Puisi-Puisi Wiji Thukul

Kini nama Wiji Tukul kembali dibicarakan. Ia mendapat penghargaan dari Timor Leste, Rabu, 16 Maret 2016 lalu. “Thukul mendapat penghargaan karena bersama PRD mendukiung kemerdekaan Timor-Leste dan Jaker (Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat), terlibat dalam pembentukan solidaritas perjuangan Maubere(SPRIM),” kata adik Wiji Thukul, Wahyu Susilo. Baca berita: Wiji Thukul Dapat Penghargaan dari Timor Leste.




Wiji Thukul bernama asli Widji Widodo. Ia lahit di Surakarta, Jawa Tengah, pada 26 Agustus 1963. Ia dikenal sebagai aktivis buruh sekaligus penyair yang sajak-sajak yang bikin kuping Orde Baru merah. Aktivis Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jakker) & Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini giat melawan penindasan rezim Orde Baru. Berikut beberapa puisinya yang kami kutip dari buklet yang diterbitkan majalah Tempo edisi 13-19 Mei 2013.

PARA JENDRAL MARAH-MARAH

Pagi itu kemarahannya disiarkan
oleh televisi. Tapi aku tidur. Istriku
yang menonton. Istriku kaget. Sebab
seorang letnan jendral menyeret-nyeret
namaku. Dengan tergopoh-gopoh
selimutku ditarik-tariknya, Dengan
mata masih lengket aku bertanya:
mengapa? Hanya beberapa patah kata
ke luar dari mulutnya: ”Namamu di
televisi …..” Kalimat itu terus dia ulang
seperti otomatis.

Aku tidur lagi dan ketika bangun
wajah jendral itu sudah lenyap dari
televisi. Karena acara sudah diganti.

Aku lalu mandi. Aku hanya ganti baju.
Celananya tidak. Aku memang lebih
sering ganti baju ketimbang celana.

Setelah menjemur handuk aku ke
dapur. Seperti biasa mertuaku yang
setahun lalu ditinggal mati suaminya
itu, telah meletakkan gelas berisi teh
manis. Seperti biasanya ia meletakkan
di sudut meja kayu panjang itu, dalam
posisi yang gampang diambil.Istriku
sudah mandi pula. Ketika berpapasan
denganku kembali kalimat itu
meluncur.

”Namamu di televisi….” ternyata istriku
jauh lebih cepat mengendus bagaimana
kekejaman kemanusiaan itu dari pada
aku.

WANI, BAPAKMU HARUS PERGI

Wani,
bapakmu harus pergi
kalau teman-temanmu tanya
kenapa bapakmu dicari-cari polisi
jawab saja:
”karena bapakku orang berani”

kalau nanti ibu didatangi polisi lagi
menangislah sekuatmu
biar tetangga kanan kiri datang
dan mengira ada pencuri
masuk rumah kita

KEKUASAAN YANG SEWENANG-WENANG

kekuasaan yang sewenang-wenang
membuat rakyat selalu berjaga-jaga
dan tak bisa tidur tenang

sampai mereka sendiri lupa
batas usianya tiba

dan dalam diamnya
rakyat ternyata bekerja
menyiapkan liang kuburnya

lalu mereka bersorak
ini kami siapkan untukmu tiran!
penguasa yang lalim
ketika mati tak ditangisi rakyatnya

sungguh memilukan
kematian yang disyukuri dengan
tepuk tangan




HABIS CEMASKU

habis cemasku
kau gilas
habis takutku
kau tindas

kini padaku tinggal tenaga
mendidih!

segala telah kau rampas
kau paksa aku tetap bodoh
miskin dan nelan ampas

kini padaku tinggal tenaga
mengepal-ngepal
di jalan-jalan

habis cemasku
kau gilas
habis takutku
kau tindas
aku masih tetap waras!

JAKARTA SIMPANG SIUR

Jakarta simpang siur
ormas-ormas tiarap
tiap dengar berita
pasti ada aktivis ditangkap

telepon-telepon disadap
koran-koran disumbat
rakyat was-was dan pengap
diam-diam orang cari informasi

dari radio luar negeri
jangan percaya

pada berita mass media cetak
dan elektronika asing!
Penguasa berteriak-teriak setiap hari
Nasionalismenya mirip Nazi

*****



Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>