Sastra Reboan 3 Februari Bertema Renjana

KITA pasti pernah merasakan suatu kerinduan yang sangat, atau mencintai sesuatu. Seperti juga halnya perasaan yang kuat pada seseorang. Itulah renjana, yang saat ini sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris “passion”.
Renjana sebagai satu kata yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan “rasa hati yang kuat” tak lepas dari sosok Guruh Soekarnoputra, yang menciptakan lagu dengan judul “Renjana” dan berhasil memenangkan Festival Lagu Tingkat Nasional pada tahun 1976. Selain berhasil mempopulerkan istilah dari bahasa Sansekerta itu, lagu ini juga menjadi duta yang berlaga di arena World Popular Song di Tokyo.
Rasa hati yang kuat itu pula yang melahirkan puisi-puisi dari penyair, sebut saja WS Rendra, yang tak hanya dikenal dengan protes sosialnya tapi juga keromantisannya. Simak saja dua baris dalam sajak “Kangen” : “Membayangkan wajahmu adalah siksa/ Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.”
Sastrawan lainnya, HAMKA menggambarkan perasaan cinta dengan begitu puitis dan bersajak. Hamka yang juga ulama dan ahli filsafat menulis : “Seandainya kamu dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan alam, tetapi tidak mempunyai perasaan cinta dan kasih, dirimu tak ubah seperti gong yang bergaung atau sekadar canang yang gemerincing.”
Kini, masihkah renjana itu ada dalam diri kita?. Renjana untuk mencintai dan empati pada sesame, tak hanya pada lawan jenis dengan gairah atau birahi. Ketika penguasa membunuh hajat hidup orang banyak demi pencitraan diri, itu bukanlah cinta. Ketika sekelompok orang merusak dan membakar rumah kelompok lain, hanya karena dianggap melakoni ajaran sesat, apakah itu cinta?.
Sastra Reboan edisi 3 Februari 2016 mengusung tema “Renjana” bukan hanya menyajikan puisi-puisi cinta dari Rendra dan lainnya, atau mengingatkan kita akan kata itu juga ada dalam bahasa Indonesia, tapi juga mengajak untuk merenungkan sejauh mana renjana kita pada kemanusiaan.
Puisi-puisi cinta Rendra akan ditampilkan oleh Bela Studio, termasuk dramatisasi riwayat sang maestro tersebut. Putri Suastini yang dikenal dengan kehebatannya membawakan puisi, kali ini tampil diiringi Brandjangan,gitaris yang kental dengan irama bluesnya.
Selain itu juga tampil Ani Surestu, aktris terbaik Festival Teater Jakarta 2015 didampingi aktor Faiz Hasiroto.
12615229_10153521494139102_1332062022914917641_o

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *