Ngobrol Kreatif Melawan Hegemoni Tentang Ruang

Sejumlah pegiat sastra di Jakarta mempunyai cara unik merespon Car Free Day Jakarta, Minggu, 8 November 2015. Mereka bukan jalan-jalan di arena itu, tapi berkumpul pada sebuah pojok jalan — tepatnya di trotoar di samping pos polisi — di Bunderan Hotel Indonesia atau akrab disebut Bunderan HI untuk berdikusi. Mereka menyebutnya sebagai #NgobrolProsesKreatif atau disingkat Ngobrol Kreatif. Acara ini diadakan oleh Teroka Indonesia, lembaga yang bergerak dalam bidang pengembangan kreativitas dan kebudayaan.
Bukan diskusi pepesan kosong atau ngalor-ngidul entah kemana, tapi sesuatu yang bernas dan berisi. Mereka menghadirkan narasumber seorang penulis cerita pendek dan novel, Ni Komang Ariani. Komang, begitu ia akrab disapa, menceritakan pengalaman dan proses kreatifnya dalam menulis. Ia dimoderatori oleh Mustafa Ismail, penyair, yang juga penggagas acara ini.
Ruang terbuka dipilih sebagai arena untuk mengisi baterai itu bukan tanpa alasan. “Kami ingin menunjukkan bahwa diskusi serius bisa dilakukan di mana saja,” tutur founder infosastra.com itu. Menurut dia, ruang kreatif tidak selalu harus di tempat khusus, dipagari tembok dan plafon, bahkan ber-AC, tapi bisa juga di ruang publik. “Ini semacam perlawanan terhadap hegemononi persepsi sebagian besar masyarakat tentang ruang,” ia menambahkan.
Selama ini, menurut dia, ruang kreatif dipersepsikan sebagai kotak berbentuk persegi yang dibatasi oleh dinding, bahkan atap. “Seolah-olah diskusi, workshop, baca puisi, pameran dan pertunjukan seni harus selalu berada di ruang semacam itu,” tutur penggagas #OutdoorWritingClass itu. “Padahal ruang kreatif itu sangat luas dan tak ada batasnya. Batasnya adalah langit. Jadi kegiatan kebudayaan bisa dilakukan di mana saja.”
Dalam kesempatan itu, para pegiat sastra muda juga mendapat banyak ilmu dari cerpenis dan novelis Ni Komang Ariani yang telah menulis sejumlah buku antara lain berjudul “Lidah”, “Senjakala” dan “Jas Putih” itu. “Alasan kuat saya menulis berawal dari kegelisahan melihat fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat,” kata penulis kelahiran Bali tahun 1978 itu.
Menurut dia, hampir semua karya-karyanya berawal dari sebuah kegelisahan yang terpendam. Dia merasakan itu sejak masih tinggal di Bali. Misalnya, dia melihat strata perempuan di dalam kehidupan bermasyarakat masih dipandang sebelah mata. Dia mencontohkan, banyak perempuan di Bali yang telah berpendidikan tapi tidak boleh bekerja, berkarya, dan justru cenderung harus mengalah dari suami. Padahal, menurut dia, strata perempuan sama dengan laki-laki dan berhak untuk mendapatkan hak yang sama di mata masyarakat sosial.
Ia juga menceritakan proses kreatifnya menulis cerpen tentang Lidah — yang kemudian menjadi salah satu judul bukunya. Lewat cerpen itu ia mengkritik anggapan masyarakat untuk menyeragamkan aksen atau logat seseorang. Seolah-olah orang yang berbicara dengan medok atau aksen daerah yang kuat itu “memalukan” bahkan bernasib buruk. “Tokoh dalam cerpen Lidah itu, Ketut Rapti, belajar sekuat tenaga menghilangkan tekanan T dalam wicaranya,” ujar Komang yang lanjutan cerpen Lidah — berjudul Lidah Ketut Rapti — dimuat di Kompas pada hari itu, Minggu, 8 November.
Dalam kesempatan itu, Ni Komang banyak membagi pengalaman bagaimana berproses sebagai seorang penulis, misalnya dalam mendobrak kemacetan dalam menuliskan sebuah cerita. Untuk soal ini, dia memiliki trik untuk mengakalinya. “Biarkan saja, kita nulis lain saja, nanti ide akan muncul lagi,” tutur dia. [AVIT HIDAYAT |R]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *