Sudut Pandang dalam Menulis Puisi

OLEH: Hasta Indriyana

Jika suatu saat temanmu pasang foto di Facebook sedang berpose berlatar pesawat (mau otw) atau tersenyum di dalam mobil, ada banyak kemungkinan komentar kau lontarkan, misalnya:
– “Ndeso bgt sih kamu!” atau
– “Gue malu punya temen loe poto beginian…” atau

– “Alhamdulillah.” atau
– Kapan ya aku bisa kayak kamu?” dll.
Satu peristiwa akan memproduksi bermacam tanggapan, bergantung sudut pandang penanggap. Menulis puisi juga demikian. Menghadapi satu peristiwa, ciptakan bermacam sudut pandang. Fungsinya utk memperkaya perspektif.
Dalam puisi, ada 2 sudut pandang. Pertama, berkaitan dg struktur kalimat (sintaksis), yaitu sudut pandang orang pertama; kedua; dan ketiga. Cobalah menulis puisi dg berbagai sudut pandang, misalnya kita memakai kata “mereka” (ketiga-jamak) padahal yg dimaksud “mereka” adalah “aku” si penyair yg mengalami peristiwa tsb. Dan seterusnya. Salah satu kelebihan menjajal teknik ini adalah munculnya empati.
Kedua, berkaitan dg material (content) peristiwa. Menghadapi foto temanmu yg selfie berlatar pesawat, kamu bisa menjelma menjadi benda2 atau makhluk di sekitar temanmu. Misalnya, di dalam puisi kamu menjadi pesawat; menjadi pekerja bandara; menjadi penumpang lain; menjadi travel bag; dll.
Fungsi lain pengayaan sudut pandang ini adalah utk menghindarkan kita menulis puisi berbentuk laporan peristiwa. Ya, karena penyair bukan wartawan dan juga bukan ustaz yg suka kotbah.
Nah, ndak usah banyak banyak kotbah, saya contohkan satu puisi saya. Semoga bermanfangat. Cheers…
DI JAKARTA
Selfie di depan
Gedung yang mengangkang
Tinggi berwarna-warni, di foto
Terpotret sepasang suami-istri
Lewat mendorong gerobak
Di atasnya seorang anak kecil
Kumal menggigit ujung baju
Ketika ku-upload di facebook
Istriku di seberang berkomentar
“Mereka seperti kita!” dengan
Ikon sebuah kepala bulat bahagia
“Ya, itu memang kita,” komentar
Laki-laki yang tak lain pendorong
Gerobak
“Ayo, Pak, jangan facebookan terus
Temeni ibu memungut kardus
Dan besi-besi!” ajak si anak
Aku pun bergegas merampungan
Puisi ini
Tebet Dalam, 2015

CATATAN: Tulisan ini dikutip dari note Hasta Indriyana berjudul “Sudut Pandang” di akun Facebooknya.

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>