Menulis Puisi, Bermain dengan Kata

Oleh Ahmadun Yosi Herfanda, penyair

PROLOG | Istilah puisi, dalam sastra Indonesia, diadopsi dari bahasa Ingris, poetry. Kata poetry ini juga diadopsi dari bahasa Yunani, poet. Dalam bahasa Yunani, kata poet mempunyai arti orang yang mencipta (karya sastra) melalui imajinasinya. Dalam bahasa Indonesia, poet diterjemahkan sebagai penyair, atau orang yang membuat syair atau tepatnya membuat puisi. Dalam kesusasteraan Indonesia, puisi juga disebut sajak. Kata sajak sendiri berarti persamaan bunyi atau rima. Puisi juga disebut sajak, karena ragam sastra ini pada awalnya sangat memperhatikan persamaan bunyi atau rima pada akhir tiap barisnya.

Puisi berbeda dengan prosa. Puisi adalah karangan yang terikat oleh aturan bentuk tententu, seperti pembarisan, pembaitan, persajakan (rima), dan irama (ritme) yang secara bersama-sama atau sebagian menjadi metode untuk membentuk keindahan puisi sebagai seni bahasa. Sedangkan prosa adalah karangan bebas, yang memiliki metode yang berbeda, tergantung pada jenis prosanya. Misalnya, prosa yang berupa esei akan memiliki karakter dan tujuan penulisan yang berbeda dengan cerpen dan novel.

Salah satu pendekatan yang sangat membedakan antara puisi dan prosa, menurut Subagio Sastrowardoyo, adalah bahwa puisi mengintisarikan pengalaman, pikiran dan perasaan penulisnya — ke dalam baris-baris kalimat yang pendek, ringkas, dan ditandai dengan citraan-citraan yang indah dan bermakna. Sedangkan prosa adalah sebaliknya, menguraikan pengalaman, pikiran dan perasaan penulisnya — ke dalam alinea-alinea yang membentuk karangan.

Pada awalnya, pada masa puisi lama sampai masa Pujangga Baru, puisi atau sajak dikenal sebagai ragam sastra yang sangat memperhatikan bentuk, yakni terdiri dari bari-baris yang membentuk bait-bait, dan jumlah baris tiap bait bersifat tetap dengan pedoman persamaan bunyi (rima) tertentu yang bersifat ketat. Untuk gurindam, misalnya, tiap bait terdiri dari dua baris dengan persajakan aa atau ab. Untuk syair tiap bait empat baris dengan rima aaaa. Sedangkan untuk pantum tiap bait empat baris dengan rima aaaa, abab, abba, atau aabb.

Pada perkembangan berikutnya, puisi (Indonesia modern) tidak lagi terikat oleh aturan atau konvensi di atas. Perkembangan baru yang dipengaruhi oleh sastra Barat (Eropa) ini tanda-tandanya sudah dimulai sejak masa Angkatan Pujangga Baru, misalnya pada sajak-sajak J.E. Tatengkeng dan Amir Hamzah. Pada masa Angkatan 45, bentuk puisi makin bebas lagi, seperti tampat pada karya-karya Chairil Anwar, dan terus berlanjut hingga sekarang. Puisi ditulis dengan bebas dan beragam, namun tetap indah, karena merupakan seni bahasa.

Untuk membedakannya dengan prosa, ciri-ciri utama puisi masih banyak dipertahankan. Yakni, terdiri dari baris-baris pendek yang membentuk bait-bait. Jadi, sampai sekarang pun banyak penyair yang masih memperhatikan apa yang disebut tipografi atau bentuk luar puisi (yang terdiri dari baris-baris yang membentuk bait-bait) itu, meskipun sering dengan teknik pembaitan yang berbeda. Misalnya, tidak lagi dengan memberi spasi tiap ganti bait, tapi dengan kata pertama yang diketik menjorok ke pinggir atau masuk ke tengah. Sedangkan masalah persajakan atau rima tidak diikuti secara ketat lagi, tapi secara luwes sesuai kebutuhan.

Agar dalam semangat kebebasan berekspresi itu puisi tetap terasa indah, para penyair umumnya lebih mengandalkan pencitraan, atau penggambaran secara indah, dan tetap mempertahankan irama atau ritme. Di dalam khasanah sastra Barat, puisi pun tetap mempertahankan dua unsur pembentuk keindahan puisi itu. Hal itu sesuai dengan kata-kata penyair Inggris, Edgar Allan Poe, bahwa puisi adalah kata-kata yang disusun secara indah, berirama dan bermakna.

Coba perhatikan cuplikan bait-bait puisi yang ditulis dalam semangat kebebasan berikut ini:

Ini kali tiada yang mencari cinta

di antara gudang, rumah tua, pada cerita

tiang serta temali. Kapal, perahu tiada melaut

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang

menyinggung muram, desir hari lari berenang

menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak

dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

(Bait 1-2 sajak “Senja di Pelabuhan Kecil” karya Chairil Anwar)

Ada burung dua, jantan dan betina

hinggap di dahan

Ada daun dua, tidak jantan tidak betina

gugur di dahan

Ada angin dan kapuk, dua dua sudah tua

pergi ke selatan

Ada burung, daun, kapuk, angin, dan mungkin juga debu

mengendap dalam nyanyiku

(Sajak “Stanza” karya WS Rendra)

kalau aku merantau lalu datang musim kemarau

sumur-sumur kering, dedaunan pun gugur bersama reranting

hanya mataair airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau

sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku

di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan

lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

(Bait 1-2 sajak “Ibu” karya D Zawawi Imron)

Pada kutipan-kutipan sajak di atas terlihat bagaimana para penyair tetap berusaha menulis puisi sebagai ‘seni bahasa’ yang indah dan puitis. Antara lain, dengan memperhatikan ritme (irama, musikalitas) dan rima (persajakan), meskipun tidak seketat aturan puisi lama (pantun dan syair). Irama dibangun dengan pengulangan bunyi yang sama di tengah baris-baris sajak, atau pengaturan jumlah kelompok kata (frase) pada tiap baris sajak. Sedangkan rima dibangun dengan sebisa mungkin menyamakan atau mengulang bunyi yang sama pada akhir baris, meskipun tidak sama persis.

BERSAMBUNG….

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>