Proses Kreatif Eliza Vitri Handayani

Setelah diluncurkan di Jakarta, novel Mulai Saat Ini Segalanya Akan Berubah (Obor, 2014) dibawa ke Bandung. Bagaimana proses kreatif penulisan novel tersebut didedah di Departemen Susastra FIB Universitas Padjadjaran, Aula Gedung D Fakultas Ilmu Budaya lantai 3, Jalan Raya Jatinangor, Sumedang 4536. Senin, 17 Februari 2014, pukul 14.20-16.00 WIB. Bersama pewawancara Indra Sarathan.

Untuk teman-teman yang tidak sempat menghadiri acara di Bandung ini, berikut saya tulis saripati tanya-jawab di sana. ~EVH

T: Tolong ceritakan sedikit tentang proses penulisan buku.

J: Berawal dari gambaran ini: suatu hari seorang laki-laki menerima bingkisan berisi foto-foto dan surat dari seorang kawan lama perempuan yang dulu dicintainya. Dua orang yang pernah sangat dekat tapi sudah lama tak berjumpa mesti bertemu dan menghadapi bukan hanya kenyataan bahwa orang yang dulu mereka kenal kini telah menjadi asing, namun juga kenyataan bahwa mereka telah berubah sejak sahabat lama itu terakhir mengenal mereka. Maka saya menulis beberapa cerpen. Lalu saya terpikir, bagaimana andai kedua tokoh ini mencoba berkali-kali untuk menjadi kekasih, tetapi gagal. Dan bagaimana andai mereka mencoba berkali-kali untuk menggapai cita-cita, tapi terus membentur rintangan? Bukankah Indonesia juga memiliki kisah seperti itu—harapan membubung beberapa kali diikuti oleh kekecewaan yang dalam? Bagaimana seandainya saya mencoba merangkai ketiga benang itu? Dari sini muncul keinginan untuk menulis kisah yang lebih panjang. Pada 2010 saya melakukan riset untuk buku ini, lalu menulis beberapa draf sebelum mengusahakan penerbitannya.

T: Mengapa mengambil latar Indonesia tahun-tahun awal Reformasi?

J: Tahun-tahun awal Reformasi menawarkan, meninjam istilah Kundera, keadaan historis yang mengungkap situasi eksistensial yang unik bagi karakter-karakter novel. Tepat saatnya mereka menginjak dewasa, gerbang kemungkinan baru yang luar biasa diterjang terbuka di hadapan mereka. Apa yang terjadi pada orang-orang yang berada di ambang perubahan yang besar, tapi kemudian cita-cita mereka tak terwujud sesuai harapan?

Cita-cita Reformasi juga sangat relevan dengan apa yang diinginkan kedua tokoh utama novel—yaitu kebebasan dan ruang untuk menjadi diri sendiri. Berakhirnya Orde Baru berarti media yang bebas, diskusi terbuka tentang ide-ide yang dulu terlarang, orang-orang dapat memilih sesuai aspirasi. Semua ini berdampak besar bagi dua orang muda yang tengah berusaha menemukan dan mengekspresikan diri. Tiba-tiba mereka merasa boleh jadi berbeda.

Kemudian, saya terpukau oleh tindak memutus siklus. Ketika semua orang tahu siapa yang akan menang sebelum pemilu digelar, ketika semua orang tahu siapa yang akan jadi presiden sebelum sidang parlemen diadakan, kita jadi merasa semua sudah disuratkan, seolah kita tidak punya kuasa mengubah apa yang akan terjadi. Apa yang harus terjadi, di dunia luar dan di dalam diri, supaya seseorang tergerak untuk memutus siklus, untuk berbuat selain dari biasanya, untuk mengubah hidup sendiri?

Reformasi mendorong Rizky dan Julita untuk menggapai kebebasan. Tapi apa makna kebebasan? Apa berarti bebas semau hati? Saya berusaha memperumit tema kebebasan ini. Pada awalnya kedua tokoh novel mencari kebebasan dari hal-hal yang jelas: peraturan guru atau perintah orangtua yang semena-mena, kemudian dari rezim yang menindas. Setelah itu, dari hal-hal yang lebih subtil: Bagaimana seseorang bisa bebas menjadi diri sendiri? Bisakah melepaskan diri dari siklus kegagalan? Dari kecanduan? Bisakah memutus belenggu kebiasaan dan mencipta ulang diri sendiri? Bisakah membebaskan diri dari cengkeraman nafsu, dari takdir yang sepertinya sudah menggariskan jalan hidup kita? Dengan memperhitungkan perkelindanan daya-daya di luar diri, seperti sejarah, genetika, lingkungan, struktur sosial, apakah seseorang bisa benar-benar bebas?

T: Saya juga menulis, juga melakukan riset untuk tulisan saya. Bagaimana cara yang baik memadukan riset ke dalam cerita?

J: Meskipun saya banyak melakukan riset, contohnya setiap hari saya membaca berbagai majalah terbitan tahun ’90-an dan 2000-an di Perpustakaan Nasional. Yang saya petik dari riset mesti menjadi bagian integral cerita, mesti memperkuat cerita, tak boleh sampai jadi tempelan apalagi sekadar untuk pamer pengetahuan.

Kita menulis dalam kesendirian – dengan riset kita mengetahui ada orang-orang lain yang peduli dengan topik kita. Riset dapat memperkaya tulisan kita, dapat juga mendorong kita merevisi sudut pandang apabila ternyata sudut pandang itu sudah pernah ditelusuri penulis lain. Riset juga membantu menempatkan saya dalam dunia para tokoh. Beberapa contoh khusus:

1) Saya membayangkan sekolah Julita akan mewajibkan siswa perempuan mengenakan pakaian sesuai tradisi Islam—dan Julita akan muncul ke sekolah mengenakan kostum penari perut. Namun, kemudian saya menemukan bahwa awal 90-an pakaian muslim justru dilarang di sekolah negeri (sekarang ketidakadilan ini sudah dikoreksi). Lantas, adegan di atas saya ganti dengan Julita mengenakan pakaian ala seniman ketika anak-anak perempuan sekadar bercantik-cantik pada hari Kartini.

2) Saya semakin yakin mungkin sekali Julita diancam dikeluarkan karena karyanya membuat pihak sekolah tidak nyaman. Saya menemukan tahun 1992 seorang periset menemukan sekian persen remaja sudah berhubungan seksual di Bengkulu, lalu periset tersebut dituduh membongkar aib dan diberi sanksi. Lalu ada juga kejadian beberapa pelajar berdemonstrasi menentang keputusan sekolah yang mengeluarkan teman mereka, tapi para pelajar yang berdemonstrasi itu kemudian juga dikeluarkan. Data ini memperkuat dugaan saya bahwa sulit bagi generasi Rizky dan Julita untuk belajar berdemokrasi dan berdialog, sebab mereka menemui tirani di mana-mana; mereka dididik untuk jadi penurut, tanpa rasa kritis.

3) Riset tentang situasi visa tahun 2005-07 menentukan berapa lama Julita dapat tinggal di Eropa.

4) Ada satu data yang sengaja disalahkan, yaitu sebuah peristiwa yang terjadi Oktober di Bandung saya pindahkan ke Juni di Bogor untuk keperluan plot.

5) Kolom “Indonesiana” di Tempo tahun ’90-an menginspirasi beberapa pucuk surat Rizky dan Julita. Entah kenapa ketika itu standard pelaporan majalah itu turun drastis dalam kolom “Indonesiana” ini – majalah seolah tidak melihat kekejaman yang dilakukan terhadap korban-korban yang kisahnya mereka laporkan dengan nada yang ringan dan ilustrasi yang mengejek. Untungnya sekarang kolom ini sudah tidak ada lagi. Dilaporkan dalam kolom itu, seorang pria dan wanita diarak bugil karena dicurigai berzinah; sepasang lesbian diseret keluar oleh warga yang kalap dan diperintahkan untuk mengulangi percintaan mereka di depan umum; seorang perempuan yang menjalani hidupnya sebagai laki-laki dikeroyok hingga meninggal; seorang gadis dipergoki enam orang cowok ketika bercinta dengan pacarnya, keenam cowok itu mengancam akan memberitahu ayah si cewek, kecuali ia setuju tidur dengan mereka berenam. Si cewek terpaksa melakukannya. Kemudian ia hamil, dan bercerita sendiri kepada ayahnya apa yang terjadi kepadanya. Ayahnya hanya meminta salah satu dari tujuh cowok tadi agar menikahi si cewek dan membayar biaya persalinan.

Dari sini saya melihat besarnya pencapaian Julita: ia bukan seseorang yang akan membiarkan hal seperti itu terjadi padanya. Ia tidak akan mau sekadar dinikahkan dengan orang yang memerkosanya; ia akan melawan seandainya hendak diarak tanpa busana; ia akan menyeret semua orang itu ke penjara. Perspektif ini mengukuhkan niat saya untuk menulis tentang Julita.

T: Seberapa banyak tulisan Mbak berasal dari pengalaman pribadi?

J: Saya berusaha memberikan sebagian diri saya pada tiap tokoh, tiap cerita. Cerita dapat tumbuh dari sebuah anekdot, ide, atau pengalaman. Namun, pengalaman itu hanya sebuah benih, dan cerita yang muncul adalah sebuah pohon yang tumbuh dari benih itu. Persamaan tokoh dengan diri saya, cerita dengan hidup saya, berhenti di situ—setelah cerita tumbuh, dahan dan rantingnya berbeda dengan dahan dan ranting hidup saya.

Bayangkan kehidupan bagai orang berlari, pada suatu jarak di hadapannya melintang garis inspirasi. Pada garis itu banyak hinggap merpati—merekalah merpati-merpati kebisajadian. Suatu ketika sang pelari menapak garis inspirasi, dan merpati-merpati itu terbang melesat. Fiksi mengikuti salah satu merpati itu, tidak lagi mengikuti si pelari.

Bagi saya kehidupan lebih sering meniru tulisan, daripada tulisan meniru kehidupan. Saya mendapat ide untuk suatu tokoh atau adegan, lalu saya meminjamnya untuk kehidupan saya: ikut membuat Kotak Karya Belum Selesai, misalnya. Namun, karena buku ini keluar lama setelah saya mencoba melakukan hal-hal seperti tokoh-tokoh saya, barangkali kelihatan tulisan yang meniru kehidupan, padahal justru sebaliknya.

T: Menurut saya tulisan Mbak termasuk vulgar. Apa pendapat Mbak tentang moralitas dalam tulisan?

Sebelum kita bicara moralitas, pertama kita mesti menjamin kebebasan individu. Saya setuju dengan Laclos yang mengatakan, “Tak ada moralitas tanpa kebebasan…”, sebab jika kita sekadar mematuhi peraturan atau norma karena takut, bukan karena memilih secara sadar, maka itu hanya kepatuhan. Itu belum tentu moral yang baik.

Mengapa anda ingin jadi orang yang bermoral? Agar masuk surga? Bukankah itu alasan yang egois? Mengapa anda ingin orang lain juga bermoral? Untuk mewujudkan masyarakat yang bermoral? Apa itu artinya? Masyarakat yang saling menghormati dan menghargai? Mulailah dengan menghargai pilihan orang lain. Atau anda ingin mewujudkan masyarakat yang diberkahi Tuhan? Saya menemukan sekadar menuruti perintah dan peraturan tidak membawa saya lebih dekat dengan Tuhan. Sebab seringkali hidup ini lebih rumit daripada apa yang dibolehkan atau dilarang agama.

Ketika orang membicarakan moralitas, biasanya lingkupnya sempit sekali, hanya seputar seks. Padahal, moralitas itu cakupannya sangat luas: kemampuan kita menghormati orang lain, mempertahankan kejujuran, bersikap adil dan ksatria, dsb.

Menghormati privasi seseorang adalah tindakan yang sangat bermoral, karena itu berarti kita menghormati hak seseorang untuk memilih dan bertanggung jawab atas kehidupan pribadinya. Tengok saja sejarah dan sekeliling—negeri di mana kehidupan pribadi senantiasa dimonitor dan dihakimi bukan negeri yang aman dan nyaman.

Saya tidak setuju sebuah karya harus memprovokasi hanya demi memprovokasi, apalagi hanya demi mengejar sensasi. Saya rasa, konyol menghadirkan seksualitas hanya demi provokasi, apalagi sensasi, sebab dengan begitu karya akan menjadi dangkal, dan daya tariknya takkan lama hidup. Oleh karena itu, saya ingin karya-karya Julita yang paling provokatif sekalipun juga mencakup pencarian yang rumit—saya memikirkan dengan hati-hati tiap proyek fotografinya: Ritual dan Realita, Us + Them, Potret Cinta: Potret Diri.

Jika anda ingin menuduh buku saya tidak bermoral, jangan lakukan atas dasar unsur seksualitas, tapi atas dasar penulis membeberkan surat-surat pribadi tokoh-tokoh novel. Seandainya mereka manusia sungguhan, itu jelas termasuk pelanggaran privasi, dan saya bersalah secara moral.

Alasan saya hanyalah: karena orang-orang seperti Rizky dan Julita sering salah dimengerti (sering dianggap murahan, kecanduan, depresi, hampa jiwanya, malas, bodoh, materalistis…), penting bagi pembaca untuk mendapat gambaran tentang kepribadian mereka dari kata-kata mereka sendiri. Maka saya memilih untuk membeberkan surat-surat mereka. Saya bersalah melanggar privasi tokoh-tokoh ini—untungnya mereka hanya rekaan. Saya tak ingin pembaca melupakan mereka pun turut berpartisipasi dalam tindakan yang melanggar privasi. Saya tak ingin pembaca melupakan skandal perbuatan mereka, maka dalam salah satu suratnya Rizky menyampaikan kutukan pada siapa saja yang berani melanggar rahasia mereka. ;)

T: Mengapa memilih menghadirkan satu tokoh laki-laki dan satu tokoh perempuan?

Hanya karena Julita perempuan dan Rizky laki-laki ternyata, dalam masyarakat Indonesia, menuntun mereka ke jalan yang amat berbeda. Seraya karakter mereka berkembang saya melihat Rizky lebih seperti Casanova dan Julita seperti Don Juan. Pada akhirnya Don Juan adalah pencinta kebebasan dan Casanova pencinta perempuan. Dalam petualangannya Don Juan lebih terhantui oleh pertanyaaan-pertanyaan moral, agama, dan tradisi, sementara Casanova memiliki sifat yang ringan, mengandalkan hoki, dan pemikirannya penuh permainan. Don Juan merencanakan petualangan-petualangannya untuk menentang Tuhan dan moralitas, sementara Casanova berkelana ke mana keberuntungan membawanya.

Bagi Rizky, tidur dengan kekasihnya adalah bagian dari upaya mengenal perempuan itu. Sementara, Julita mencari pembebasan, Julita sering tidur dengan pasangannya untuk membuktikan sesuatu. Julita merencanakan pengalaman seksua; pertamanya untuk memutuskan diri dari masyarakat yang dianggapnya munafik. Pengalaman seksual Rizky yang pertama terjadi dengan lebih lumrah, yaitu ketika ia mabuk di sebuah pesta. Pendekatan Rizky akan perbuatannya ini pun lebih ringan: ia tidak berusaha membuktikan sesuatu, ia hanya ingin mengenal kekasih-kekasihnya luar-dalam. Lain halnya dengan Julita, ia berpendapat lebih penting bagi perempuan untuk tidak tampak sepakat dengan kebiasaan dan norma, sebab kebiasaan dan norma itulah yang membatasi mereka.

Menjadi perempuan di Indonesia, begitu banyak jalan yang sepertinya menawarkan kebebasan, tapi juga berupa perangkap. Menuntut kebebasan seksual bisa justru dianggap merendahkan martabat perempuan, bisa menjerumuskan kita sehingga dimanfaatkan orang atau dieksploitasi industri komersil, seperti industri busana atau industri seks. Perempuan macam Julita mesti jadi pintar berlapis-lapis, dan ia (kita) tidak selalu mampu begitu. Jebakan itu ada bagi semua orang—misalnya kita ingin melepaskan diri dari tekanan moralitas palsu, apakah kita yakin kita juga bisa bebas dari daya-daya di luar diri, misalnya dari cengkeraman nafsu (sehingga kita menghamba kepada hasrat, bukan mengatur hasrat kita)?

T: Mengapa sih tidak ingin bicara tentang buku yang anda tulis ketika remaja?

J: Saya merasa buku itu terbit bukan karena upaya saya sendiri, lebih banyak karena bantuan seorang sastrawan senior. Kali ini saya ingin lihat mampukah saya menjadi penulis yang diterbitkan berkat usaha sendiri. Saya berterima kasih kepada sastrawan tersebut atas perhatiannya pada karya saya—berkat penerbitan novel itu saya mendapat beasiswa kuliah di Amerika, berkenalan dengan penulis-penulis dunia, berkesempatan bekerja di DKJ, dsb. Semua pengalaman itu menjadikan diri saya yang sekarang.

Namun, saya rasa karya saya itu tidak sepenuhnya milik saya. Pertama, masalah sensor, karena ketidaksamaan visi antara penerbit, editor, dan penulis, dan pemaksaan kehendak dan moralitas penerbit dan editor (termasuk sastrawan tadi) terhadap integritas karya penulis. Penerbit dengan jelas mengatakan ingin mempersembahkan fiksi ilmiah yang Islami; majalah sastra aushan sastrawan tadi mengilustrasi cerita saya dengan perempuan yang mengenakan jilbab. Mereka ingin Elly dan Yudho—dan Eliza sebagai penulisnya—menjadi tokoh panutan yang baik bagi remaja-remaja lain: tidak merokok, tidak minum, tidak bersentuhan dengan lawan jenis. Padahal bagi saya lebih penting menampilkan potret remaja yang realistis, dalam hal ini dua tokoh yang tangguh dan berpikiran mandiri, tetapi tetap punya kelemahan sebagaimana remaja lumrahnya. Ketika ketakutan, mereka berpelukan; ketika butuh merasakan kehadiran teman, mereka berpegangan tangan—bukan karena tidak bermoral, tapi karena itu wajar bagi remaja seperti mereka.

Nah, karena masalah sensor ini, saya merasa buku itu gagal menyajikan tokoh yang realistis. Saya pun gerah selalu ditampilkan sebagai “penulis baik-baik”. Saya tidak setuju dengan penulis yang asal menulis tentang seks supaya bukunya laris—tapi jika adegan itu mengungkap sesuatu tentang tokoh atau cerita, atau mengangkat tema yang penting, maka mengapa tidak? Penulis harus melakukan yang terbaik demi cerita.

Selain itu, ada juga kekecewaan pribadi akan kemampuan kepenulisan saya ketika itu. Terutama runtutan peristiwa di awal buku yang sampai sekarang membuat saya malu merinding ketika mengingatnya.

Karena alasan-alasan di atas, saya menjauhkan diri dari buku pertama. Saya memutuskan untuk menjadi penulis dengan upaya sendiri, tidak dalam bayang-bayang penulis lain yang lebih senior—apalagi yang mengharapkan saya jadi ini dan bukan itu sesuai pandangan mereka. Saya tidak butuh ayah-ayah baru.

Bagi yang tertarik, saya sudah menulis panjang lebar tentang masalah ini dalam esai saya “Di Antara Bahasa-bahasa & Dunia-dunia”. Terima kasih!

SUMBER:

http://elizavitri.com/2014/02/14/bandung2014/

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>