Fatin Hamama, dari Puisi Hingga Film India

Nama Fatin Hamama dalam setahun terakhir ini ramai dibicarakan. Itu tak lain karena ia terlibat menjadi editor sejumlah buku puisi esai karya sejumlah penyair. Penerbitan buku itu disebut-sebut disponsori oleh Denny JA. Nama Denny mendadak terkenal di dunia sastra karena menerbitkan buku kumpulan puisi — yang diklaim sebagai puisi esai — termasuk berbagai kegiatan lain, seperti lomba, untuk mendongkrak puisi tersebut.

Puncaknya adalah terbitnya buku 33 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sastra Indonesia pada awal 2014. Buku itu mencantumkan nama Denny dalam jajaran 33 tokoh berpengaruh itu. Nah, di sinilah persoalan muncul. Sejumah sastrawan menilai pencantuman nama konsultan politik itu dalam jajaran tokoh berpengaruh tidak tepat. Sebab, dari sisi karya, Denny dianggap belum melakukan “apa-apa” dalam sastra Indonesia.

Keriuhan menjalar ke mana-mana. Fatin Hamama ikut kecipratan dampak buku 33 tokoh sastra paling berpengaruh tersebut. Sebab, Fatin terlibat dalam penerbitan sejumlah buku antologi puisi esai yang disponsori Denny. Fatinlah yang bertugas menghubungi para penyair dan meminta puisi esai untuk diterbitkan. Sejumlah sastrawan dan pegiat sastra menganggap buku itu bagian dari skenario untuk mendongkrak nama Denny, termasuk untuk menjadi tokoh.

Namun Fatin membantah ikut terlibat dalam skenario itu. Menurut dia, apa yang dia lakukan semata-mata untuk sastra Indonesia. “Saya terpanggil untuk ikut berkontribusi positif dalam derap langkah Sastra Indonesia,” tulis Fatin di situs milik Denny JA pada Februari 2014.

Menurut Fatin, keterlibatan sejumlah penyair menulis puisi esai untuk buku Antologi Puisi Esai 23 Penyair itu karena gagasan yang dia tawarkan menyangkut isu-isu sosial dan diskriminasi. “Sebagai sastrawan, jelas mereka punya kepekaan terhadap itu. Kemudian dengan senang hati menyambut niat baik saya.”

Nah belakangan, dalam keriuhan itu, Fatin kemudian melaporkan dua sastrawan yakni Iwan Soekri Munaf dan Saut Situmorang karena pencemaran nama baik. Itu berangkat dari tulisan atau komentar mereka di akun Facebook yang dianggap menyerang Fatin. Nah pekan lalu, Saut Situmorang dijemput paksa di Yogyakarta oleh polisi dari Polres Jakarta Timur karena dua kali tidak hadir untuk diminta keterangan sebagai saksi. Penjemputan itu membuat riuh di kalangan sastrawan dan pegiat sastra. Nama Fatin pun kembali disebut-sebut.

Peyair kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat, 15 November 1967, ini banyak menulis puisi relegius. Fatin mulai menulis dan membaca puisi sejak di bangku kelas III SD. Saat duduk di bangku SD sampai Aliyah, ia berkali-kali memenangkan lomba cipta dan baca puisi. Ia kemudian menjadi anak binaan sastrawan Leon Agusta.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir (1987-1995), ia kembali ke Indonesia. Ia aktif mengikuti berbagai forum sastra antara lain Pertemuan Sastrawan Nusantara, Malaysia (1999), Dialog Utara VIII di Thailand (1999) Debat Sastra Akhir Abad di LKBN Antara (1999), Festival penyair se-Dunia di Seoul (Korea Selatan, 1997), Sydney (Australia) dan Kuala Lumpur (Malaysia).

Karya-karya pengurus Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dan Yayasan Cinta Sastra (YCS) ini dimuat di berbagai media cetak dan sejumlah antologi bersama. Kumpulan puisi tunggalnya berjudul Papyrus. Puisi-puisi dalam buku itu mengungkapkan kecintaannya pada Mesir sebagai ibu dunia. Isteri seorang diplomat dan ibu dua anak ini juga pernah menjadi dubber film-film India di beberapa stasiun TV serta drama radio Butir-butir Pasir di Laut. [R]

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>