Tips Baca Puisi di Panggung Lomba

OLEH: HASTA INDRIYANA, penyair, @HastaIndriyana

Seorang laki-laki berjas biru abu-abu setinggi sekitar 170 cm maju ke panggung. Tangan kanannya memegang tongkat aluminium dituntun panitia dan kemudian ditempatkan di atas panggung menghadap audiens. Setelah memberi hormat pada dewan juri di depannya, ia membaca puisi “Gugur” karya WS Rendra.

Power vokalnya cukup memenuhi ruang dan jelas artikulasinya. Kertas di tangannya mungkin saja berhuruf braile. Peserta bernama Pradana dan mahasiswa Jurusan PLB, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), itu mampu membuat audiens terpaku. Penampilannya di atas rata-rata, meskipun di akhir penjurian tidak mendapatkan juara.

Kemarin (Minggu, 22 November 2015) saya menjadi juri lomba baca puisi tingkat mahasiswa se-DIY-Jateng yang diadakan UNY bersama Mas Whani Darmawan dan Mas Hamdy Salad. Saya mendapatkan kenyataan bahwa sebagian besar peserta memiliki modal vokal yang baik.
Jumlah peserta 65 orang yang masing-masing membaca satu puisi wajib dan satu puisi pilihan. Hampir semua puisi panjang. Hal ini mengakibatkan proses lomba berjalan lama, mulai pukul 9.00-19.30.

Berbicara tentang baca puisi, ada yang harus dibongkar di awal, yaitu definisi mengenai baca puisi. Batasan-batasan tentang baca puisi perlu diperjelas untuk menghindari kesalahan pemahaman. Banyak peserta yang tampaknya tidak memahami hal ini. Sebagai contoh, peserta membaca puisi sambil berjalan kian kemari: berakting terjatuh; membaca puisi yang dimulai dari luar panggung/di antara audiens, dan lain-lain.

Baca puisi itu adalah membaca puisi dari teks yang dipegangnya di atas panggung. Teks sepenuhnya “dihidupkan” melalui pengolahan vokal (power, artikulasi penjedaan, penekanan, pengaturan irama), mimik muka, dan gerakan kecil tubuh yang mendukung isi atau suasana puisi. Menghidupkan teks harus dimulai dengan memahami puisi, membongkar teks untuk mendapatkan makna dan suasananya.

Banyak di antara peserta yang berusaha menghidupkan puisi dengan cara memverbalkan semua kata dalam teks dengan gerakan-gerakan besar. Sebagai contoh, jika ada kata “langit” dalam puisi, peserta mengacungkan tangannya ke atas; jika ada kata “tertusuk”, peserta menancapkan tangannya ke dada, dan lain-lain. Sehingga substansi “baca puisi” jadi tenggelam ditelan gerakan-gerakan yang tidak perlu: banyak kata yang menjelma menjadi gerakan.

Itu artinya seolah-olah peserta tidak percaya terhadap kata-kata sehingga “baca puisi” pun jatuh menjadi “teaterikalisasi puisi”. Ini mirip dengan deklamasi yang disertai gerakan-gerakan besar dan teks tidak dibawa serta alias hapalan.

Saya perlu memberi catatan karena itu lomba baca puisi bukan pertunjukan. Sebagai juri, biasanya saya memberi nilai dalam bentuk catatan penampilan per peserta (kualitatif) dan catatan angka (kuantitatif) yang meliputi penilaian audio, visual, dan penghayatan.

Di lomba kemarin, ada beberapa kekurangtepatan yang dilakukan peserta di antaranya.
1. Tidak menghapalkan teks sehingga lupa di tengah pembacaan.
2. Tidak memahami isi puisi sehingga salah dalam penjedaan dan penekanan. Ini mengakibatkan suasana yang dimaksud puisi tidak sesuai, misalnya puisi renungan (“Ngaben” karya Pranita Dewi) diekspresikan dengan berteriak — mungkin untuk menunjukkan vokalnya yang keras.
3. Tidak latihan. Ini fatal.
4. Belum mengolah irama, keras-lembut vokal dan nada sehingga monoton.
5. Terlalu banyak gerakan.
6. Penjedaan terlalu lama sehingga tempo menjadi lambat dan terasa berat.
7. Membaca puisi tidak di atas panggung.
8. Meletakkan teks/kertas di depan muka sehingga wajah tertutup.

Tulisan ini bukan laporan pertanggungjawaban atau kritik tetapi catatan kecil saja. Semoga bermanfangat. ****

CATATAN:
Tulisan (juga foto ilustrasi) ini dikutip dari note penyair Hasta Indriyana di Facebooknya dengan judul
“Bagaimana Baca Puisi Itu?” dengan editing seperlunya. Tulisan ini penting menjadi referensi bagi peserta atau calon peserta lomba baca puisi maupun para pembaca puisi non lomba.

Comments

COMMENTS

Tinggalkan Balasan ke Ben Batalkan balasan

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>