Surat Sastra Gunoto Saparie untuk Triyanto Triwikromo

Triyanto Triwikromo yang baik.

Aku telah membaca buku kumpulan puisi terbarumu, Kematian Kecil Kartosuwirjo (KKK). Aku pun telah menyimak beberapa resensi tentang buku puisi itu. Banyak juga yang memujimu, ya! Memang, capaian literermu boleh juga. Salah satu kelebihanmu adalah bahasamu yang begitu liris. Memadu prosa dengan puisi, bahasamu memang memiliki me­trum atau irama.

Selamat dan sukses, ya, Tri. Kau akhir-akhir ini makin kreatif dan produktif saja, justru di tengah kesibukanmu menjadi redaktur pelaksana sebuah koran. Se­moga Tuhan melimpahkan rahmat ke­padamu.

KKK memang liris, musikal, meskipun aku kesulitan mendapatkan kejutan dan suspens dari prosa lirikmu itu. Ah, jangan-jangan KKK itu puisi esai. Jangan-jangan pu­la kau terkena pengaruh Denny JA. Hahahaha…

Baiklah, Tri, nanti soal KKK kita sambung lagi. Sebenarnya aku telah tiga kali membaca novelmu Surga Sungsang (SS). Ka­li ini, aku membaca bukumu itu lagi sambil tiduran di depan televisi. Entah ke­napa aku tak bosan-bosan membacanya. Barangkali tema ceritanya memang me­narik. Novel SS ini menceritakan kehidupan yang sungsang atau terbalik, bukan? Kau dengan riang memasukkan idiom agama Islam dalam novel ini, seperti Allah, malaikat, surga, dan syeh, yang merupakan bumbu dari polemik dalam SS.

Adalah Syeh Muso, nama tokohmu. Wah, nama ini mengingatkan pada tokoh pemberontakan di Madiun beberapa tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan RI. Syeh Muso ini merupakan panutan pen­duduk ujung tanjung, namun dia justru dianggap sesat oleh saudaranya, Syeh Bintoro. Syeh Muso memang bukanlah Nabi Musa, namun herannya dia memiliki mukjizat seperti nabinya bani Israel itu. Inilah yang membuat Syeh Muso menjadi panutan masyarakat setempat.

Memang, Syeh Muso tidak bisa berjalan di atas air, tetapi dalam pembicaraan bisik-bisik di kampung nelayan itu, konon, dia dapat menyibakkan air laut dengan tongkat. Wow! Dia bisa berjalan di dasar laut dan melihat dinding-dinding laut yang terbelah itu sebagai kolam ikan raksasa.

Ada warna lokal yang cukup kental da­lam novelmu ini, Tri. Kau mengangkat tradisi orang Jawa, yaitu nyekar atau sekadar berkunjung ke makam junjungan orang-orang Jawa yang mereka anggap panutan da­lam hidup.

Setelah Syeh Muso wafat, penduduk ujung tanjung maupun penduduk luar tak pernah lupa untuk mengunjungi makamnya. Makam itu tak pernah sepi pengunjung, meskipun letak makam itu harus di­jangkau dengan kapal dan harus melewati hutan bakau serta hamparan bu­rung-bu­rung bangau. Ma­kam itu konon sering me­mantulkan cahaya berwarna hijau kepada peziarah.

Abu Jenar tak menyukai tradisi ziarah ke makam Syeh Muso ini. Ia ingin sekali menghancurkan makam itu. Namun, Kiai Siti, tetua kampung, dan Kufah tidak setuju dengan rencana penghancuran makam se­sepuhnya itu. Mereka menganggap Abu Jenar merupakan suruhan orang kota yang diminta menghancurkan makam Syeh Muso guna pembangunan sebuah resor. Tentu saja konflik, pergolakan pun muncul.

Triyanto yang baik.
Novelmu memikatku membaca sejak awal sampai akhir. Aku bahkan sampai menunda ”tugas nasional”-ku mengepel lantai rumah. Novel SS mengangkat tema tentang konflik dalam suatu masyarakat. Kau bercerita dengan indah tentang tanjung yang hendak tenggelam dan pergolakan tokoh-tokohnya melawan kekerasan serta memperjuangkan kebenaran. Ke­sung­sangan zaman pada novel ini ditandai dengan adanya dua kekuatan yang beradu supremasi di atas daerah bernama Tan­jung­kluwung, yakni penduduk asli yang mencoba bertahan yang mewakili ma­sya­ra­kat tradisional, dan para investor yang berusaha menggusur penduduk dan membangun resor di Tan­jung­kluwung yang mewakili masyarakat modern.

Memang, Tri, ada gesekan-gesekan he­bat yang mengakibatkan konflik di Tan­jung­kluwung itu. Wah, kau pintar melu­kiskannya. Perbedaan kepentingan antara dua kubu ini termanifestasikan melalui ca­ra mereka mencapai tujuan yang juga tam­pak sungsang. Penduduk asli Tan­jungkluwung cenderung pasif sedangkan para investor cenderung aktif, bahkan agresif. Masyarakat Tanjungkluwung yang bertahan dalam kereligiusannya yang po­los harus menghadapi cara-cara modern se­macam penyusupan. Akhirnya terjadilah pengeboman Tanjungkluwung. Pe­ngeboman ini bisa diartikan sebagai kiamat bagi penduduk Tanjungkluwung.

Dalam SS ini mungkin kau ingin me­ngatakan bahwa manusia modern dengan segala sumber daya yang dimilikinya se­akan sudah seperti Tuhan. Dengan materi yang dimilikinya, manusia modern berusaha melompati kesungsangan jarak antara manusia dan Tuhan. Hal ini jarang terjadi pada masyarakat tradisional yang religius dan miskin keinginan.

Novel SS ini kau bilang pernah terbit da­lam bentuk sejumlah cerita pendek yang dimuat di media massa. Agaknya no­vel­mu ini, yang terdiri dari empat belas bab atau fragmen, bisa diumpamakan se­ba­gai potongan puzzle. Tiap bab diberi ju­dul tersendiri. Komposisi novel Surga Sungsang ini seperti buku kumpulan cerpen, tetapi dengan cerita yang terkait an­ta­ra satu fragmen dengan fragmen yang lain.

Uniknya juga, ya novelmu, Tri. Bahkan saban bab dalam novelmu dapat berdiri sendiri dan dinikmati sebagai suatu cerita pendek. Sebelum diterbitkan sebagai bu­ku, memang fragmen-fragmen ini terlebih dahulu hadir kepada pembaca sebagai cerpen yang bertebaran di media massa.

Apakah ”pelemparan” fragmen-fragmen novel dalam bentuk cerpen ini untuk mengukur kekuatan dan keutuhan fragmen cerita itu sendiri? Apakah ia menjadi semacam tes pasar untuk mengetahui respon dan reaksi pembaca? Atau, hanya ingin memancing rasa ingin tahu pembaca? Bukankah pemuatan cerpen-cerpen de­­ngan tokoh yang sama di sejumlah media massa mau tidak mau akan membuat pembaca yang mengikuti cerpen-cerpenmu penasaran?

Tetapi, Tri, ternyata pada SS ada ke­sungsangan pada alur cerita, teks, dan in-terteks. Sebenarnya apakah maumu sih? Keinginan pembaca membeli buku novel ini semata agar puzzle cerita di kepalanya terangkai urut akan bermuara pada kekecewaan. Barangkali bagian-bagian puzzle itu lengkap, tetapi tetap harus diurutkan sendiri oleh pembaca. Fragmen-fragmen cerita dalam SS ternyata tetap tampil de­ngan alur yang acak (campuran).

Terus terang, aku terbawa melintasi ke­sungsangan masa. Era awal berdirinya Tanjungkluwung, era berdarah tahun 1960-an, era penembak misterius tahun 1980-an, dan era kekinian tampil saling ber-kelindan, menjadi kolase kejadian yang centang-perenang. Efek lain dari pe­nyusunan alur secara acak ini adalah timbulnya suasana chaos dan tidak beraturan pada diri pembaca.

Kesungsangan lain adalah tokoh Syekh Muso dan Syekh Bintoro, yang kemudian menurun pada tokoh Kiai Siti dan Panglima Langit Abu Jenar. Mereka adalah ujud dari kesungsangan dari segi penokohan. Sifat mereka berkebalikan antara satu dan yang lain.
Hal lain yang menjadi kesungsangan dalam cerita adalah cara mengalahkan musuh dengan mengenal sepuluh kebajikan musuh. Hal ini tentu merupakan sebuah kesungsangan atau anomali dalam taktik berperang. Hal yang biasa terjadi adalah mengenal kelemahan atau keburukan musuh untuk mengalahkannya.

Harus diakui, Tri, aku melihat ada ke­sungsangan dunia teks dan dunia penga­rang, duniamu. Kedua dunia itu seringkali bertolak belakang karena acuan dunia teks novel adalah fiksi, sedangkan dunia pengarang adalah realitas. Dunia teks dan dunia pengarang adalah sebuah dunia yang sungsang. Namun, pakem ini kau jungkir balikkan. Kau memasukkan duniamu ke dalam dunia teks novel. Pada bab terakhir novel yang berjudul Tentang Pe­ngarang yang Merasa Telah Membunuh Ro-land Barthes dan Beberapa Alasan Me-nga-pa Dia Menulis Novel Pendek, kau memberikan argumen, rekaman debatmu de­ngan editor buku, beserta referensi bu­ku yang kau baca ketika menggarap novel ini. Bab ini sekaligus menjadi pembelaan dan pembenaranmu atas teks yang kau tulis.

Padahal, dalam sebuah novel, biasanya seorang pengarang akan memberikan kata pengantar sebagai semacam penunjuk jalan atau kata penutup sebagai pertanggungjawaban kecil atas cerita yang ditulisnya kepada pembaca. Kata pengantar dan kata penutup itu jelas bukan bagian dari cerita.

Triyanto yang baik.
Novelmu jelas bercerita tentang ke­hi­dupan penduduk Tanjungkluwung yang se­perti neraka. Tetapi, setelah daerah itu ‘dikiamatkan’ bisa jadi neraka itu akan sungsang dan berubah menjadi surga. Harapan ini tampak pada kemungkinan penitisan jiwa Kufah dan Kiai Siti ke dalam raga sepasang laba-laba.

Harus diakui, dari novelmu yang pe­nuh pola pikir oposisi biner ini kita dapat belajar tentang pentingnya opsi ketiga atau jalan tengah. Praktik oposisi biner yang ekstrem seperti adegan pengeboman Tan­jungkluwung demi tercapainya sebuah tujuan tentu tak diinginkan seorang pun untuk terjadi dalam realitas. SS menunjukkan pada kita tentang bahaya sikap oposisi biner yang menghasilkan manusia-manusia fasis dan picik. Bukankah seharusnya selalu ada jalan tengah bagi perbedaan-perbedaan yang bahkan sangat sungsang? Di akhir novelmu, kutemukan sepasang laba-laba, yang selalu ada harapan dalam situasi sesulit apa pun untuk membangun hidup dan melanjutkan kehidupan.

Oke, Tri. Sampai di sini suratku. Hari telah berangkat siang. Aku mulai lapar. Terima kasih dan salam sastra. ***

Penulis adalah penyair, tinggal di Semarang.

SUMNBER: suarakarya.id

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>