Burung Cicempala

CERPEN: Salman Yoga S | @salmanyogas | Pegiat budaya dan Direktur The Gayo Institute, berdomisili di Aceh Tengah |

Cerpen ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. “Naskah yang sama telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Rusia dan Bahasa Arab serta 20 bahasa dearah seluruh Indonesia,” tutur Salman kepada Infosastra.com. Namun, yang ditampilkan di sini hanya dalam dua bahasa yakni Indonesia dan Gayo, Aceh. Selamat menikmati.

BURUNG CICEMPALA

Sekali kepakan ia telah hinggap di dahan pohon kopi muda itu. Angin menyambutnya tak ramah, dahan bergoyang kesana kemari memaksa sayap burung kecil itu untuk terus mengembang mempertahankan keseimbangan diri bertahan di atas ranting. Kaki dan cakarnya mengokohkan cengkeraman, matanya awas mengamati sekeliling. Sesekali mengeluarkan suara, berkicau lembut seakan memanggil-manggil temannya yang hinggap di dahan lainnya.

Cicempala, burung kecil berbulu halus dan indah dengan beberapa jenis warna. Kepalanya putih, kedua sayap berwarna kuning, seluruh bulu badannya berwarna biru ditambah warna hijau tua pada paruhnya yang mungil. Kaki berwarna merah dengan kuku berwarna kuning dan sisik kecoklat-coklatan. Perpaduan warna yang sempurna, membuat siapa saja terkesima. Kekayaan warna yang ia miliki mengalahkan pelangi dan nuansa senja di sbelah barat Danau Laut Tawar.
Suaranya lembut, kicauannya bertingkah lima dengan tangga nada yang berbeda-beda. Alunan syair seni Didong tak menyamainya ketika tengah riuhnya berkicau. Daya tarik burung Cicempala kecil ini disempurnakan lagi dengan kepakan sayapnya yang gemulai saat terbang. Meliuk dan menukik kepucuk-pucuk pinus muda yang hijau memagari tebing. Seperti gemulainya selendang putri bensu yang turun dari langit ditiup angin. Mengepak dan melambai mengikuti arah hembusan angin yang syahdu.
Makanan utamanya adalah bebijian pohonan yang mengandung air. Buah Nanar yang berwarna kuning adalah kesukaannya. Pohon Nanar banyak tumbuh dipelataran kebun kopi penduduk kampung Genuren. Tumbuhan satu ini memang telah menjadi tumbuhan utama yang sengaja ditanam sebagai pagar kebun. Beberapa penduduk Genuren sengaja menanamnya di halaman rumah, sebagai tanaman hias. Namun ada alasan lain yang lebih kuat ketika semua penduduk Genuren menanam pohon Nanar di depan rumahnya mereka.
Alasan yang sebenarnya sangat sederhana. Yaitu agar setiap pagi hari, siang serta senja hari burung-burung Cicempala datang memakan buahnya. Dengan demikian kicaunnya juga akan terdengar membangunkan tidur pulas manusia. Kicauannya saling bersahut-sahutan antara satu burung Cicempala dengan burung Cicempala lainnya, sebagai pengganti ucapan terimakasih kepada pemilik rumah yang telah menanam dan merawat pohon makanan pokoknya itu.
Tetapi sudah beberapa bulan belakangan ini kicauan burung Cicempala tidak pernah terdengar lagi di halaman rumah Luni. Padahal pohon itu kini sedang berbuah sangat lebatnya. Sebagian biji anar yang memerah dan sudah kelewat matang terjatuh ke tanah sia-sia. Setiap pagi, siang dan sore hari Luni memandangi pohon Nanar yang berdaun kehijau-hijauan itu dengan penuh harap, burung pemilik warna indah itu dapat ia lihat hinggap di salah satu dahannya.
Seperti dua minggu terakhir ini, Luni harus kecewa, karena burung mungil bersuara merdu itu tidak tampak sama sekali, meskipun seekor. Pada satu senja, dengan lesu Luni mendekati pohon Nanar itu, membersihkan beberapa daun dan ranting yang sudah tua. Menyapu bagian bawahnya yang dipenuhi dengan guguran daun. Hatinya bertanya-tanya, kemana hengkangnya burung-burung kecil itu? Luni rindukan suara dan biasan warnanya berkelebat di antara rerantingan. Pegangan sapu lidi di tangannya melemah. Rambut panjangnya dibiarkan melambai menebarkan aroma bunga Renggali.
Sejak burung kecil itu tidak pernah muncul di kampung Genuren, orang-orang sekampung merasakan seperti ada yang hilang. Sebahagian yang lain merasa sangat sepi dan tidak tenang. Ada sejumlah kabar yang tersebar dari mulut kemulut dan berkembang cepat diantara marasyarakat. Berita itu menyatakan bahwa burung Cicempala sudah habis mati karena ditembak oleh pemburu, burung-burung kecil itu kini telah berpindah habitatnya ke hutan gunung Pereben, yang berjarak ratusan kilo meter dari kampung. penyebabnya karena telah banyak ketidak beresan di kampung Genuren.
Burung Cicempala memang dipercaya sangat berkaitan erat dengan perilaku baik dan perilaku buruk lingkungan yang ia tempati. Jika lingkungannya baik dan hidup damai maka ia juga akan betah tinggal serta menyumbangkan suara kicauannya. Tetapi apabila yang terjadi justru sebaliknya maka burung itu akan hengkang. Nuansa dan aroma kebaikan atau keburukan konon dapat dirasa dan disaksikan oleh burung Cicempala, seperti layaknya manusia.
Dari sekian kemungkinan yang membuat burung Cicempala tidak pernah datang lagi ke kampung Genuren, yang dapat diterima akal adalah merajalelanya sejumlah pemburu burung bersenapan angin. Konon pula daging burung Cicempala sangat lezat, paruh dan bulu-bulunya sangat berharga bila dijual. Hal tersebutlah yang membuat orang-orang mengalihkan mata pencahariannya dari bertani menjadi pemburu burung.
Tetapi benarkah hal tersebut yang membuat burung Cicempala tidak pernah menampakkan diri lagi? Betulkah Luni menderita penyakit yang tidak diketahui itu dikarenakan tidak lagi mendengar burung Cicempala berkicau di halaman rumahnya? Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh telah membuat Ali Gegur ayah Luni kebingungan. Ali Gegur semakin panik ketika keanehan itu kian menjadi-jadi. Pernah Luni berkicau sebagaimana layaknya seekor burung Cicempala, sementara ia sendiri dalam keadaan tertidur. Hal ini terjadi berulang-ulang. Bahkan setiap kali Luni mengeluh sakit di bagian tenggorokannya setiap kali itu pula ia berkicau.
Menurut Sukri Kulem, dukun yang dipercaya masyarakat sebagai dukun ampuh di kampung Genuren mengatakan bahwa; seekor burung yang menjadi pimpinan seluruh burung Cicempala mempunyai ikatan bathin dengan Luni, dan burung itu yang disarankan untuk menjadi penawar bagi sakit Luni.
* * *
Istri Ali Gegur pada suatu senja secara tidak sengaja pernah melihat anak gadisnya Luni berbicara sendiri di bawah pohon Nanar, ketika ia berusaha memetik salah satu tangkai bunganya yang tengah mekar. Tidak jelas apa yang dikatakan Luni, tetapi seakan ia sedang ngobrol dengan seseorang dari balik pohon Nanar yang rindang itu. Ketika istri Ali Gegur mencoba mendekat, seekor burung Cicempala terbang dari dahan.
“kamu tadi berbicara dengan siapa Luni?” tanya ibunya dengan penuh keheranan. Rasa ingin tau perempuan separuh baya itu seperti air dari keran yang tersumbat dan kemudian memuncrat begitu saja.
“ah tidak dengan siapa-siapa bu!“ jawab Luni, sambil mengelak dengan terus berpura-pura bernyanyi. Batin Luni mengatakan jangan sampai ada orang yang mengetahui dengan siapa ia berbicara, termasuk ibunya sendiri.
Dari beberapa hari pertemuan dan pembicaraan dengan burung Cicempala itu, Luni baru mengetahui bahwa sebenarnya burung Cicempala yang selama ini berkicau untuknya adalah jelmaan dari pohon dan dedaunan hutan sekitar danau Lut Tawar, tempat dimana Luni dan kampung Genuren berada.
Pengakuan burung itu ia adalah utusan dari sekian ribu jenis dan spesies tetumbuhan serta jutaan hektar hutan yang telah gundul ditebangi orang. Wakil dari sebuah wilayah dan lingkungan kehidupan yang terancam masa depan dan keasriannya.
Burung jelmaan itu berpesan dan memberi ultimatumnya kepada siapa saja melalui Luni. Mendengar ancaman dari burung mungil yang biasanya lemah lembut itu Luni langsung lunglai, pucat dan ketakutan. Seketika ia tersungkur di tanah dengan lemahnya, Ali Gegur yang muncul langsung mengangkat putri tunggalnya itu ke dalam rumah. Perasaannya semakin tidak tenang. Tidak lama kemudian kampung Genuren menjadi heboh, orang-orang berduyun-duyun menjenguk.
Ketika orang sekampung sedang riuhnya mengerumuni rumah Ali Gegur, dari arah tenggara tiba-tiba muncul ratusan burung Cicempala di ikuti oleh hembusan angin kencang dan hujan deras. Orang-orang panik tidak karuan, penuh keheranan. Tetapi sesaat kemudian burung itu menghilang dengan cepatnya di udara, angin dan hujanpun reda seketika. Belum lagi terjawab segala kepenasaran penduduk, Luni tiba-tiba bangkit dari pembaringannya. Suaranya berubah menjadi suara seorang lelaki dewasa, dan berkata kepada semua orang yang hadir tentang bencana yang akan menimpa kampung.
Dua tahun setelah kejadian itu orang-orang masih saja melakukan penembakan burung, penebangan hutan, pembakaran semak-semak serta tindakan lainnya yang merusak alam. Ali Gegur berserta isterinya mengambil keputusan untuk segera pindah dari kampung Genuren. Mereka tidak sanggup lagi memberi penjelasan kepada penduduk tentang bahaya perbuatan mereka. Semakin sering Ali Gegur dan Luni mengingatkan dan mencegah kebiasaan buruk penduduk, ayah dan anak itu semakin dimusuhi oleh banyak orang.
Ali Gegur dan keluarga akhirnya pergi meninggalkan kampung Genuren. Pindah ke kampung lainnya yang dapat menerima mereka dengan baik. Dimana masyarakat dan penduduknya selalu menjaga kelestarian dan keseimbangan ekosistem alamnya. Namanya kampung Beruksah. Kampung yang sebagian wilayahnya adalah lahan perkebunan dan sawah, sebagian lagi hamparan hutan hijau, dan sebagian lainnya adalah rentangan sungai besar dan panjang.
Dengan kondisi alam seperti ini Ali Gegur dan isterinya bebas berusaha menghidupi keluarganya. Luni-pun kini lebih sehat dan ceria dari sebelumnya. Karena ia dapat kembali menikmati kehidupan alam beserta makhluk-makhluk kecil yang ada di sana.
Suatu siang dipersimpangan jalan saat Luni kembali dari pingir sungai, dari atas pohon, tiba-tiba ia mendengar suara Cicempala berkicau riang. Luni kaget luar biasa, ia juga terlihat gembira karena burung yang dikiranya telah punah itu kini muncul kembali. Pada senja berikutnya, burung Cicempala itu datang bertengker di ranting bunga kantin halaman rumah, sambil melompat kesana kemari burung itu berkicau seakan ingin memberitakan sesuatu.
Tepat tengah hari suaranya menghilang. Rasa penasaran Luni berusaha mencari kemana gerangan perginya burung itu. Ali Gegur yang baru saja tiba dari ladang selanjutnya ikut mencari. Tanpa disangka, burung itu muncul di hadapan mereka dengan paruhnya yang kecil. Dengan kicauan lembut, burung itu memberitakan bahwa kampung Genuren yang mereka tinggalkan kini telah menjadi danau. Seluruh kehidupan kini telah menjadi genangan air. Penduduk kampung Beruksah tersentak. Dalam waktu singkat berita itu menyebar. Tak lama kemudian orang-orang dan wartawan seperti berlomba menuju kampung Genuren, menanyai beberapa orang yang selamat serta memotret puing-puing rumah yang tersisa. []

DALAM BAHASA GAYO:

Manuk Cicempala
Salman Yoga S

Bahasa Gayo Lut (Aceh Tengah, Bener Meriah)
Penerjemah: Aman Renggali SY

Seger kepak wé nge cop i cabang batang ni kupi mude oya. Kuyu munyamuté gere ramah, cabang mengut kuso-kuini simunurahen kepékni manuk kucak oya turah dor kemang minegéngen keseimbangen diri temetap i atas ni ranting. Kédéng den kókótté munekéngen kecal, mataé juah munéngon seringkel. Seseger munangkóhen ling, meguk lemut unang putetalu pongngé si cop i cabang lén.
Cicempala, manuk kucak berjangut alus den mampat urum pepien warna. Ulué pótih, roa kepékké berwarna kóning, sara bedenné berwarna biru itamah mien warna ijo tue i paruh niawahé si kucak. Kédéng berwarna ilang urum kókót berwarna kóning den késép kecoklat-coklaten. Ramulni warna si semperne, petahó kesahpé munégoné. Bayak ni warnaé mungalahni kelamun den caya senye i arah matanlo Danau Lut Tawar.
Lénggé lemut, gukké betingkah lime urum lime kité nada mubeda-beda. Denang sa’er seni Didong gere terdésen ike tengah gericoé meling. Galak niate kin Cicempala kucakni isempernen mien urum kemang nikepekké sirenah rembune ike tengah temerbang. Munyéngkér den munyamar ku pucuk-pucukni uyem mude ijo si mumegeri tingkir karang. Lagu gemulai ni tódóng putri bensu si tórón ari langit i emus ni kuyu. Mungepak den mungirep munnónóng arah emusni kuyu si lungun.

Pemanganen utamaé uah-uahni kayu simunganung wih. Uahni Anar siberwarna kóning sigalak niatéwé. Kayu Nanar ni délé mórif i pematang ni empus kupi penduduk Kampung Genuren. Senuen si sarani memang nge mujadi senuen utama si sengeje isuen kin peger ni empus jema. Pepien penduduk Genuren munyuenné i elem-elemen umah, sebagé senuen hies. Kebetapé ara alasen lén silebih kuet ketike bewéné penduduk Genuren munyuen batangni Anar i arapni umahé masing-masing.
Alasen si sebenaré sederhana wé. Yaitu kati jep soboh lao, ruhul den senye lo manuk-manuk Cicempala géh mumangan uahé. Sehingé léngé ternenengé murungu misni nómé manusié. Léngé sut samut antara sara manuk Cicempala urum manuk Cicempala lénné. Sebagé pengganti ucepen berijin manuk Cicempala ku empuni umah si nge munyuen den mumerala senuen pemanganen pokok é.
Kebetapé nge pepien ulen kukúdúkni léng péul manuk Cicempala gere penah tenengé néh i elemen umani Luni. Pedehel batang ni Anar seni tengah rembebé uahé. Sebagien uahni Anar singe ilang-ilangen den lepasen sie-sie metuh ku tanoh. Jeb soboh, ruhul den lo senye Luni muperhatin batang ni Anar si berólóng ijo-ijonen oya urum penuh harap, nguk manuk si muwarna belangi mampat oya gere teridah éngoné cop i sesara cabangngé.

Lagu roa mingu kukúdúkni, Luni bemacik, kerna manuk kucak simuléng lungun oya gere teridah sarapé. Iwan sara senye, urum melas niaté Luni mudekati batang ni Anar, mubersihni ólúng-ólúng den rantingngé singe murempaté. Munyapu seringkel batang singe engkip urum ólúng rólóh. Atewé pukekune, kusi kabangni manuk-manuk kucak oya? Denem rinu ni Luni kin léng lemut den libetni warna i seselang cabang ranting. Sapu i kecalné murengang. Uwók narué idatenné mugerbang imus-emus kuyu si musap-sapen bau Renggali.
Ari gere penahéné mulibet manuk kucak oya i Kampung Genuren, jep jema si wan kampung murasan lagu ara si osop. Sebagien jema murasa sengap den gere tenang. Ara pepien berite simukemang ari awah kuawah den semawah ku masyarakat. Berite oya mungeberen bahwa manuk Cicempala nge méh gelis itimaki jema, manuk-manuk kucak oya seni nge minah habitté ku uten bur Pereben, siberjarak kire-kire sepuluh kilo meter ari kampung. Alasenné karena nge délé sigere eruh i kampung Genuren.
Manuk Cicempala memang ipercayai jema berkaiten king urum perilaku jeroh den koték seringkel tempat si i éwéi é. Ike masyarakat seringkellé jeroh den morip damé maka wépé rejen taring munyedekahni léngngé. Kebetapé bile siterjadi justru sebalikké maka manuk oya kabang. Kesah den bau sijeroh atawa sikoték keberé nguk irasan den iéngonné, lagu manusie layakké.

Ari déléni kemungkinen kati Cicempala gere penah géh ku Kampung Genuren, si iterime akal oyale murejelélaé jema mungaro orum bedil. Keberé déngké manuk Cicempala sedep, paruh den jangutté murege ike ijuel. Hal ini sinubuh jema munalihni mata pencarienné ari bersenuen mujadi penengkam manuk.
Betul kedié hal oya kin penyebeb manuk Cicempala gere penahné munorohen diri? Betul kedié Luni igéhi penyakit sigere ibetih kerna gere penahné mumengé manuk Cicempala meling i elem-elemen umahé? Pengunen-pengunen silagu oya munos Ali Gegur ama n i Luni pemacik. Ali Gegur mutamah cico ketike keanehen oya lagu makin mujadi-jadi. Penah Luni meling lagu layakké manuk Cicempala, sementara wé nomé. Hal ini terjadi mulang-ulang. Bahkan jep Luni murasan sakit i gerngongngé jep oya wé meling lagu manuk.
Menurut Sukri Kulem, guru kampung si ipercayai masyarakat sebagé dukun kul i Kampung Genuren mumerén manuk simujadi pemimpin bewené Cicempala ara muikoten batin urum Luni, den manuk oya si isyaraten kin penawar penyakit ni Luni.

* * *

Paké umahni Ali Gegur wan sara senye gere sengeje penah munéngon anak berué Luni becerak seseréngé di tuyuhni batang ni Anar ketike Luni tengah munagkap sara tangké bungeé sitengah kemang. Gere jelastu sana siperin Luni, tetapi seakan wé tengah becerak urum jema ari serapni batang ni Anar si rubu. Ketike paké umahni Ali Gegur rap, sara manuk Cicempala temerbang ari cabang.

“urum sa ko becerak sine Luni?” Ine é mungune urum herann é. Rasa ménét mumeté ni Ine setengah umur oya lagu wih ari belbuk musompong, mupancur kuatas.

“eh gere urum sahpé Ine!” jeweb Luni, sesire mudénang. Bathin Luni besisu enti sahpé mubetéhi urumsa wé becerak sine, termasuk Ine é.

Ari pepienlo mudemu den becerak urum manuk Cicempala, Luni baro mubetih bahwa sebenaré manuk Cicempala si selama ini meling adalah serupenni kayu den ólóng-ólóng iwan uten sekiter Danau Lut Tawar, tempat ni Luni den Kampung Genuren.
Pengakuen ni manuk Cicempala wé utusen ari ribuen batang-batang nikayu den ribuen hektar uten singe lapang i tebangi jema. Wakil ari empu ni tempat den lingkungen si gere jelas kune kuarap morippé.
Manuk serupen oya bermanat den mumeritah tegas ku barik sahen jema, Luni telangké wé. Mumengé ancamen ari manuk kucak si biasaé lemah lemut Lunipe rebah, pucet keteréhen. Seketike wé metuh ku tanoh gere mutenege. Ali Gegur kemudien sawah den munengolen anak tungellé oya ku umah. Lagu gere guretu perasanné. Gere lemem ari oné Kampung Genuren mugabuk, rami jema géh munentong.
Jema tengah rami-ramié mungeromongi umahni Ali Gegur, ari arah tenggra gé ratusen manuk Cicempala urum emusen kuyu keras den uren kul. Jema meh bermacik, keheranen. Kebetape sesaat kemudien rede tibe-tibe. Gere méh ilen ilen pengunen wan ate ni jema, Luni-pe tibe-tibe uwet ari ton malanggé. Lingngé mubah lagu lingni jema rawan kul, den becerak kubewené jema tentang bele si akan munimpe kampung.
Roa tun ari kejadien oya jema-jema tetap munimaki manuk, penebangen uten, munyéut rerampe simurusak alam. Ali Gegur urum ton umahhé munuet keputusen tir minah ari Kampung Genuren. Pekéa gere sangupnéh munosah penjelasen kupenduduk tentang bahayaé ari perbuetenné. Semakin gati Ali Gegur den Luni munosah penjelasen serta mungoai kebieseen kotek ni penduduk, ama rum anak ini semakin imosohi jema dele.
Ali Gegur den keluagaé akhéré beluh munaréngen kampung Genuren. Minah ku kampung len si nguk nerime pakéa urum jeroh. Si masyaraka den pendudukké mujege ekosistem alammé. Gerallé Kampung Beruksah. Kampung si sebagien wilayahhé adalah perempusen den ume, sebagianmi uten ijo, den i bagiaen lén murentang wih kul.
Urum keadaen alam lagu nini Ali Gegur den pake umahé nguk berusaha munorépi keluargaé. Luni-pe seni nge ara musehat ari sebelummé. Bedediang bergalak ate urum makhluk-makhluk kucak ioné.

Sara ketike lo ruhol i simpang ni déné Luni ula ari wih kul, ari atas kayu, tibe-tibe wé mumengé ling galakni Cicempala. Luni gintes gere terperin, wépé galak kerna manuk sinugerné nge méh gelis seni teridah mien. I lo senye berikutté, manuk Cicempala oya géh bejunté kuranting bunge kantin helemen umah ni Luni, sesire mulunjet koso kini manuk oya meling lagu malé munyawahen berite.
Tepat wan atas lo timang linggé osop. Luni pemacik mungenali kusi pebeluhné manuk kucak oya. Ali Gegur si ben sawah ari empuspe mumerah. Gere terduga, manuk kucak oya témul iarapni pakéa urum paruh kucakké. Urum ling lemutté, manuk kucak oya munyawahen berite kampung Genuren singe itaring pakéa pepien tun kukudukni nge mujadi lut. Seluruh si morip iyoné méh i salupi wih. Penduduk Kampung Beruksah gintes. Wan waktu singket berita oya nge muer. Gere lemem ari oné jema den watawan lagu bededik ku Kampung Genuren, mungunei pepien jema si selamat, mumoto rerisni umah si taring.[]

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>