Lekaki dalam Sepotong Ingatan

-mengenang Korrie Layun Rampan

PUISI: HUSNUL KHULUQI, @HusnulKhuluqi69

Januari di kota yang hidup oleh riuh suara buruh pabrik rokok
matahari memilih pergi menyingkir dari langit yang terlanjur kuyup menyimpan panah-panah hujan
cuaca nglangut, murung
waktu bagai tanpa denyut
di penginapan kelas melati
di antara deru angin yang menampar genteng dan daun jendela
percakapan kita serupa unggun yang menghangatkan suasana dari dinginnya hujan malam hari
dan angin yang menyusup

lewat pintu utama yang masih terbuka
”Apa kabarnya?” tanyamu
suaramu masih seperti dulu ketika pertama kali bertemu di jantung ibu kota, hangat dan ramah
meneduhkan jiwa yang letih
tubuh yang lelah
aku menatap halaman yang penuh genangan air
bunga-bunga anggrek yang menempel di pohon mangga bergoyang-goyang merekah dalam belaian lembut jemari hujan
kelopak-kelopaknya yang ungu tampak segar dengan tetes-tetes hujan yang membasahinya
lalu Januari pun berlalu
pertemuan usai dengan percakapan-percakapan yang tak pernah selesai dengan unggun kehangatan yang tetap menyala di hati, berkobar sepanjang hari
musim-musim datang dan pergi mengasah tajam pisau kerinduan
yang sering diam-diam berkilat menunggu hari perjumpaan
di kota yang tak pernah tidur terus terjaga dari subuh ke subuh suara-suara mesin pemintal benang yang berdecit sepanjang waktu, suara-suara buruh yang menjerit dicekik kebutuhan-kebutuhan pokok yang kian melangit akan selalu mengingatkan sepasang matamu yang selalu teduh menyentuh
”Kadang hidup tak seindah yang kita impikan, tak semolek yang kita bayangkan”, bisikmu di sela rintik hujan yang mengalun di halaman malam itu sebelum pagi datang memisahkan kita dan menutup percakapan yang sebenarnya belum rampung
Januari dan hujan. adalah ingatan tentang engkau yang terus hidup di antara catatan-catatan panjang, juga tentang mimpi pertemuan yang kini kandas di batu nisan dan musim-musim telah menutup pintunya dari percakapan-percakapan yang ingin kita tuntaskan setelah bertahun-tahun tertunda dan hanya tersimpan di kelam kerongkongan

2015

=====================
HUSNUL KHULUQI, lahir di Kampung Krapyak, Bayumas, Jawa Tengah. Puisi-puisinya tersebar di sejumlah media massa Indonesia dan Brunai Darussalam, juga dimuat dalam sekian buku antologi bersama. Peserta Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) pada 1997 ini kini bekerja sebagai buruh pabrik tekstil di Tangerang, Banten. Puisi di atas dikutip dari antologi “Bisikan Kata, Teriakan Kota” (DJK-Bentang Budaya,2003).
======================

Baca juga:
Korrie Layun Rampan Telah Tiada

Comments

COMMENTS

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>