Saksi Bisu Pohon Ek

CERPEN: VIA ALVIONITA | @Via_MichikoChan |

SEJAK pagi awan mendung disertai gerimis memayungi Kota Sangatta. Nayla masih berada di dalam dekapan selimut tebal di kamarnya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Pikirannya melayang diterpa angin lembap pagi itu, terbang menelusuri bingkai kenangan yang masih menjadi misteri. Nayla tidak pernah ingat dengan masa kecilnya.

Pernah suatu ketika Nayla membersihkan gudang dan menemukan bingkai foto. Di dalam foto itu terlihat dua gadis berusia 5 tahun sedang tersenyum bahagia dengan latar belakang kandang orangutan. Kedua gadis itu terlihat sangat mirip dengan mengenakan dress putih serta rambut diikat dua. Gadis di sebelah kanan menggunakan pita warna pink, sedangkan yang di kiri menggunakan pita warna biru.

Nayla pernah bertanya kepada mamanya tentang gadis itu. Awalnya Mama Nayla berusaha menolak. Hingga pada akhirnya mamanya berkata bahwa gadis di dalam foto itu adalah Nayla dan kembarannya, Naya, yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu.

“Kenapa Mama baru kasih tahu Nayla?”

“Karena Mama enggak mau kamu sedih atau nanya banyak soal adik kamu.”

“Jadi, Naya meninggal karena apa, Ma?”

“Belum saatnya kamu tahu, Nak.”

Kata-kata itulah yang selalu terlontar dari mulut mamanya ketika Nayla berusaha mencari tahu.

Tiba-tiba Nayla tersentak dan langsung bangkit dari tempat tidurnya. Dia teringat kata-kata mamanya waktu itu. “Mama sering melihat Naya datang menemui Mama. Kadang dia datang ke kamar kamu waktu kamu tidur atau main di bawah pohon ek,” ujar Mama sambil tersenyum dengan mata menatap jauh ke depan.

“Mungkin itu perasaan Mama saja, karena terlalu kangen dengan Naya.”

Mamanya menggeleng dan melanjutkan perkataannya. “Dia sering datang di saat hujan turun rintik-rintik berdiri atau bermain di bawah pohon itu.” Mama menunjuk ke arah pohon ek besar yang tumbuh di pekarangan rumah.

Memang terasa aneh melihat ada pohon ek besar tumbuh di depan rumah bergaya gotik di ibu kota seperti ini. Ya, setidaknya jika pohon itu tumbuh di halaman belakang rumah terasa wajar. Beda halnya jika tumbuh di pinggir jalan di halaman depan rumah. Menurut ayahnya, rumah ini peninggalan seorang turis Inggris yang menetap di Indonesia. Setelah papa dan mamanya menikah, turis itu menjual rumah kepada ayah, yang merupakan salah satu teman akrab papa sang turis yang bernama Luke.

Sering kali papanya mengusulkan menebang pohon itu agar tidak mengganggu pengguna jalan atau kabel listrik yang melintasi dahan-dahannya. Tapi, mamanya bersikeras mempertahankan pohon itu.

***

Nayla berdiri di depan jendela kamarnya yang menghadap pohon ek besar itu. Apa sih yang bikin mama enggak mau kalau papa menebang pohon itu? Pohon itu menyebalkan, tumbuh seperti raksasa, yang kalau malam bikin bulu kuduk merinding, takut-takut ada sesuatu yang terbang dari pohon itu.

Tiba-tiba Nayla melihat seorang gadis kecil berlari ke arah pohon ek besar itu. Gadis itu mengenakan dress putih selutut yang terlihat kotor dan lusuh. Dia berlari memutari pohon besar itu. Senyum bahagia terlukis di wajahnya yang putih seperti kapas. Gadis itu berhenti dan berhadapan dengan Nayla yang masih berdiri dari balik jendelanya. Gadis itu tersenyum manis dan melambaikan tangannya.

Angin bertiup kencang. Beberapa ranting pohon ek yang besar jatuh ke bumi. Ranting itu hampir mengenai kepala gadis kecil yang masih tersenyum kepadanya. Nayla cepat-cepat mengambil payung dan handuk kering untuk gadis itu.

Nayla melihat dia sedang mengejar kupu-kupu cukup besar. Aneh juga, bila dipikir, ada kupu-kupu bisa terbang di saat gerimis seperti ini. Wajah bahagia terlihat jelas dari wajah gadis itu membuat Nayla lupa akan tujuannya menghampiri gadis itu.

Tiba-tiba angin kencang datang menggoyangkan seluruh dan ranting pohon raksasa. Sebuah ranting besar terjun ke arah gadis itu, dengan sekuat tenaga Nayla berlari menyelamatkan gadis itu. Nayla mendorong gadis itu kuat-kuat dan merasa sesuatu yang keras menimpa kepalanya.

***

Siang itu matahari bersinar cerah, seolah merestui segala aktivitas yang dilakukan para keluarga bahagia untuk menikmati hari libur mereka. Begitu juga Nayla dan Naya. Dua kembar identik itu asyik menggambar di sebuah buku gambar berwarna putih bersih.

Naya mulai membuat garis tipis, dilanjutkan garis tebal untuk mempertegas gambarnya itu. Setelah Naya menggambar, kini Nayla-lah yang mengambil alih untuk mewarnai hasil gambaran Naya.

“Kak, kupu-kupunya warna pink, dong!”

“Memangnya ada kupu-kupu warna pink? Yang aku tahu kupu-kupu itu warnanya hitam, kuning, putih, abu-abu. Kalau enggak, ya, biru tua. Mana ada yang warnanya pink?”

“Ada. Aku melihatnya di kebun binatang.” jawab Naya, membela.

“Tapi aku tidak pernah melihatnya.”

Tiba-tiba Naya merebut buku gambar beserta pensil dan pewarnanya. Dia mulai membuat garis halus, membentuk sebuah pola.

“Apa yang kamu lakukan?” Nayla kesal.

Naya tidak menggubris perkataan kakaknya. Dia tetap asyik dengan jarinya yang menari-nari di atas kertas.

Naya menyodorkan buku gambar itu kepada Nayla. “Ini lihat. Sekarang kamu sudah pernah melihat kupu-kupu warna pink ‘kan?” ujarnya, sambil tersenyum manis.

Nayla yang tadinya cuek dan membuang muka perlahan mengalihkan pandanganya pada buku gambar yang disodorkan Naya. Dia mengamati gambar itu kemudian tersenyum.

“Iya, aku melihatnya.”

“Hei, lihat!” Naya menunjuk kupu-kupu kecil yang baru melintas di depan wajah Naya. Naya berdiri dan mengejar kupu-kupu itu. Melihat keasyikan Naya mengejar kupu-kupu, akhirnya Nayla terpanggil melakukan hal sama. Dia meletakkan buku gambar itu tepat di bawah pohon ek tepat mereka biasa bermain.

“Hei, tunggu!” teriak Nayla.

Kupu-kupu kecil itu terbang tak tentu arah, mencoba melarikan diri dari tangan-tangan mungil yang hendak menangkapnya. Naya terus berlari mengejar kupu-kupu itu, sementara Nayla masih tertinggal jauh. Tubuh Nayla lebih besar dan lebih tinggi dari Naya, tapi dia tidak bisa mengejar Naya. Meskipun kembar, Nayla tidak seberuntung Naya yang memiliki paru-paru sehat. Nayla terkena penyakit yang dibawanya sejak dalam kandungan.

Kupu-kupu itu terlihat lelah mengepakkan sayapnya. Dia mengitari pohon ek lalu terbang ke rumah Miko yang berada tepat di seberang rumah mereka. Naya terus mengejar kupu-kupu itu. Sementara dari jauh Nayla mendengar suara deru kencang mobil polisi mengarah ke kompleks perumahan mereka.

“Naya cepat ke mari, banyak mobil!” teriak Nayla terengah-engah.

Suara mobil jeep dan sirine polisi kian terdengar jelas. Sementara Naya masih mengejar kupu-kupu yang terbang menyusuri jalan lengang tersebut.

Nayla berlari mengejar Naya. Mobil jeep itu semakin mendekati tubuh Naya. Nayla berusaha menarik tangan Naya. Namun, belum sempat dia menyentuh, tubuh Naya sudah melayang tertabrak mobil jeep itu tanpa ampun. Tiba-tiba Naya merasakan tubuhnya disentuh benda dingin dengan kecepatan yang hampir sama dengan jeep itu. Tubuhnya ikut melayang jatuh di tanah yang keras tepat di bawah pohon ek.

Suara sirine polisi terdengar menusuk telinga Nayla. Samar-samar dia melihat Naya tergeletak dengan kepala berbantalkan akar ek yang mencuat keluar dari dalam tanah. Darah segar mengalir dari kepala. Nayla mencoba menyentuh kaki Naya dan berusaha mengguncang-guncang kakinya dengan sisa tenaganya. Napasnya kian terasa sesak dan entah apa yang terjadi selanjutnya, bahkan Nayla sampai saat ini pun tidak pernah ingat dengan gambaran kupu-kupu Naya tentang keceriaan di bawah pohon ek. Bahkan Nayla tidak pernah mengingat seperti apa sosok Naya itu.

***

Perlahan Nayla membuka matanya. Dia menemukan dirinya berada di sebuah ruangan putih. Bahkan dia tidak yahu pasti itu ruangan atau bumi yang luntur menyisakan warna putih. Dia melihat sekeliling, matanya menemukan sesosok wanita berambut panjang di depannya.

“Heu, La! Apa kabarmu? Kamu semakin cantik. Sayang sekali aku tidak bisa tumbuh dewasa dan cantik seperti dirimu.”

“Siapa kamu?” tanya Nayla kebingungan. “Di mana aku?”

Gadis itu diam sejenak. “Apakah kamu sudah merasakan jatuh cinta dengan seorang pria? Seperti apa dia?”

“Apa yang terjadi?”

“Bagaimana dengan paru-parumu, apa masih terasa sakit? Dulu kamu selalu mengeluhkan hal itu, dan saat itu juga aku akan menangis di bawah pohon ek,” gadis itu tersenyum manis.

“Tolong jawab aku…”

“Suatu saat kamu akan tahu siapa aku, dan sekarang kamu sedang ada di alamku. Cepatlah kembali pada memorimu, aku sangat merindukanmu”.

“Apa maksudmu? Alam apa? Dan… dan… memori apa?”

Seberkas cahaya mendekati Nayla. Semakin lama cahaya itu menyilaukan. Tapi gadis itu semakin samar. Dia melambaikan tangan dan tersenyum sebelum benar-benar lenyap bersama cahaya menyilaukan itu.

Aroma cemara memenuhi seluruh indra penciuman Nayla. Dia menyentuh kepalanya yang terasa ngilu berbalut perban. Dia merasakan tangannya digenggam sesuatu dan mendapati bahwa itu adalah mamanya. Dia melihat dua bola mata malaikat itu terlihat sembab dan terlihat begitu menyedihkan.

“Maafin Nayla, Ma, Pa, sudah bikin Mama dan Papa khawatir.” Suaranya serak.

“Enggak apa-apa, Sayang. Yang terpenting sekarang kamu sudah sadar,” jawab papanya lembut.

“Kamu ngapain sih, Nak? Sudah tahu ada angin kencang kayak ‘gitu malah berdiri di bawah pohon,” mamanya sedikit terisak.

“Maaf, Ma, tadi Nayla lihat ada anak kecil lagi mainan di situ. Nayla kasihan, Ma, ngelihatnya. Bajunya kotor dan lusuh, jadi Nayla niatnya mau nolongin gadis itu, Ma.”

“Gadis yang mana? Tadi Papa enggak ada lihat orang lain, selain kamu di situ.”

“Benar, Pa, aku enggak mungkin salah lihat orang! Tadi niatnya aku mau nolongin gadis itu.”

“Dia seperti apa?”

“Rambutnya sebahu, diikat dua, pakai pita warna pink. Dia pakai dress agak kecokelatan, sepertinya putih, mungkin karena kotor atau kelunturan…” Nayla terdiam sejenak mengingat apa yang dilihatnya. “Oh ya, Mama masih ingat enggak waktu Nayla kasih bingkai foto yang Nayla temui di gudang? Gadis itu persis sama yang ada di foto itu, Ma!”

Papa dan mama Nayla saling berpandangan

Sejak saat itu, Nayla tidak pernah lagi bertemu gadis yang dikatakan orang tuanya sebagai kembarannya. Nayla masih sering menatap pohon ek di saat hujan turun, berharap sekali bertemu Naya dan kembali ke memori yang telah usang. (*)

Sangatta, 30 Oktober 2015

VIA ALVIONITA adalah siswi SMA 1 Rantau Pulung. Ia lahir di Sangatta 26 Maret 1999. Pernah menjuarai lomba penulisan cerpen Hardiknas 2012 di Kutim. Follow akun media sosialnya: @Via_MichikoChan (Twitter), Via Alvionita (Facebook), dan Vio.Alvio (Instagram). Cerpen Saksi Bisu Pohon Ek ini dikutip dari Kaltim Post, 8 November 2015.

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>