Merenungkan Kembali Pilihan Hidup

OLEH: Komang Ayu Kumara | @mandewi

Yama terlihat seperti seorang calon suami idaman, seorang dokter anak yang sedang menanjak kariernya. Too good to be true. Bahkan terasa terlalu sempurna bagi Kay. Kenyataan itu membuat Kay merinding. Dan entah kenapa, dia juga merasa bimbang.

Ketika akhirnya kebimbangan Kay pupus, dan ia begitu yakin Yama akan membawanya ke rumah hangat yang diimpikannya, Kay dihadapkan pada kenyataan yang sangat mengejutkan tentang Yama. Dendam masa kecil membuat laki-laki itu menjelma menjadi monster. Kay merasa hari-harinya dipayungi awan gelap yang tidak pernah berakhir. Betapa inginnya ia menemukan udara segar yang bisa mengembalikan hidupnya. Mungkinkah Sunu, laki-laki beraroma segar tetumbuhan, bisa menyelamatkannya?

*

Jas Putih bercerita tentang Kay dan Yama. Bagaimana mereka berpacaran hingga Yama akhirnya memutuskan bahwa Kay adalah calon istri yang tepat baginya. Sudah berkali-kali Yama mengajak Kay menikah, tetapi jawaban Kay selalu kebisuan. Kay tidak menjawab iya atau tidak. Ia mencintai Yama tetapi ada setitik keraguan dalam hatinya yang membuat Kay tidak kunjung mengiyakan ajakan laki-laki itu untuk menikah.

Hingga akhirnya, Yama yang seorang dokter terkenal, terjerumus dalam emosi sesaat. Akibatnya ia terpuruk dan frustasi. Karena kegagalannya mengontrol emosi tersebut jugalah, Kay memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.

Meskipun seharusnya Kay berbahagia karena ia tidak jadi menikahi Yama yang ternyata tak sebaik sangkaannya, sebagai seorang perempuan tetap saja Kay merasa kecewa dan berduka hati. Hingga ia memilih untuk menyepi di Bali bersama sahabatnya, Melly. Dengan harapan, sunyi alam pedesaan bisa mengembalikan gairah hidup Kay yang sempat jatuh. Di tempat sunyi tersebut, mereka mengenal Sunu, seorang pemuda desa yang lebih memilih untuk menjadi petani daripada bekerja kantoran dan menghasilkan banyak uang. Dari Sunu, Kay belajar banyak hal, terutama tentang pilihan-pilihan dalam hidup.

*

Barangkali kita tak pernah mengenal orang lain dengan baik. Bahkan untuk mengenal diri sendiri, kita harus melalui banyak hal. Seumur hidup rasanya tak cukup untuk mengetahui apa isi kepala kita sendiri. Begitu juga dengan Kay. Lima tahun berpacaran dengan Yama, tak serta merta membuat Kay mengenal kekasihnya luar dalam. Bahkan dalam beberapa kesempatan, sahabatnya Melly kerap mengingatkan bahwa ada sesuatu yang salah dalam diri Yama, dan peringatan tersebut tidak digubris oleh Kay, hingga akhirnya ia mengalami sendiri sesuatu-yang-salah tersebut, dan hal itu menjadi dasar bagi Kay untuk memutuskan apakah ia akan menerima pinangan Yama atau tidak.

Ketika pertama kali mengetahui novel ini, yang menarik perhatian saya adalah nama penulisnya. Ni Komang Ariani. Bali banget. *salaman* :D Dan hal tersebut membuat keinginan saya untuk membaca Jas Putih, semakin besar (harapan terhadap buku ini juga semakin besar). Nama penulisnya sendiri lebih dahulu saya ketahui dari jualbukusastra.com. Ada beberapa buku karya beliau yang dijual di sana, dan sudah lama ingin saya miliki (akhirnya kesampaian dengan membeli langsung dari penulisnya!). Terlebih lagi, semua buku yang dijual di jualbukusastra.com, rasanya bisa menjadi referensi buku-buku wajib-baca.

Dari semua karya beliau, saya putuskan untuk membaca yang terbaru.

Harapan saya tercapai. Yang menyenangkan dari novel Jas Putih ini adalah gaya tulisan yang sederhana tapi (meninggalkan kesan yang) dalam. Gaya tulisan seperti ini rasanya khas majalah Femina karena dulunya novel ini pernah dimuat sebagai cerita bersambung di majalah tersebut. Tokoh-tokohnya juga menarik. Karakternya kuat terutama Yama, Melly dan Sunu. Kuat, maksudnya menonjol, ya. Yama dengan semangatnya untuk mengubah hidup dari miskin ke banyak harta. Melly yang realistis mengenai kelanjutan hidupnya setelah berpisah dari sang suami, dan Sunu yang down to earth. Justru Kay yang tampak datar. Bisa dimaklumi, karena Kay adalah tokoh yang mengalami masalah, jadi pembawaannya rada mellow.

Tidak ada tokoh yang too good to be true. Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan itu membuat mereka tampak lebih nyata.

Hal menyenangkan lainnya dari novel ini adalah sebagian cerita berlatar tempat di Bali. Selain menjadi ajang untuk ‘pulang’, saya juga jadi tahu ada desa bernama Puhe. Puhe adalah desa tempat Kay dan Melly menyepi. Dari ceritanya, sih, Puhe bagus juga untuk dijadikan tempat tinggal bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana Bali yang jauh dari hingar bingar Kuta, Nusa Dua juga Ubud, meskipun Puhe terletak sekitar lima kilometer dari Ubud.

Satu pertanyaan saya untuk Jas Putih: ada proofreader-nya atau tidak, ya? Karena banyak sekali terdapat kelebihan kata yang, ketika proses proofreading, seharusnya dicoret dan diperbaiki sebelum novel naik cetak. Tidak menganggu isi cerita, sih, cuma agak menganggu kenyamanan membaca.

Secara keseluruhan, Jas Putih termasuk novel yang wajib dibaca. Banyak hal yang menarik untuk direnungkan, khususnya sebelum mengambil keputusan terkait pekerjaan, harta, cinta, juga pernikahan. Hal-hal yang lekat di banyak orang.

4/5 bintang untuk Jas Putih, dan tentu saja akan membaca karya Ni Komang Ariani yang lain.[*]

Judul: Jas Putih
Penulis: Ni Komang Ariani
Penerbit: Elexmedia Komputindo
Tahun terbit: November, 2014
Jumlah Halaman: 232
ISBN: 9786020251882

=============
CATATAN:
TUlisan ini dikutip dari blog sebelumprolog.wordpress.com dengan judul asli “Merenungkan Kembali Kesungguhan Menjalankan Profesi”.

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>