Kekasihku Kerbau

AKU menyukai binatang. Terutama yang berkaki empat. Binatang yang berkaki empat itu lebih mengerucut lagi pada binatang berbadan besar, berwarna legam, dengan lengkung tanduk di kepalanya. Binatang itu tak lain adalah kerbau.

Menurutku kerbau sungguh binatang yang sangat estetis. Kulitnya selalu berbalur lumpur. Ditambah lagi ada pendar matahari di sana. Objek indah ini tentu saja membuat pandangku tak berkedip.

Kulit nan eksotis menurutku. Ekornya sungguh aduhai. Ekor itu aku bayangkan bak penari zapin yang sering diadakan sekolahku, atau kantor balai desa di kampungku. Ekor yang meliuk indah ke bawah dan ke atas karena gigitan paikat, sejenis lalat besar yang sakit gigitannya. Ditambah lagi burung bangau yang setia di punggungnya, semakin membuat aku terkagum nian pada kerbau. Badannya yang besar aku bayangkan sang kekasih. Pujaan hatiku yang menjadi pelindungku. Nanti akan kuceritakan tentang hal ini.

Dulu sekira aku kelas tiga SD, aku pernah mendebat guruku gara-gara kerbau.

“Bulan, coba kamu gambar kerbau di papan tulis!” Guruku yang bernama Zakaria itu memerintah dengan suara keras.

“Tapi, Pak, aku belum pernah melihatnya,” kataku polos.

“Kamu kan sudah pernah melihatnya di TV,” lagi-lagi Pak Zakaria dengan suara keras tanpa ekspresi.

“Aku tidak punya TV,” kataku sambil menatap wajah guruku.

Kata guru-guruku aku adalah murid paling aneh di sekolah. Aku sama sekali tidak takut dengan guru yang galak di saat anak lain takutnya setengah mati. Teman-temanku banyak yang menangis karena bentakan Pak Zakaria.

“Kamu melawanku ya!” Pak Zakaria memukul meja dengan penggaris tripleks berwarna kuning. Suara tripleks beradu dengan permukaan meja yang juga terbuat dari tripleks itu sungguh keras. Teman-teman sekelasku kaget. Ada yang terloncat. Ada yang menangis. Ada juga yang menundukkan kepala ke meja, enggan menatap wajah Pak Zakaria yang merah. Sementara aku biasa saja, malah menatap wajah guruku itu tak berkedip.

“Kalau kamu tidak mau mengikuti perintahku, silakan berdiri di depan kelas dengan menggunakan satu kaki, hingga kita pulang nanti,” perintahnya.

Dengan sangat terpaksa aku menjalani hukuman itu hingga dentang lonceng pertanda pulang dibunyikan.

Dalam imajinasi polosku pada saat itu, menurutku sungguh tidak ada gunanya menggambar binatang yang bernama kerbau tanpa melihatnya langsung terlebih dahulu. Aku tidak pernah melihat kerbau sebelumnya. Padahal aku mau melihatnya bahkan menungganginya seperti anak gembala di buku yang pernah kubaca. Ini terjadi karena kampungku yang bernama Tanah Napuh mengharamkan tanahnya untuk diinjak binatang yang identik dengan sawah dan bajak itu.

Ya, kampungku tidak boleh ditempuh kerbau. Hampir bisa dipastikan setiap pesta perkawinan di kampungku tidak akan ditemukan daging kerbau. Masyarakat kampungku biasanya hanya menyembelih sapi, kambing, ayam atau itik saja ketika menghelat pesta.

Masyarakat kampungku tidak mau melanggar sumpah. Tidak ada satu pun yang berani membawa kerbau ke kampung ini. Hal ini adalah akibat dari sumpah yang dilakukan nenek moyang kami di masa lalu. Ia bersumpah dilarang kerbau menginjakkan kaki di kampungku, Tanah Napuh.

“Nek, kenapa kerbau tidak boleh ada di kampung kita?” aku bertanya pada nenek saat aku sudah kelas satu SMP menjelang tidur di malam hari.

Nenekku yang tukang dongeng itu pun bercerita, “Dulu ada datuk yang bernama Paminggih. Datuk Paminggih ini sedang mengadakan pesta perkawinan anaknya. Saat itu ia menyembelih empat ekor kerbau.”

“Banyak sekali, Nek,” kataku meningkah.

“Iya, Bulan, karena Datuk Paminggih ini adalah orang berpunya. Beda dengan masyarakat kampung kita saat ini. Menyembelih sapi seekor pun tidak sanggup. Makanya sekolah tinggi-tinggi biar kamu bisa mengusir derita di kampung ini menjadi berkah bagi semua. Tidak ada lagi yang mati kelaparan!” Nenek menceramahiku.

“Pasti itu, Nek!” tukasku sambil mendekati nenekku, kemudian meneruskan, “lanjutkan dongengnya, Nek!” kataku manja.

“Iya, dengarkan baik-baik! Ternyata Datuk Paminggih ini menyimpan pusaka berupa pedang bergagang emas milik istana. Saat itu pihak kerajaan melarang penduduk menyimpan senjata yang menjadi koleksi istana. Padahal pedang itu ditemukan Datuk Paminggih di sebuah gua di pinggiran kampung. Mungkin ada yang menyurinya dari Istana,” nenekku jeda sebentar.

“Cepat, Nek, selesaikan ceritanya! Aku udah ngantuk nih,” aku mendesak nenek.

“Bulan! Bulan! Inilah tabiat anak zaman sekarang. Tidak mau bersusah payah, mau langsung mendapatkan hasil,” nenekku menggerutu.

“Ya, udah, maaf, Nek, lanjutkan!” Nenek memandang ke arahku lalu menjeling.

“Di saat pesta berlangsung, datanglah utusan Istana untuk mengambil pedang yang disimpan Datuk Paminggih. Tetapi Datuk Paminggih bersikeras tidak mau memberikan, ia beralasan pedang itu ditemukannya di dalam gua dekat kampung. Akibatnya para utusan istana yang bersenjata lengkap itu menebas leher setiap orang yang ada di pesta. Kuah gulai kerbau yang terhidang berubah menjadi merah darah. Hanya sedikit yang selamat. Satu dari yang sedikit itu adalah Datuk Paminggih sendiri, karena ia berhasil melarikan diri lewat sungai. Sambil berlari itulah ia bersumpah, “Mulai saat ini buat anak cucuku di Tanah Napuh dilarang menyembelih kerbau. Kalau pantangan ini dilanggar akan terjadi pertumparan darah.”

Setelah itu aku tidak tahu lagi cerita nenek, karena aku sudah lelap bersandar pada bahunya.

***

Tentang kekasihku. Ya, aku mencintai kekasihku karena tenaganya yang besar bak kerbau. Kebetulan juga, namanaya adalah Bujang Kerbau. Wajahnya memang tidak terlalu rupawan. Tetapi ia memikatku karena tenaganya. Makanya aku sering memanggilnya dengan ‘kerbauku’, bukan ‘sayangku’. Kata kekasihku, itu sudah romantis.

Kejadiannya tiga tahun yang lalu saat aku baru saja duduk di kelas tiga SMP. Saat itu aku sendirian pergi ke ladang mencari terung asam untuk pelengkap gulai. Jalan dari rumahku menuju ladang hanya jalan setapak. Di kiri kanannya masih terdapat hutan yang masih cukup lebat. Di jalan itulah aku dicegat oleh anak-anak kampung sebelah. Jumlah mereka sekitar lima orang.

Langsung saja mereka menangkapku beramai-ramai. Mereka melucuti pakaianku satu per satu. Ketika mereka hendak melucuti pakaian terakhirku, saat itulah Si Kerbau datang. Ia kemudian mengangkat anak-anak nakal itu dengan tangannya tinggi-tinggi. Mirip permainan Smack Down yang ada di TV. Dua orang sekali angkat, lalu ia melecutkannya ke tebing jalan. Satu per satu anak itu dihempaskannya. Mereka meringis kesakitan. Bahkan kulihat ada yang tidak bergerak lagi.

Itulah yang membuat aku jatuh cinta pada Si Kerbau. Ia adalah pelindung nomor satuku. Gara-gara dia aku masih perawan.

Kami akhirnya merangkai kasih. Ia terkadang menemaniku ke ladang memetik buah terung asam. Atau sekali-sekali kami berdua mendayung sampan di sungai yang membelah kampungku. Sambil berdayung sampan menikmati mentari terbenam sore hari itu, kekasihku selalu menceritakan hal-hal berat. Sungguh, kekasihku ini jauh dari kata romantis!

“Putri Lindung Bulan, kamu ingin diceritakan sesuatu ndak?” tanya kekasihku sambil mendayung sampan. Hmm, kekasihku menyebut nama panjangku, kenapa dia tidak memanggilku dengan ‘sayang’, ‘cantik’, atau panggilan mesra lainnya? Sunguh manusia tidak romantis!

“Ya, Kerbauku,” jawabku sekenanya sambil menatap wajahnya. Aku sengaja menghadap ke arahnya, agar aku leluasa memerhatikan matanya yang indah. Juga kulitnya yang hitam. Bagiku sungguh eksotis kulit kekasihku ini.

“Ada partai lambangnya kerbau. Namanya Partai Demokrasi Nusantara,” kekasihku mulai bercerita.

“Kamu tahu ndak pimpinannya siapa?” tanya Si Kerbau lagi.

“Aku ndak tahu,” kataku cuek. Aku sama sekali tidak menyukai yang namanya politik.

Politik menurutku hanya membikin masalah masyarakat bertambah banyak. Contohnya di kampngku, dulu kepala desaku yang selalu membela masyarakat kampungku malah dibunuh. Katanya oleh tentara suruhan calon kepala desa yang kalah. Ada lagi masyarakat kampung sebelah yang tidak mau mencoblos partai berlambang akar beringin. Satu per satu penduduk desa hilang. Desas-desusnya mereka diculik tentara.

“Woy, Bulan! Jangan melamun!” tegur kekasihku sambil memukulkan dayung ke dinding sampan.

“I-iya,” aku tergeragap.

“Pucuk pimpinan Partai Demokrasi Nusantara, namanya Vega. Ia adalah anak proklamator kita, idolaku, Sukarno,” jelasnya.

Begitulah kekasihku selalu bercerita tentang politik. Di mana pun, dan kapan pun. Bahkan sesaat ia akan mengecupku.

“Bulan, kamu tahu ndak, Si Vega itu katanya setiap akan memulai orasi saat kampanye selalu dikecup terlebih dahulu oleh suaminya?”

“Kamu basa-basinya tidak menarik,” aku ketus.

“Maaf, Bulan!” ucapnya dan langsung melumat bibirku, dan meneruskan, “kamu cantik, bibirmu sungguh indah seperti seulas jeruk, wajahmu adalah purnama.” Baru kali ini aku merasakan kemesraan dari kata-katanya. Aku pun tersenyum, dengan hati berbunga.
Kami pun semakin mesra. Sering pergi bersama. Ke sekolah, ke ladang, atau bersampan menikmati matahari tenggelam.

***

Aku tidak peduli dengan istilah keperawanan. Namun, aku dulu bersyukur Si Bujang Kerbaulah yang menyelamatkan keperawananku. Tetapi dia pula yang membuat aku tidak perawan lagi saat ini. Suatu ketika kami bergelut di dalam sampan saat matahari tenggelam. Sungai yang temaram membuat kami leluasa. Ditambah lagi orang-orang sudah kembali ke rumah.

Kini aku sudah kelas tiga SMA. Tetapi aku sungguh merana ditinggal Bujang Kerbau, kekasihku itu. Bukan karena ia tidak bertanggung jawab terhadap perlakuannya atas tubuhku. Namun aku sedih karena ia meninggal dengan luka tusukan di dada. Tidak diketahui siapa yang melakukan perbuatan bejat itu. Tapi aku menduga ia dibunuh karena kekasihku itu sering mengajak warga mencoblos partai berlambang kerbau. Sudah pasti para pendukung Partai Akar Beringin tidak menyukainya.***

Kamar kos, 2014

– Zapin adalah nama musik dan tarian dari Riau
– Terung asam, sejenis terung untuk asam atau sambal di Sumatera

Darwin, penulis cerpen asal Pelalawan, Riau, ini sehari-hari adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Karyanya antara lain bisa ditermukan dalam antologi cerpen “Pesan Mama tentang Kematian yang Indah” (The Phinisi Press/Yogyakarta/2012). Cerpen Kekasih Kerbau ini dikutip dari Riau Pos 13 April 2014.

===

http://www.riaupos.co/1920-spesial-kekasihku-kerbau.html#.Vj_4LLcrLIU

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>