Catatan di Atas Catatan Damai Zubaidah Djohar

Oleh: WIRATMADINATA, penyair dan pegiat HAM. | @wiratmadinata

Catatan ini disampaikan pada sebuah diskusi dan peluncuran buku “DEMI DAMAI: Menelusuri Jejak Ingatan Puisi Pulang Melawan Lupa Karya Zubaidah Djohar”, pada tanggal 7 September 2015 bertepatan dengan Hari Pembela HAM. Munir. Acara yang diselenggarakan di Auditorium FKIP Unsyiah ini ditujukan pula dalam rangka memperingati 10 tahun Perdamaian Aceh sekaligus menyambut Hari Perdamaian Internasional. Diluncurkan oleh Rektor UnSyiah, Profesor Dr. Ir. Samsul Rizal dengan menghadirkan pembicara lainnya, Teuku Kemal Fasya, Lies Marcoes dan Profesor Yusni Sabi.

Perempuan Dari Singkil; Rahim Yang Menghidupi Kematian

Saya ingin berbagi cerita tentang seorang perempuan dari Singkil, sebuah kota kecil diujung paling Selatan Aceh, ditepi Samudera Hindia. Ia adalah seorang perempuan setengah baya, pemilik sebuah kedai kopi kecil yang sangat sederhana di tengah Kota Singkil. Saya katakan sangat sederhana, karena sebenarnya itu bukanlah sebuah kedai yang didesain khusus untuk sebuah warung kopi, melainkan sebuah rumah yang bagian depannya dibuka dan ditambahi beberapa bangku serta meja dan sebuah buffet untuk tempat kue dan penganan. Jadilah ia sebuah kedai kopi. Saya bertemu dan secara alamiah berbicara begitu saja sebagai seorang pengunjung kedai itu. Kopinya enak, saya duga bubuknya berasal dari Sidikalang, daerah produsen kopi yang lokasinya tidak jauh dari Singkil.

Tiba-tiba saja topik pembicaraan kami begitu saja masuk pada hal-hal yang terkait dengan konflik dan perdamaian Aceh; karena di depan kedai itu, ada sebuah gedung pertemuan dengan sebuah spanduk yang menuliskan tema sebuah Kegiatan Seminar yang tekait dengan isu perdamaian. Dia tahu, bahwa saya adalah orang asing yang datang ke Kota Singkil terkait kegiatan itu, walau dia tidak tahu –dan saya tidak menjelaskan — bahwa saya adalah salah seorang yang akan berbicara dalam pertemuan di gedung yang letaknya hanya berjarak 30 meter saja dari kedai tersebut.

Ia mulai bercerita; Dia adalah seorang janda. Tapi saat menyebut hal itu, tak ada ekspresi khusus dari wajahnya. Bahkan dari wajahnya yang tenang selalu saya temukan senyuman. Sekitar 15 tahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 2000 ia tinggal di Trumon, sebuah kota yang lebih kecil dari Singkil tetapi memiliki banyak sejarah. Jaraknya sekitar tiga jam dari Singkil. Ia mengikuti suaminya seorang petugas paramedik di lingkungan Dinas Kesehatan Aceh Selatan. Tahun-tahun itu adalah masa dimana Aceh sedang berada dalam gulita dan ketidakpastian keamanan. Konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Aparatur Keamanan Pemerintah RI sedang berkecamuk. Semua mencatat, itu adalah masa dimana Aceh dalam situasi Perang dan siapa saja bisa menjadi korban, walau tak mengerti apa-apa tentang perang itu sendiri.

Suatu ketika dalam perjalanan dari Trumon menuju Tapaktuan, ibukota Aceh Selatan, sang suami terbunuh dan kendaraannya ikut hilang. Tak perlu dijelaskan seperti apa; Sang suami telah menjadi korban perang. Seorang warga sipil biasa yang sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang PNS. Segera saja, perempuan itu menjadi seorang janda dengan 6 anak yang masih kecil-kecil. Setelah suaminya tiada, Ibu itu dalam keadaan gamang secara sosial dan ekonomi segera kembali ke kampung halamannya di Singkil. Tempat dimana kemudian ia membuka warung kopi yang saya kunjungi siang itu. Kini ia menyadari situasi sudah berubah, maka untuk mengurus keenam anak dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari ia terpaksa mengubah rumahnya itu menjadi sebuah warung kecil sangat sederhana itu. Dia mulai membuka warung kopi, kue-kue, dan makanan untuk sarapan pagi. Selain itu, terkadang ia juga melayani pesanan makanan jika ada yang membutuhkan untuk keperluan catering dalam jumlah agak besar. Selama 15 tahun iatempuh hidup yang keras itu sendirian. Tapi ia berhasil mengalahkan tantangan. Dengan kondisi seperti itu, ia berhasil menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Dari keenam anaknya, lima sudah jadi sarjana dan satu masih kuliah.

Kalau melihat apa yang dia kerjakan, mengamati penampilan warung kopi kecil yang jauh dari gambaran mewah itu, kita tak percaya bahwa sendirian perempuan ini berhasil membina keluarga yang sukses tanpa suami. Keenam anaknya dengan pasti melangkah menuju tangga sarjana. Bahkan ia mengaku tidak mendapat bantuan apapun dari negara. Tidak ada bantuan dari lembaga-lembaga perdamaian; seperti BRA, Dinsos, atau bantuan apapun lainnya. Bukannya ia tidak mengeluh, tapi ia tidak tahu mengalamatkan keluhannya. Yang dia tahu, ada enam anak yang harus hidup dan sekolah, termasuk kebutuhan pribadinya sendiri. Bahkan ia mengaku, kepada para saudaranya pun ia tidak meminta bantuan apapun. Kini, dua anaknya telah diangkat sebagai PNS, tiga berstatus PNS-pegawai kontrak, dan satu orang masih kuliah. Singkat kata, semua anaknya berhasil mendapatkan pendidikan tinggi, hingga sukses bekerja, hanya ditopang oleh penghasilan sebuah kedai kopi kecil yang sangat sederhana ditengah kota kecil yang sunyi itu. Perempuan ini memiliki kasih yang luar biasa. Dia seperti “Rahim Yang Menghidupi Kematian”. Bagi saya, ini adalah potret nyata kekuatan seorang perempuan yang sering tak pernah dibayangkan orang. Yang tak bisa dikalahkan.

Dalam pengalaman hidup saya, sebenarnya saya tidak terlalu terkejut menyaksikan kenyataan ini, karena jika kita mau mengamati, banyak sekali perempuan-perempuan perkasa yang mampu bertahan dengan daya tahan yang luar biasa, saat berada dibawah tekanan kehidupan. Saya sering bertemu dengan wanita seperti ini, meskipun tak sedikit yang terhempas habis dan tak bangkit lagi dalam deraan sistim yang mengalahkannya. Dan bagi saya seperkasa apapun mereka adalah korban. Dan sebagai korban mereka menerima ketidakadilan sistemik dari suatu kultur patriarkis yang semakin memperberat penderitaannya. Perang atau konflik selalu memojokkan kaum perempuan pada posisi yang tidak menguntungkan. Bahkan setelah damai pun, seringkali mereka seperti tidak mendapat tempat.

Saya mencatat; Perempuan-perempuan seperti “Perempuan Dari Singkil” inilah yang mengisi kata-kata, baris demi baris, bait demi bait, dan praktis hampir semua puisi dari sekumpulan puisi yang ditulis Zubaidah Djohar (Ibed) dalam hampir seluruh karyanya, yang dirangkum dalam kumpulan: “PULANG, MELAWAN LUPA” dan kemudian pada hari ini, peluncuran buku “DEMI DAMAI: Menelusuri Jejak Ingatan Puisi Pulang, Melawan Lupa”. Ibed, telah membantu kita semakin memahami bagaimanakah bentuk dan rupa derita para perempuan yang di dalam konflik menjadi korban dan di dalam damaipun mereka dikorbankan.

Mari kita lihat puisi ini:

UNTUK LELAKIMU YANG TAK KEMBALI

Mereka menghampiriku
Dan berkata:
ini ganti rugi sakitmu
untuk anakmu yang hilang
untuk suamimu yang tak kembali.

Tiga juta
Menghapus luka

Dan untuk rahimmu yang diperkosa
simpan dan suarakan di bilik mati
karena ini aib negeri
pandailah menjaga diri, kata mereka
yang tak lagi kulihat
seperti manusia

2009.

Zubaidah Djohar telah dengan susah payah merekam, mencatat, menukilkan, kisah-kisah tentang para perempuan yang dikondisikan oleh sebuah kultur yang tidak berpihak kepada perempuan korban konflik, anak-anak yatim yang tidak berdaya, dan tidak memiliki akses terhadap bantuan korban konflik. Saya mengatakan hak-hak perempuan dan anak- anaknya dirampok oleh para penjahat bantuan korban konflik. Inilah; Kontribusi Pertama buku ini kepada kita.

Aktualisasi Perdebatan Sastra Kontekstual

Karya-karya Zubaidah Djohar dalam kumpulan yang diluncurkan dan kita diskusikan pada hari ini, mengingatkan saya perdebatan sastra kontekstual yang gegap gempita pada awal tahun 90-an. Tokoh-tokohnya diantaranya Ariel Heryanto, Arief Budiman, dan kebanyakan sastrawan yang dekat dengan dunia aktivisme. Perdebatan Sastra Kontekstual pada awal 90-an itu, juga sebenarnya bukan hal baru, hanya versi lain dari perdebatan antara seniman-seniman yang tergabung dalam LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang pro gerakan politik sosialis dan komunisme pada tahun 60-an, dengan seniman-seniman MANIKEBU (Manifes Kebudayaan). Sastrawan LEKRA (Asahan Alham, Pramoedya Ananta Toer, dll) berpendapat bahwa kesenian seharusnya berpihak pada kenyataan, hakikat sastra adalah pengabdian kepada orang tertindas dan persoalan kehidupan sehari-hari, serta pembelaan nasib rakyat tertindas. Sastrawan Manikebu berpendapat bahwa sastra itu haruslah bersifat universal, hakikat sastra adalah keindahan dan tidak boleh diperbudak oleh kepentingan politik. Sejarah tentang ini bisa dibaca salahsatunya dala buku Prahara Budaya yang ditulis Taufik Ismail.

Saya menemukan sajak-sajak Ibed adalah aktualisasi sastra kontekstual yang langsung menukik pada masalah pokok dan tidak ragu menyatakan pilihan ideologis gagasan dan bentuk ungkap karya yang berpihak pada suatu keadaan yang diprihatinkannya. Saya tidak tahu, apakah dalam kesadaran Ibed muncul referensi perdebatan sastra yang saya kemukakan di atas, tapi bagi saya itu juga tidak penting, yang penting adalah bahwa ia telah berhasil mengkontekstualisasikan karyanya pada keberpihakannya untuk kaum perempuan yang tertindas oleh suatu sistim yang tidak adil. Jadi sudah jelas, bahwa karya-karya dalam buku ini adalah karya kontekstual.

Secara artistik problematika dalam karya-karya kontekstual adalah tidak banyak orang yang berhasil menulis karya kontekstual tanpa terjebak pada pendangkalan nilai artistik kesastraan. Jika tidak memiliki basis kekuatan penguasaan artistik bahasa, maka sajak-sajak kontekstual tak ubahnya dengan sekumpukan kalimat caci-maki dan berubah menjadi celoteh orang frustasi dan akhirnya berubah menjadi slogan-slogan dangkal sampai akhirnya menjelma menjadi sampah kesusasteraan.

Dua nama besar dalam kesusasteraan Indonesia yang dapat dikatakan sukses membuat karya-karya kontekstual tanpa kehilangan sentuhan kedalaman arstistik adalah WS RENDRA dan WIJI THUKUL. Ada juga nama- nama besar lain seperti FX Rahardi “catatan harian seorang koruptor”, dan Japi Tambayong ” Sajak-sajak Mbeling” yang banyak mengkritisi persoalan sosial politik serta menciptakan karya kontekstual pada zamannya. Saya akan menyajikan dua contoh puisi dari kedua orang ini;

W.S. RENDRA

“SAJAK ORANG LAPAR”.

Kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam

O, Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin

Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan

Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

O, Allah !
kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin

O, Allah !
kami berlutut
mata kami adalah mata Mu
ini juga mulut Mu
ini juga hati Mu
dan ini juga perut Mu
perut Mu lapar, ya Allah
perut Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca

O, Allah !
betapa indahnya sepiring nasi panas
semangkuk sop dan segelas kopi hitam

O, Allah !
kelaparan adalah burung gagak
jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorgamu.

W.S. Rendra menyebut puisi-puisinya yang bernada protes dan perlawanan dengan sebagai “Sajak Pamflet”. Pamflet lazimnya adalah tulisan-tulisan yang isinya berupa seruan, pengumuman dan protes yang ditempelkan di dinding-dinding kota. Maka sebenarnya sajak-sajak Zubaidah Djohar juga tidak salah bila disebut sebagai “Sajak Pamflet”. Tapi yang penting disini bukanlah soal pamflet itu, melainkan apakah sebuah sajak masih bisa dikatakan sajak, jika isinya yang bernada protes kehilangan keindahan sastrawinya, atau tak ubahnya sebagai umpatan dan makian, serta pernyataan kemarahan tanpa keindahan sastra yang dapat menyentuh kedalaman. Saya senang menemukan dalam beberapa sajak Zubaidah Djohar kualitas sastra dalam “pamfletnya” masih bisa ditemukan. Kita lihat sajak berikut:

Bandingkan dengan Puisis Zubaidah Djohar berikut ini:

CEROBONG YANG BERKABAR

Entah cerobong mana
Yang mengabarkan
Periukku mengenyangkan
Kaum pemberontak
Cawanku menghilangkan
Dahaga yang sesak.

Aku diambil paksa
Dibawa ke Meunasah
Dibawa ke Kompi.

Dua hari dua malam
Ragaku perih
Perih dalam lumpur luka
Yang bercuka

Tak puas dengan jawabku
Kodim pun menunggu nyata

Tiga belas hari lamanya, tubuhku
Lebur dalam sejarah
Hitam pekat!

(2008)

Bandingkan pula dengan sajak ini;

WIJI TUHUKUL

PERINGATAN

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!.

(Wiji Thukul, 1986)

Melihat sikap berpuisi dari Ibed secara umum saya ingin memberikan catatan; bahwa segeram apapun dan semarah apapun melihat kenyataan sosial yang ada, maka aspek artistik harus tetap dijaga. Karena ketajaman tema ibarat sebuah pisau bermata satu, ketika ia ditambahi ketajaman artistik. Ia akan menjadi pisau bermata dua. Yang akan dengan tajam menusuk ke dalam jantung hati publik penikmat karyanya. Saya ingin katakan, Ibed telah membuka jalan ke arah sana. Dari aspek pemilihan topik; tak perlu menjadi juru kabar yang menceritakan ulang bagaimana sebuah peristiwa terjadi, tetapi menyajikan dampak dan impikasi dari sebuah cerita terhadap persoalan nilai dan kemanusiaan yang ada dibaliknya. Dari aspek bentuk dan kebahasaan, tentu saja ia harus bergelut dengan rahasia-rahasia kekuatan kata yang akan diperoleh dari proses lebih lanjut dalam berkarya. Artinya, itu adalah soal waktu dan intensitas pergulatan kebahasaan.

Bentuk Ungkap Aksen Melayu-Minang-Aceh

Subjektifitas karya sastra selalu menjadi sisi menarik dari kajian sastra, berbeda dengan ilmu eksakta yang tidak memberi ruang bagi subjektifitas seperti itu. Ibed adalah seorang minang, bahasa ibunya minang, dan meskipun secara kultural dan sosial ia telah menjadi Aceh dilihat dari berbagai sisi, dalam berkarya ia tetap memiliki aksenstuasi khas orang minang yang senang memainkan diksi dan bunyi dalam kata. Aksentuasi warna bahasa ungkap dalam karya-karyanya memiliki genealogis minang yang kuat dan saya kira agak unik karena ada semangat ke-Acehan di sana. Ciri Minang ada pada permainan kata, semangat ke-Acehan ada pada spirit bahasa yang disajikan lewat pemilihan kata yang lugas. Saya banyak mengamati karya-karya sastra Indonesia yang memiliki genealogis sastra dari ranah Minang, ada ciri khas yang otentik; yaitu Permainan Kata yang berbasis pantun atau gurindam. Warna ini sah dan absah sebagai salahsatu gaya bahasa sastra yang hidup di Indonesia. Tapi saya tetap ingin agar Ibed bisa mengeksplorasi lebih jauh gaya Zubaidah Djohar sendiri. Sebagai karakter kepenyairannya di masa datang.

Untuk melihat jejak bahasa Ibu dalam gaya pengucapan sajak-sajak Zubaidah Djohar dapat kita lihat setelah membandingkannya dnegan sajak karya Hammid Jabbar, berikut ini;

LAGU SEBUAH

dari mana hendak ke mana
dari entah ke entahlah

lagu nenek moyang lagu nan panjang menggelombang
lagu raungan memedih terbang dari kerak ngarai

dari mana hendak ke mana
dari entah ke entahlah

sebuah batang padi dan lilitan pelepah kelapa
sebuah napas panjang dan lambaian telapak tangan
sebuah bentangan nada dan gesekan nada bentangan
sebuah katupan mata dan gelombang gemulai kepala
sebuah ranting bambu dan jemari tari-menari mesra
sebuah hari sebuah jalan sebuah lagu sebuah ratapan

dari mana hendak ke mana
dari entah ke entahlah

lagu nenek moyang lagu nan panjang menggelombang
lagu rantauan mulia nan celaka melagu sangsai

dari mana hendak ke mana
dari entah ke entahlah

Zubaidah Djohar:

DINDING SUNYI

Pikiranku
Membatu tanpa pekatmu
Hatiku
Gelap tanpa hitammu
Ragaku
Kaku tanpa sepimu.

Ditebal jarak
Dinding sunyi
Cahayaku hilang
Penaku tumpul
Lidahku kelu.

Aku tak lelah
Menemu.

(2011).

Akhir kata, catatan saya ini bukanlah sebuah kritik sastra dalam arti mengupas aspek-aspek estetika karya, meskipun terkadang tak terhindari menyentuh hal tersebut. Tapi itu bukan tujuannya. Catatan ini adalah sebuah memo, untuk mengantarkan Zubaidah Djohar ke hadapan kita semua yang sedang ingin mendiskusikan Puisinya dan Rumpun Kajian terkait puisi tersebut yang ditulis oleh 28 para penulis dari pelbagai ranah (sastrawan, budayawan, antropolog, sosiolog, agamawan, filsuf, feminis, aktivis) dengan editor Andy Yentriyani yang diluncurkan pada hari ini. Ibarat sebuah percakapan di warung kopi, saya mulai menawarkan sudut pandang. Karena selanjutnya Anda bisa membuat sudut pandang yang lain. Demikian. Wassalam.

Bayu, 6 September 2015

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>