Ling

CERPEN: Hasan Jhoniy | jonyzero.jz@gmail.com.

Hening,
suara jangkrik sesekali menyelingi riuh cinta yang berdengung,
Ling.
Namamu mendidih mengucur dari bibir yang telah basah mentasbihkan mu.
Sebenarnya malam yang indah, ada lampu-lampu menyala, bintang-bintang berkerdipan, namun cahaya dari binar matamu dalam rak ingatan menjadikan penglihatan silau, tak ada warna selain bias cahaya, semakin menyinar sehingga buta bukan hanya mensifati yang tak bermata saja.
Ling. Ling. Ling. Berdenting, Seperti bola bekel dari baja, memantul-mantuli dinding hati. Keangkuhan gravitasi empat sisinya menyiluetkan kamu yang anggun. Hanya tak seperti biasanya, malam sekarang tak mampu merengkuh. Lunglai, sarat mengandung rindu yang telah memakan waktu setengah windu. Sementara kamu gadis mungil yang menjatuhkan nama cintaku, Ling, terus memunggungi menembus rantaian hari, bulan, dan tahun. Mataku menangkap dewasamu mungil dijarak yang tak berangka. Namamu yang dibiarkan tinggal bertumpuk masa, terkubur di tanah hati yang kala subur. Akar yang menghujam, batang yag menjulang, daun yang merindang, memancangkan aku menjadi perawat pohon cinta. Berbuah rindu. Bernama Ling.
Ketika musim gugur, meluruh dedaunan berwarna merah berkuning masak itu, menjadi permadani yang menghampari hati, elok. Buahnya berjatuhan, Ling. Ling. Ling. Memantul-mantuli kemudian bergulir dan berhenti. Buah pohon ling berbentuk agak lonjong seperti buah apel, berwarna merah, sangat manis dan mengandung banyak endhorfin. Euforia darah dan otakku. Semilir angin terkadang menimpa ranting pohon, beradu dan menghasilkan sebuah bunyi yang berdenging “Linggggggggggggggggggg”. Ku kata-katakan kepada para pengunjung dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami dan dirasakan. Mereka hanya mengangguk, karena merekapun sebenarnya memiliki pohon-pohon sejenis pohon Ling. Tetapi kamu, sudah sangat tak perduli, Ling.
Ribuan surat rindu yang kukirimkan tak kunjung jua mengundang balasan. Disamping semua itu, tidak lain aku hanya ingin sekedar kamu memberi tahu mengapa kamu melucuti nama cinta pemberianku, Ling. Setiap buah pohon Ling yang jatuh, kulit dan daging buahnya dengan sendirinya merembes ke tanah hatiku, sementara biji-biji alitnya menjadi benih pohon Ling yang baru. Setiap candu yang membawakan halusinasi tentangmu, mempercepat pohon ling tumbuh. Hatiku telah menjadi hutan pohon Ling. Apakah aku butuh terapi? rasanya sia-sia terus seperti ini, aku akan tidak tahan lagi menanggung beban dari nama cintaku, Ling. Berjatuhan seperti hujan, Ling. Ling. Ling. Menjadi irama padat setiap detik jam.
Teman-temanku memberikan saran untuk membakarnya, ada juga yang menyarankan untuk menumbangkan seperti yang mereka lakukan. Lalu akarnya? Dengan cara yang mana aku dapat mencabut pohon-pohon ling sampai ke akar-akarnya? Puisi, ya aku harus mencoba memenjarakan hutan Ling kedalam puisi.
Puisi
Lingnggggggggggggggggggggg
ggggggggggggggggggggggggggg
ggggggggggggggggggggggggggg
ggggggggggggggggggggggggggg
ggggggggggggggggggggggggggg
…………………………………………………………………..

Ah, puas. Tak terasa sudah dini hari ternyata, tubuhku merasa lelah, tenagaku terkuras, dan mataku yang mulai berat sudah bisa melihat benda-benda disekelilingnya lagi, perasaanku mulai tenang, aku merasakan sedikit sembuh, kemudian lenyap dalam lelap.
Setahun kemudian,
Mengejutkan, setelah ratusan hari berlalu, dengan busana masa lalu, kamu sematkan lagi nama cintaku, Ling. Segombang kenangan menghentakanku dalam peraduan. Dalam ruangan yang gelap, pandanganku menusuk langit-langit, jantungku berdegup kencang, bagaimana kabarmu? setelah sekian lama cukup tentram, setiba-tiba ini kamu mendakwa. Pukul tiga dini hari, dibawah lampu yang menyala, usaha untuk mendapatkanmu di rimba akalku buntu. Senyap berdenging “ngggggggggggggggggg” mengingatkan aku pada kata yang mengkerangkeng nama cintaku, Ling. Ya, puisi. Setelah kurang lebih setengah jam, aku menemukannya terselip disebuah buku yang terjepit diantara tumpukan buku-buku.
Bioma makna hutan Ling yang merembes lewat kata kedalam secarik kertas yang mulai menua, meminta dipertanggung jawabkan, aku kebingungan malah kata Ling menderaku seperti menertawakan, Ling. Ling. Ling. sampai cahaya matahari menampar wajahku. Aku yakin, kamu telah tumbuh menjadi seorang gadis yang semakin anggun, mata sipitmu akan semakin dipadati rahasia dalam menyiratkan makna. Namun, kamu bukanlah kamu pemilik nama cintaku, aku bermaksud menemui kamu saat sebagai Ling, agar aku bisa memaknai puisiku. Ke segenap arah aku membantingkan daya, berdentum. Ling. Ling. Ling. Semuanya mengantarkan aku pada batasku. Hutan Ling sudah sangat merimbuni dunia ini, sementara setiap pohon terus menjatuhkan puluhan buahnya, Aku menjadi seorang yang merugi bila hanya sekedar kamu yang menjadi makna.
Ling adalah aksara pahatan dinding lembab,
Prasasti guiren kalingga yang dibuang merayap.
Ling menanggalkan sinestesia, tanpa kata.
Menyawa rasa, lembut penuh cinta.
Kini Ling menjadi bunyi yang tak bisa dilafalkan mengenakan huruf, huruf yang menyatu kata tidak lagi menunjukan makna hakiki. Tapi aku merasakan kedamaian, seperti ada keterhubungan dengan perihal gaib yang aku sendiri tidak mengerti “Mumpung masih untung, ku tak sudi kau mampus lagi” renungku menyimpulkan. Ada Tuhan yang Maha penyayang yang tidak pernah tidak menyaksikan. Kekinian seakan Ling menjadi bunyi bahasa cinta, selalu bergemerincing, Ling. Ling. Ling. Memanggil-manggil mengajak aku untuk mengenalNya.
Ditahun yang sama, hujan turun sangat lebat. Cetar petir mencambuk, menggema “Lingngggggggggggggggg” membelah kegelapan yang menyelimuti langit, kematian hanya terhalang sehelai tabir yang kapan saja ia karep menyingkapnya, seketika aku binasa “Mumpung masih untung, ku tak sudi kau mati rugi” renungku memutuskan. Tanpa payung aku keluar menuju sebuah surau, disana selalu ada seorang tua yang aku rasa bisa membantu merehabilitasi kejiwaanku. Butiran hujan berwarna gelap menancapi sekujur tubuh, Ling. Ling. Ling. Menjadi lautan makna yang aku renangi hingga akhirnya sampai didepan sebuah pintu yang kedua mata tajam seseorang didalamnya menyambutku.
Orang tua itu memintaku untuk masuk, menyuruhku duduk, sangat dekat, dengkulnya menempel dengan dengkulku, kedua tangannya bertumpu pada kedua pahaku, pandangan matanya mendalami, kemudian dengan penuh muruah ia bertanya
“Nak, ada apa denganmu, mengapa sepotong daun silam?”
Jidatku mengkrenyit, seolah ia tahu betul apa yang terjadi, namun aku heran mangapa hampa memaku, kemudian orang tua itu melanjutkan,
“Didunia ini sebenarnya kita sama-sama tidak tahu menahu. Kita hidup dari apa yang kita yakini, Apabila engkau bertanya, dari mana asal apa yang saya yakini? saya akan menjawab, saya berkeyakinan atas apa yang di sampaikan Rasul, dari para Sahabat yang sebagai penyaksi, dari Tabi’in yang sebagai penyaksi, dari Tabi’ Tabi’in yang sebagai penyaksi, dari Guru-gurunya Guruku yang sebagai penyaksi, dari Guruku yang sebagai penyaksi, kemudian saya menerimanya. Tentu saja, saya tidak sama dengan mereka, karena itu saya banyak tidak tahu untuk mendatangkan berbagai kesaksian, tetapi saya yakin, bahwa hanya belum tahu adanya kebenaran kesaksian yang dapat saya kabarkan, lalu saya diam sambil mencari-cari lewat warisan yang mereka tinggalkan dan sekarang giliran saya. Nak, jika saya bertanya, darimana asal apa yang engkau yakini? sebagaimana engkau tahu kalau saya, bila pun terkadang menerima berbagai kesaksian dari selain mereka atau dari lubuk hati saya sendiri, saya akan benar-benar menyeleksinya sampai menemui kesesesuaian dengan kesaksian-kesaksian para pendahulu saya, karena ini soal keyakinan. Entah, soal ini saya lebih percaya terhadap kesaksian mereka, alasanya karena saya meyakini bahwa mereka adalah sebenar-benarnya penyaksi yang telah rampung memberikan kesaksian-kesaksian yang cukup untuk saya menjalani hidup. Kalau engkau bagaimana jawabannya?”.
Lidahku mematung dan hampa semakin menancapkan. Ada apa ini? orang tua itu seperti hendak membelotkan alur pandangku. Hujan menjadi gerimis, Ling. Ling. Ling. Lirih jatuh kepermukaan. Untuk sesaat suasana berubah sangat tenang. Diantara diam nampak pada mimik orang tua itu kedalaman pandang terhadap puisi yang menawan nama cintaku, Ling.
“Baiklah nak, ikuti saya melafalkan kalimat ini” ucap orang tua itu tiba-tiba.
“Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasuulullah”.
Heran bukan main, mengapa ia mengajarkan itu, kalung mutiara masa kecil berdebu yang tersimpan di kotak kecil pengakuan, tanpa aku tanyakan segera aku ambil dan mengikuti gerak bibir orang tua itu,
“Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasuulullah”.
Debu-debu yang melekat pada kalung mutiara itu sedikit menghilang, bertepatan dengan hujan yang mulai mereda. Orang tua itu meminta agar aku selalu mengkalungkan kalung mutiara tersebut dan mempersilahkanku pulang. Hujan telah benar-benar reda bertepatan dengan bunyi Ling yang menipis. Aku berjalan menuju rumah dengan membawa perasaan yang sangat rumit untuk dikata-katakan, hanya sanggup dalam sekata “ni’mat”.
Sejak saat itu, ku sungguhkan bercermin, pantulannya yang berdialog denganku semakin jujur menyampaikan sesuatu yang memang semestinya. Lambat laun aku mengerti isi dari pengajaran orang tua itu, sangat mendasar. Aku ingin mencintai dengan sederhana seperti yang dititahkan Nabi agar mencintai selain Allah dan RasulNya sederhana-sederhana saja diantara nama cintaku yang terlalu dan kemunafikan. Di tempat yang lain, kamu terus saja memunggungi menembus rantaian hari, bulan dan tahun tanpa memperdulikan ribuan kata maafku.
Kata maaf usang
Maknanya minggat seperti kamu bosan
Mung setiap ku teringat,
Raga maaf menghakimi
Meleburkan aku kedalamnya
Menjadi permohonan ampunku padaNya.
Sejak saat itu, aku lebih sering memutar-mutar kalung mutiara, semakin aku memutarnya semakin mengkilap dan berkilauan. Aku menjadi lebih senang membasahi bibir dengan mentasbihkan Asma dan Nama kekasihNya. Nama cintaku Ling membias, bertapa diruang sebuah kata dan segan untuk mendakwa, karena makna kalung mutiara menyegara tak berbatas.
Hening,
Berdesir bunyi mendenging “nggggggggggggggg”
Cukup lama mendesir menjabarkan kenangan, Ling. Ling. Ling.
Seperti menuntut kembali agar aku memperhatikan.
Makna hutan Ling yang sangat rimbun seiring kalung mutiara mengalung semakin membiaskan kewujudanya, sehingga aku merasa telah kembali benar-benar bermata. Sungguh malam yang indah, ada lampu-lampu menyala, bintang-bintang berkerdipan, namun binar matamu dari rak ingatan kini wajar-wajar saja. Terimakasih, mengenalmu menitikan aku menujuNya. Ketika ini nama cintaku Ling sangat istimewa, karena ia sederhana dan tetap seperti itu adanya untuk selama-lamanya.
Bogor. Maret 2016

Comments

COMMENTS

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>