Husnul Khuluqi di Antara Pabrik dan Puisi

OLEH: IWAN GUNADI, esais dan apresiator sastra, tinggal di Tangerang. |

KETIKA pertama kali melihatnya di sebuah pertemuan sastra di Tangerang, Banten, sekitar pertengahan 1996, lelaki muda itu tak mengesankan seorang buruh pabrik. Penampilannya rapi dengan kemeja yang dimasukkan ke celana pantalon. Kulitnya putih bersih, walau urat-urat yang menjalar di tangannya tampak menonjol. Rambutnya yang dipendek disisir rapi dengan belahan di sebelah kiri. Wajahnya manis. Bahasa tubuhnya lembut dan sopan. Begitu juga tutur katanya yang kental dengan aksen Jawa Tengahan. Dengan bahasa tubuh dan tutur katanya yang lembut itu, tak heran jika sejumlah temannya tak jarang memperoloknya sebagai bencong. Olok-olok tersebut saya tahu kemudian.

Dia selalu memperkenalkan diri sebagai Lulu. Kalau diminta menyebut nama lengkapnya, dia akan menyebut Husnul Khuluqi. “Artinya budi pekerti yang baik,” katanya suatu kali pada 1997. Itulah nama penanya yang kemudian menjadi nama panggilan sehari-harinya.

Ada sejumlah nama yang pernah dipakainya sebagai nama pena, termasuk nama bapaknya. Tapi, nama-nama itu tak pernah membuatnya beruntung, sehingga tulisan-tulisannya, terutama puisi, pernah dimuat media massa cetak. Barulah setelah dia memilih nama Husnul Khuluqi, peruntungan muncul: tulisannya dimuat. Saat itu, dia masih menjadi siswa sekolah menengah atas (SMA).

Nama aslinya sendiri adalah Amsah Susilo. Nama tersebutlah yang dikenal teman-temannya sesama buruh di pabrik tempatnya bekerja. Saya pun baru mengetahuinya setelah lebih dari setahun mengenalnya. Masih banyak temannya di dunia sastra, terutama teman-teman yang baru dikenal atau mengenalnya, yang tak tahu nama aslinya.

Lulu lahir di Kampung Krapyak, Desa Lumbir, Lumbir, Banyumas, Jawa Tengah, 1969. Jarak dari desanya ke pusat Kabupaten Banyumas sekitar 26 kilometer. Sejak lahir hingga awal 1992, dia tinggal di desa tersebut. Selama itu, dia mengenal desanya sebagai desa yang miskin. Rumah-rumah di desanya umumnya berdinding gedek, termasuk rumah orang tuanya. Hanya sebagian kecil keluarga di kampung itu yang memiliki televisi. Itu pun televisi hitam putih dengan ukuran 14 inci. Jumlah pemilik radio sedikit lebih banyak. Keluarga Lulu sendiri tak punya radio, apalagi televisi.

Lulu anak dari Sumarta dan Sukinah. Ibunya tak bersekolah, sehingga buta huruf. Dia juga tak bisa membaca Alquran, kitab suci agama Islam yang dianut keluarga ini. “Kalaupun ibu sekarang salat, salatnya itu cuma hapalan,” aku Lulu ketika berkunjung ke rumah saya pada 10 April 2005. Bapaknya bersekolah hanya sampai kelas dua sekolah rakyat, sehingga mampu membaca huruf latin. Tapi, bapaknya pun tak bisa membaca Alquran sampai akhir khayatnya pada 1985. “Bapak nggak pernah salat,” cetus Lulu pada kunjungan kali itu. Ketika Lulu masih tinggal di kampung, warga kampungnya memang bukan masyarakat yang religius. Walau mulai ada guru yang mengajar mengaji untuk anak-anak, sebagian besar warga tetaplah penganut kejawen yang masih kuat.

Bapaknya petani dengan sawah dan kebun yang tak luas. Warga di kampungnya rata-rata memang petani, tapi petani yang miskin dengan tanah yang sempit.

Lulu anak bungsu dari lima bersaudara. Kakak pertamanya lelaki. Tiga kakak berikutnya perempuan. Kakak-kakaknya berpendidikan rendah. Kakak pertamanya hanya sempat duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah ekonomi pertama (SMEP). Dua kakak perempuannya lulus sekolah dasar (SD), tapi tak dilanjutkan. Satu kakak perempuannya yang lain bersekolah hingga kelas dua sekolah menengah pertama (SMP). Lulu sendiri jebolan SMA Muhammadiyah Wangon—sekarang sudah tutup. Ketika Lulu masih tinggal di kampung, anak-anak keluarga di Kampung Krapyak rata-rata bersekolah hanya sampai sekolah menengah atas. Hanya ada satu sarjana saat itu.

Sebelum ke Tangerang, Lulu hampir tak pernah bersentuhan dengan kehidupan kota secara langsung. Pada 1985, dia memang pernah ke Bandung, Jawa Barat. Tapi, itu pun bukan untuk tinggal di sana, melainkan hanya untuk study tour yang diselenggarakan SMP-nya, yakni SMP Negeri Lumbir—sekarang SMP I Lumbir[1].

Baru pada awal 1992, Lulu mengenal kehidupan kota secara langsung, ketika untuk pertama kalinya dia menjejakkan kaki di Kota Tangerang. Kakak pertamanya yang mengajak ke kota madya yang saat itu masih menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat ini untuk bekerja sebagai buruh pabrik. Kakaknya memang sudah sejak 1982 tinggal dan bekerja sebagai sopir proyek pembangunan jalan tol dan tinggal di Tangerang. Meski sedang menganggur, saat itu, dia sebenarnya tak ingin bekerja, apalagi sebagai buruh pabrik, termasuk pergi ke kota. “Nggak ingin jadi buruh,” tandasnya. Dia ingin menulis saja di kampungnya. Tapi, karena yang mengajaknya adalah kakak yang selama ini membiayai sekolahnya, dengan terpaksa, dia manut saja. “Kehidupan yang lebih baik, lebih maju.” Itulah bayangannya tentang sebuah kota.

Tak lama setelah tinggal di Kota Tangerang, Februari 1992, Lulu diterima bekerja di PT Sumber Tugu Seribu, sebuah pabrik kertas karton di Pakulonan, Serpong, Kabupaten Tangerang. Dia tak bertahan lama di pabrik tersebut. Selain gajinya kecil, dia tak menemukan teman yang cocok. Rata-rata buruh pabrik di sini adalah tamatan sekolah dasar (SD). “Nggak level,” cetusnya tanpa bermaksud menyombongkan diri.

Agutus 1992, Lulu pindah ke PT Sulindafin, pabrik tekstil di Jalan Imam Bonjol, Tangerang. Cari teman yang sama-sama bisa dan suka menulis, inilah alasan utama kepindahannya ke perusahaan penanaman modal asing (PMA) tersebut. Tapi, teman yang bisa dan suka menulis itu baru ditemukannya setelah bertahun-tahun bekerja di pabrik tersebut. Selama belum menemukan teman sehobi itu, selama itu pula tumbuh kesadarannya tentang pentingnya tetap bekerja, walau hanya menjadi buruh pabrik. Minimal, dengan bekerja seperti itu, dia dapat membiayai kegemarannya menulis.

Meski begitu, bekerja di pabrik tetaplah tak menyenangkannya. Toh, dia tetap manut mengerjakan segala perintah sambil terus berupaya meluaskan keikhlasan. Sesekali, dia ikut mogok kerja ketika tingkat kesejahteraan tak naik selama beberapa tahun, misalnya. “Tapi, hanya berani ikut-ikutan,” aku Lulu. Di perusahaan sebelumnya, dia tak pernah ikut mogok kerja karena memang tak pernah ada pemogokan selama dia bekerja di sana.

Yang membuatnya tetap senang hanyalah menulis, terutama karya sastra berbentuk puisi. Sejak duduk di kelas tiga SD, dia sudah menyenangi karya sastra. Sejak saat itu, dia banyak membaca buku terjemahan cerita anak-anak.

Lingkungan tampaknya berperan besar mengakrabkannya dengan dunia kesenian. Bukan orang tua atau kakak-kakaknya, meski dia mengaku berbakat menulis. Ketika dia masih bocah, anak-anak seusianya di desanya memang senang berkesenian, terutama menari. Maklum, saat itu, ronggeng merupakan salah satu bentuk tarian yang akrab dengan mereka. Peronggeng terbilang banyak di kampungnya.

Namun, Lulu memilih menulis puisi setelah menjadi juara ketiga lomba deklamasi dalam rangka peringatan Idul Fitri yang digelar musala di kampungnya ketika dia masih duduk di kelas tiga SD itu. Tahun berikutnya, pada hampir setiap kegiatan pramuka yang diselenggarakan SD-nya, dia sering diminta membacakan puisi. Pengalaman seperti itulah yang mengantarkannya untuk mencoba menulis puisi. Kehidupan desa lengkap dengan panorama alam menjadi tema utama puisi-puisinya saat itu.

Namun, sejak SMA sampai dengan sekarang, cinta menjadi tema yang sering digarapnya. Sebab, menurutnya, tema itulah yang tak pernah habis digali. Tema itu pula yang membuatnya benar-benar merasakan nikmatnya kehidupan. “Semacam memberi sesuatu kepada saya. Memberi mimpi-mimpi, memberi hidup,” cetusnya.

Ketika sudah duduk di bangku SMA, keberaniannya mengirimkan tulisan—terutama puisi—ke media massa muncul. Hasilnya tak sia-sia. Awal 1989, untuk pertama kalinya, puisinya yang bertajuk “Puisi Rindu yang Hilang” dimuat di Rubrik “Suara Hati Remaja” di koran Suara Karya Minggu (SKM) terbitan Jakarta. Dua puisinya yang lain juga dipublikasikan koran yang sama pada edisi berbeda selama tahun tersebut. Sebuah artikelnya yang sangat ringkas, yang hanya terdiri atas tujuh kalimat, dengan judul “Goyang Ndangdut” terpampang di Rubrik “Masalah Kita” di majalah pelajar terbitan Semarang, Jawa Tengah, MOP, edisi September 1991.

Lulu terus menulis puisi. Tapi, sampai dengan sekitar empat tahun tinggal di Tangerang, tak satu pun puisinya dipublikasikan media massa. Setelah bergabung dengan sejumlah komunitas sastra di Tangerang sejak 1995, tahun berikutnya, sejumlah puisinya mulai dimuat kembali di media massa, tapi tak lagi di rubrik yang diperuntukkan kepada remaja atau pelajar sekolah menengah. Jadilah dia sebagai salah seorang dari sedikit buruh penulis karya sastra yang karya-karyanya mampu dimuat di media massa. Ini tentu sebuah prestasi untuk seorang buruh. Sebab, untuk bisa lolos dari penyeleksian sebelum dipublikasikan itu, ada standar minimal estetika yang harus dipenuhi. Untuk soal yang satu ini, beberapa pemerhati sastra perburuhan mengakui bahwa hampir semua karya sastra perburuhan, termasuk puisi, memang tak mampu memenuhinya. Wajar jika pada suatu acara pementasan teater buruh dan pembacaan puisi buruh di Solo, Jawa Tengah, Agustus 1997, sastrawan Eka Budianta menyatakan bahwa sebaiknya kita tak menilai karya sastra buruh hanya dari sisi estetika.

Di Roda-Roda Budaya (RRB), Budaya Buruh Tangerang (Bubutan), Institut Puisi Tangerang (IPT), dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI), misalnya, inilah nama-nama komunitas sastra yang dimasukinya. Di komunitas-komunitas sastra tersebutlah, dia berkenalan dengan para penulis karya sastra yang tak cuma tinggal di Tangerang, baik yang sehari-hari berprofesi sebagai buruh maupun bukan. Selain teman bertambah—ini juga salah satu alasannya terlibat dalam komunitas-komunitas sastra—di komunitas-komunitas sastra seperti itulah, dia menimba ilmu kepenulisan yang membuat puisi-puisinya lebih berkembang. Sejumlah penulis karya sastra, yakni Eka Budianta, Iwan Gunadi, dan Nur Zain Hae—sejak 2004 mengusung nama Zen Hae—dianggapnya sebagai orang-orang yang banyak membimbingnya dalam karier kepenulisannya.

Melalui komunitas-komunitas sastra itu pula, dia sempat mengikuti beberapa pertemuan sastra yang penting, baik di Indonesia maupun di Malaysia. Oktober 1997, dia menjadi peserta bengkel kerja (workshop) penulisan puisi yang diselenggarakan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) di Jakarta. Workshop ini diikuti sejumlah penyair dari Malaysia dan Brunei Darussalam, selain tentu dari Indonesia. Dia juga sempat mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara IX di Padang, Sumatra Barat, Desember 1997. Kegiatan ini diikuti para peserta dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, serta beberapa orang peninjau dari Amerika Serikat, Belanda, Jerman, dan Jepang. Pertemuan Sastrawan Nusantara X di Johor, Malaysia, pada April 1999, pun diikutinya. Desember 2003, dia diundang membacakan sejumlah puisinya pada Temu Sastra Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Temu Sastrawan Mitra Praja Utama (MPU) yang mengundang para sastrawan dari Lampung, Banten, Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB)—tapi hanya sebagian provinsi yang mengirimkan sejumlah sastrawannya—di Anyer, Banten., Juli 2004, turut pula mencatat namanya sebagai peserta dan pembaca puisi. Bahkan, satu puisi yang bertajuk “Banten” dibacakan Gubernur Banten ketika membuka perhelatan tersebut.

Dalam satu rentang waktu ketika aktif di komunitas-komunitas sastra itulah, Lulu pernah terjangkit semangat menulis puisi yang “membabi buta”, yang beberapa temannya di komunitas-komunitas sastra itu menyebutnya sebagai “virus puisi”. Dia ingin total menggeluti puisi tanpa harus memburuh. Gairah yang sama pernah pula menjangkiti satu dua buruh pabrik yang juga menulis puisi seperti Lulu. Wowok Hesti Prabowo, penggagas utama komunitas-komunitas sastra itu sekaligus “provokator” para buruh untuk menulis karya sastra, mengingatkannya untuk realistis. Sebab, bagi banyak penyair yang sudah terkenal di tingkat nasional saja, puisi belum dapat dijadikan sandaran hidup di negeri ini. Apalagi, seorang Lulu dengan puisi-puisinya yang belum diperhitungkan, meski produktivitasnya dalam menulis puisi sangat tinggi. Nasihat yang sama juga pernah dilontarkan Wowok untuk satu dua buruh yang sebelumnya pernah dijangkiti “virus puisi”. Sebagaimana mereka, Lulu pun akhirnya mengurungkan tekadnya berhenti memburuh.

Walau jarang, sejak saat itu, sejumlah puisinya menghiasi pelbagai media massa. Misalnya, koran Merdeka (Jakarta), Republika (Jakarta), Media Indonesia (Jakarta), Radar Tangerang (Tangerang), Radar Banten (Serang), Fajar Banten (Serang), Pikiran Rakyat (Bandung), Bandung Pos (Bandung), Pedoman Rakyat (Makassar); mingguan Swadesi (Jakarta); Majalah Horison (Jakarta); dan Jurnal Puisi (Jakarta). Bahkan, majalah Bahana terbitan Brunei Darussalam pernah memuat puisinya. Yang tak kalah menarik, selama beberapa bulan pada awal 2000, petikan-petikan perjalanan hidupnya sebagai buruh ditulisnya secara rutin untuk Harian Radar Tangerang. Sebuah foto diri yang tak mengesankannya sebagai buruh turut mengimbuhi esai-esai personal itu dengan ukuran yang lumayan besar.

Sejumlah puisinya juga kemudian dimuat di sejumkah buku antologi puisi bersama penyair-penyair lain. Misalnya, Kumpulan Puisi Trotoar (Tangerang: Roda-Roda Budaya, Oktober 1996); Antologi Puisi Tangerang: Cisadane (Tangerang: Roda-Roda Budaya, Maret 1997); Antologi Puisi Indonesia 1997, Volume 1 (Bandung: Angkasa, 1997); Pabrik (Tangerang: Roda-Roda Budaya, 1998); Jakarta Dalam Puisi Mutakhir (Jakarta; Dinas Pendidikan, Kebudayaan, dan Pariwisata Jakarta, 2000); Resonansi Indonesia (Tangerang: Komunitas Sastra Indonesia, Maret 2000); Antologi Puisi Cisadane 2 (Tangerang: Roda-Roda Budaya, 2002); Bisikan Kata Teriakan Kota: Antologi Puisi Temu Sastra Jakarta (Yogyakarta: Dewan Kesenian Jakarta dan Bentang Budaya, Desember 2003); Rukmi Wisnu Wardani, Husnul Khuluqi, Sastra Senja, Sanggar Baru Taman Ismail Marzuki (Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, 30 Juni 2004); serta Antologi Puisi Tangerang: Senandung Wareng di Ujung Benteng (Tangerang; Yayasan Kesenian Tangerang, 2005).

Toh, jumlah puisinya yang dipublikasikan di media massa dan buku tetap jauh lebih sedikit ketimbang jumlah puisi yang pernah dibikinnya. Per April 1998 saja, menurut pengakuan Lulu, sekitar 1.000 puisi telah ditulisnya. Dari jumlah tersebut, sebagian besar ditulisnya setelah dia menjadi buruh pabrik. Mungkin, sekarang, jumlahnya sudah dua kali lipatnya atau bahkan lebih. Terakhir, awal Maret 2005, dia menyebut angka tiga kali lipatnya. Sebab, dalam seminggu, puluhan puisi bisa lahir dari tangannya. Bahkan, dalam sehari, dia pernah menghasilkan lebih dari sepuluh puisi. Tak heran bila ada temannya sesama buruh yang menulis puisi menyindirnya sebagai pabrik puisi.

Sayangnya, tak semua puisinya terdokumentasi dengan baik. Sebagian besar terbuang, terutama ketika dia harus pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Apalagi, sebagaimana bangsa ini, Lulu juga tak memiliki tradisi dokumentatif yang baik, terutama pada masa-masa awal kepenyairannya. [KOMUNITASSASTRA.WORDPRESS.COM].

Baca Juga:
Lelaki dalam Sepotong Ingatan (Puisi Husnul Khuluqi)

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>