Kenangan Sastrawan tentang Korrie Layun Rampan

Korrie Layun Rampan telah pergi, Kamis, 19 November 2014. Tapi kenangan tidak mudah untuk dilupakan. “Belum lama ini Mas Korrie ngajak ketemu di sela-sela Kongres Kesenian Indonesia di Bandung, 1-5 Desember 2015. Banyak sekali rencana beliau untuk sastra Indonesia yang akan beliau sampaikan,” kata Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda dalam pesan singkatnya di grup Komunitas Penyair Bertutur.
Menurut Ahmadun, Korrie punya banyak sekali ide. Salah satu yang penting adalah rencananya mengadakan Kongres Cerpen di Kalimantan Timur tahun 2016. “Perlu ada relawan utk melanjutkan program-program Mas Korrie,” tutur Ahmadun.
Penyair Kurniawan Junaedi di grup itu menimpali: “Sampai awal September beliau masih kontak-kontakan dan bareng-bareng mau bikin antologi puisi The 60’s,” ujar KJ, sapaan akrabnya. Bahkan, menurut KJ, Korrie sudah mengirim lima puisi sebelum penyair lain mengirimkan. “RIP. Semoga arwahnya beristirahat dengan tenang di sisi-Nya.”
Penyair Nia Samsihono, menambahkan, “Aku juga disuruh kirim 10 puisi kemarin. Dan mau mengajak menyusuri Mahakam naik perahu akhir November,” ujarnya. Nia juga bercerita bahwa Korrie juga sempat berniat mengumpulkan tulisan keturunan Dayak. “Waktu itu Bang Korrie di Hutan Medani Ungaran (Jawa Tengah) mau ngumpulin tulisan keturunan Dayak. Tapi tidak jadi,” ujarnya.
Penyair Soni Farid Maulana, mengatakan, “Terakhir ia minta naskah drama saya, yang dimuat di Majalah Horison.” Adapun penyair Nana Ernawati mengatakan, “Ada 2 buku pak Korrie yg mengakui kepenyairan saya dan Dhenok.”
Dhenok dimaksud adalah Dhenok Kristianti. Penyair ini mengaku mengenal Korrie sejak ia masa remaja. “Puisi-puisi saya yang termuat dalam kumpukan puisi ‘Tonggak 4’ diapresiasi oleh Beliau dalam salah satu bukunya,” tutur Dhenok. “Bagi saya yang waktu itu masih ‘culun’ dan ‘anak bawang’ di bidang kepenulisan, apresiasi Beliau sungguh berharga dan membangkitkan kepercayaan diri. “
Bahkan, Dhenok bercerita bahwa pada 1984, Korrie pernah menghubunginya lewat surat dan memintanya ikut bergabung di Majalah Sarinah yang waktu itu sedang mencari redaktur dan sekretaris direktur. Dhenok kemudian datang ke Jakarta untuk menemui Korrie untuk pertama kalinya. Tapi ia memutuskan tidak mengambil kesempatan itu. Sebab, waktu itu Dhenok masih kuliah di Yogyakarta.
Adapun Ariany Isnamurti, Kepala Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, mengaku dalam tiga tahun terakhir ini lebih intensif berkomunikasi. “Dan tak henti mensupport saya untuk terus tekun mendokumentasi sastra. Seringkali KLR menelepon, sms, atau kirim surat ke PDS,” ujarnya.
Sementara penulis sastra Ewith Bahar, di grup Penyair Bertutur, memposting sebuah tulisan Korrie yang pernah dimuat di Kompas tentang nasib pengarang dan kesejahteraaannya berjudul “Pengarang dan Honorarium”. “Perih nian hatiku membacanya. Semoga Tuhan mrmberi jalan pada kita untuk menyalakan pelita susastera Indonesia yang redup ini. Amin ya Allah,” tulis Ewith.
Korrie Layun Rampan lahir di Samarinda, Kalimantan Timur, 17 Agustus 1953. Ia tidak hanya dikenal sebagai sastrawan, juga sebagai kritikus dan apresiator sastra. Beberapa tahun lalu, ia memproklamirkan Sastrawan Angkatan 2000 lewat bukunya berjudul sama: Sastrawan Angkatan 2000.
Buku yang diterbitkan oleh sebuah penerbit terkemuka itu memuat lebih dari seratus sastrawan, mulai dari penyair, cerpenis, novelis, esais, dan kritikus sastra. Di sana bisa ditemukan nama-nama seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda, Seno Gumira Ajidarma, Ayu Utami, Dorothea Rosa Herliany, Zen Hae, Dianing Widya Yudhistira, dan lain-lain.
Novelnya, Upacara dan Api Awan Asap, meraih hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta pada 1976 dan 1998. Beberapa cerpen, esai, resensi buku, cerita film, dan karya jurnalistiknya mendapat hadiah dari berbagai sayembara. Cerita anak karyanya, Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985) dan Manusia Langit (1997), mendapat hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sejumlah bukunya juga dijadikan bacaan utama dan referensi di tingkat SD, SLTP, SMU, dan perguruan tinggi di antaranya Aliran-Jenis Cerita Pendek.
Menurut Ahmadun, jenazah Korrie disemayamkan di rumah persemayan jenazah RS Cikini, Jakarta, sampai Jumat malam, 20 November 2015. “Sabtu pagi akan diterbangkan ke Kaltim,” ujar Ahmadun. [R]
BACA JUGA:
Korrie Layun Rampan Telah Tiada

Puisi Mengenang Korrie Layun Rampan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *