlayar ke
pinggir
danau
yang
tenang

GRAFITI CEMBURU

-eine kleine nachtmusik

aku merindukanMu.

malam di kotaku sesak terhimpit
cahaya bulan tembaga.
layang layang yang dinaikkan
anak anak desa tadi siang
bagai kalong kalong kematian hitam
menganyam bayang bayang panjang
menjerat rumah rumah berlampu tak terang
dan derunya
sampai ke kamarku yang penuh bising nyamuk.
rambut kusutku lengket
di bantal basah keringat
menginginkan goresan ujung kukumu.
Aku ingin tenggelam dalam
ombak birahimu, badai rindumu.
para tetangga yang berjudi di kamar sebelah
tertawa pada kartu kartu berwajah sama
tangis anak istrinya –
apa yang sedang kau lakukan malam ini?
malam di kotaku sesak terhimpit
bau knalpot bau asap rokok
dan bulan tembaga yang pucat
berdarah matanya
tertusuk cakar layang layang
yang dibiarkan anak anak desa kelaparan di pekat malam.
betapa ingin kupanggil namaMu!
seperti bocah kecil terjaga
dari kejaran raksasa dalam tidurnya
tapi kamar yang gelap penuh sarang laba laba
telah lama kehilangan suara langkah kaki bunda.

aku merindukanMu
di tengah pengap puntung puntung rokok
dan hujan malam bulan Juni
yang menambah gelisah layang layang raksasa di atas rumah
merindukanMu lewat desah sungai alkohol bening
yang menghanyutkan batu batu hitam masalaluku
daun daun kering luka lukaku.

aku merindukanMu
di pasir putih puri kanak kanakku
patung patung pasir tak berbaju mimpi mimpiku
bagai kupu kupu kecil terbang dari sunyi kepompong mati
aku menari dalam hujan malam bulan Juni
di bawah panas cahaya bulan tembaga
mengikuti irama deru layang layang raksasa basah
yang tersesat dalam labirin rumah rumah tak terang lampunya
aku menari dan menari
tanpa suara
hilang dalam pusaran lubuk badai rindu
tak sanggup memanggil namaMu.

malam di kotaku terpanggang
hangus api cemburu.

denpasar, 9 juni 2001
12:00 pm/am

KATA DALAM TELINGA

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
cukup kuat
untuk melindungi
bawah perut yang lembut
terbuat dari renda renda dan daging otot
hairspray dan air ludah
20 kaki di atas kepala kita
jauh seperti sebuah perahu mengapung
seperti wayar wayar lembut lentur
montok seperti oyster
kalung bulu dan tulang di leher
berlayar antara bulan dan bintang bintang
di air halusinasi di atas bukit orang mati
seperti Pinocchio
main film biru di bawah meja kantor
demi eloquence
di dinding alfabet
bukan batu giok
dalam truk sampah
do you read me?

ada sebuah tangga menuju ke atap
sebuah rumah berjendela hitam
di mana kami mengubur laundry kotormu
biar kami bisa cerita hal hal yang baik saja tentang dirimu
bocah kemaren sore
yang berhenti percaya pada tuhan
yang berkata, “kalau tuhan itu pemabuk
aku tak perlu minum alkohol!”
ayolah

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
sebelum musim dingin tiba
dengan botol botol susu beku dalam kotak surat
yang sedang diukiri tetanggaku dengan pahat
sambil berkata, “cuka dipakai di jaman Sebelum Masehi
sebagai spermicide-a pessary!”
“caranya, dicelupkan ke dalam,
mungkin menyengat sedikit!”

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
sebelum musim dingin tiba
ya, musim dingin akan indah tahun ini
dengan televisi televisi bisu membaca
bibirnya sendiri dengan logat Inggris
menghembuskan kesunyian kesunyian panjang
untuk menghangatkan diri
e hoa ma! o sobat
belut perut perak adalah yang terbaik untuk dikeringkan!
jadi waktu pemain sax
membuka lagunya
seperti minum
kita tak punya pilihan lain
kita mesti mengikuti
boneka boneka Gringo
ke mana burung burung merpati membangun sarangnya
waktu arah angin berubah
dan mengikutimu masuk ke dalam kegelapan pikiran
candi penuh ular
candi dewi ular
dewi birahi orang orang pagan
candi 13 warna biru
biru airmata, biru rasa rindu
biru hijau cemburu
biru palung dalam, biru bumi
biru cinta, biru cermin kaca
biru nostalgia, biru bahaya
biru tipu, biru napsu
biru kehilangan, biru kematian

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana matahari jadi lebih berarti
di mana hantu seseorang yang dulu kau cintai
seseorang kepada siapa dulu kau selalu berkata “karenamu
aku selalu kesepian”
berbisik padamu dalam bahasa Morse
“pandanglah aku sekarang. aku kembali untuk menghantuimu!”
Valhalla nampak
begitu jauh
seperti bola bola golf
para businessman bangsa Jepang
yang sedang menghapal percakapan Inggris-Zen
“hi, I’m Richard Taylor
and so are you!”

ada sebuah tangga menuju ke atap
seperti sebuah gantungan baju dari logam
tergantung tanpa baju
sexual pleasure
on empty roads
sebuah daun gugur
Jumat
adalah hari yang paling kejam dalam seminggu
berat
tailor-made
terbuat dari pecahan pecahan kaca halte bis kota
old talk
sebuah café
sebuah pekerjaan tetap

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana dua burung Enggang mengitari tiang totem tua
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
seperti sebuah Big Mac
oleh Picasso
datanglah kalian wahai para hantu
yang menjaga pikiran pikiran duniawi
hantu hantu sebuah tangga menuju ke atap
atap perak atap kaca atap burung burung
atap sayap sayap kupu kupu patah
hitam, putih, dan multiwarna
dan beruap seperti onggokan onggokan tahi lembu
di pagi kota Te Puke yang dingin
datanglah kalian wahai para hantu pemilik hak cipta
seni yang palsu, immoral, angkuh, dan penuh tipu
aku tak bertanggung jawab atas sajak ini!

CATATAN SUBVERSIF TAHUN 1998

— disebabkan oleh Wiji Thukul

kau adalah kemarau panjang

yang hanya membawa kematian

kepada daun, bunga, dan

ikan ikan di sungai

kampung tercinta

karena kau adalah kemarau

maka airmata marah kami akan

menggenangi bumi

jadi embun

naik ke langit jadi awan awan

dan dengarlah gemuruh suara kami

sebagai hujan turun

mengusirmu dari sini!

maret 1998

POTRET SANG ANAK MUDA SEBAGAI PENYAIR PROTES

kota kota menggersang. hari hari jahat. hantu

srigala betina bangkit dari sela reruntuhan

bangunan.

tak ada lagi damba

hanya

lumut dan bara api

menemani sepanjang hari.

aku disergap dentang kematian

dan aku terbakar hangus

dan aku lari tak tentu arah.

api semarak menghangus bajuku

sepasang tanganku

rambut kusutku. dan sambil berlari

aku menjerit memekik. tapi,

tak ada yang peduli.

aku memandang ke depan dengan kedua

mataku buta

aku mendengar sekitarku dengan kedua

kupingku tuli

dan ada suara suara sumbang

buta dan tuli

tak mampu lindungiku

dari suasana hidup yang memilu

mata dan telinga hati

membebani!

1987

SAJAK APARTHEID

botha adalah anak matahari

siang hari matahari kelihatan botha kelihatan

malam hari matahari tak ada botha tak ada

bukankah putih putih karena cahaya?

botha adalah anak matahari

matahari adalah induk botha

di mana ada semut di situ ada gula

di mana ada matahari di situ ada botha

di pantai botha telanjang bersama matahari

di pantai botha jogging bersama matahari

di pantai botha cocktail party bersama matahari

di pantai botha dansa bersama matahari

tapi matahari tak bisa lama lama bersama botha

matahari harus pergi matahari harus pergi

botha tak mau sendiri botha takut sendiri.

matahari takut malam matahari tak suka malam

botha takut malam botha tak suka malam

di pantai botha membuat api

api taku malam api tak suka malam

api harus pergi api harus pergi

botha takut malam botha tak suka malam

di pantai tak ada matahari tak ada api

di pantai botha sendiri botha takut sendiri

malam tak takut matahari tak suka matahari

malam tak takut api tak suka api

malam tak takut botha tak suka botha

di pantai botha telanjang sendiri sendiri sendiri

malam tak takut botha tak suka botha di pantai

telanjang sendiri sendiri sendiri

botha harus pergi!

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>