Film “Ampek Sen” Diangkat dari Cerpen Irzen Hawer

Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Budaya Padang (Wilayah Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Bengkulu), Drs. Nurmatias, M.Hum., secara resmi meluncurkan film pendek “Ampek Sen” karya sineas muda Mevi Rosdian, Sabtu (4/4) di SMA Negeri 1 Batipuh, Tanah Datar, Sumatera Barat.
Sebanyak 600-an siswa, guru dan masyarakat setempat menyaksikan film yang diadobsi dari cerita pendek karya Irzen Hawer, seorang novelis dan guru SMA Negeri 1 Batipuh. Sebelumnya, cerpen tersebut pernah memenangkan juara 3 Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia pada 2014.
Di film itu, hampir seluruh pemainnya melibatkan siswa dan guru SMA Negeri 1 Batipuh dan lokasi pengambilan gambar di sejumlah tempat di Batipuh.
Nama Batipuh tentu tidak asing di telinga masyarakat Indonesia, sebab populer lewat novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” karya sastrawan dan ulama Minangkabau, Buya Hamka, yang baru-baru ini juga dilayarlebarkan dengan jutaan penonton.
“Sumatera Barat memang tidak pernah kering dari karya-karya kreatif sastrawan dan senimannya,” kata Nurmatias dalam sambutan memberi apresiasi atas film itu.
Kepala SMA Negeri 1 Batipuh, Drs. Elfan, M.Pd., menyampaikan rasa bangganya atas diluncurkan film “Ampek Sen” karya seorang guru di sekolahnya. Ia berharap film tersebut dapat ikut meramaikan festival-festival film tanah air maupun mancanegara.
“SMA Negeri 1 Batipuh ingin menjadikan seni dan budaya sebagai salah satu kompetensi unggulan,” kata Elfan.
Pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, Muhammad Subhan, yang juga hadir di acara peluncuran itu menyampaikan apresiasi atas lahirnya karya seni berupa film dari SMA Negeri 1 Batipuh. “Ini karya yang patut diapresiasi, dan semoga di masa depan SMA Negeri 1 Batipuh banyak melahirkan seniman dan aktor-aktor papan atas,” ujarnya.
“Ampek Sen” merupakan istilah di Minangkabau untuk sebutan seseorang yang dianggap kurang waras. Di film itu, perilaku “Ampek Sen” diperankan seorang pemuda bernama Syawal. Ia mencintai Bunga, kembang desa di kampungnya, namun cinta itu tidak pernah berani diungkap Syawal kepada Bunga.
Siang malam Syawal memimpikan kehadiran Bunga dalam hidupnya. Bahkan Syawal menyimpan foto Bunga di lemari kain di bilik tidur. Di saat Bunga berjalan seorang diri di kampungnya, dari jauh Syawal hanya melihat Bunga tanpa pernah berani menyapa.
Syawal dibakar api cemburu ketika pemuda-pemuda kampung menggoda Bunga bahkan ada yang berjalan berdua dengan bunga. Syawal merencanakan hendak duel dengan pemuda-pemuda kampung, dan sebatang kayu selalu ia bawa untuk melancarkan aksinya itu. Tapi, setiap berjumpa dengan pemuda-pemuda itu, Syawal hanya diam dan memperlihatkan wajah kurang suka. Pemuda kampung yang paham kondisi Syawal yang kurang waras, sering memberinya rokok dan uang.
Bunga yang telah beranjak dewasa suatu hari memutuskan berangkat ke luar negeri menjadi TKI. Pemuda-pemuda di kampung Bunga merasa kehilangan sosok gadis cantik itu. Setahun lamanya Bunga tak ada kabar. Setahun pula Syawal makan hati berulam jantung, menawan rindu tak berkesudahan.
Hingga sampailah kabar kepulangan Bunga. Tapi kepulangan gadis itu membuat gempar kampungnya yang beradat. Bunga pulang tidak seorang diri, tapi telah berbadan dua. Pemuda-pemuda kampung kecewa. Tapi tidak bagi Syawal, pemuda “ampek sen” itu gembira, sebab gadis pujaannya telah kembali ke kampungnya.
Bunga menanggung aib. Berharap hujan emas di negeri orang, tapi dirinya menjadi korban pemerkosaan majikan. Koran-koran memberitakan nasib sial Bunga. Tapi, walau begitu, Syawal mau menikahi Bunga. Dia tidak peduli Bunga tidak gadis lagi. Baginya, Bunga tetaplah kembang desa yang dicintainya. (rel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *